Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENJADI APAKAH ANAK INI KELAK??? (Yes 49:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga pada umumnya mendatangkan sukacita dan kebahagiaan. Jarang ada keluarga yang sedih ketika seorang bayi dilahirkan terlepas dari normal tidaknya bayi yang dilahirkan itu. Sukacita dan kebahagiaan itu tampak dalam bentuk kunjungan tetangga dan lingkungan sekitar, mangupa-upa (masyarakat Batak Toba), dan yang tak kalah penting adalah pemberian nama kepada bayi yang baru lahir itu. Pemberian nama ini terkadang menjadi sesuatu yang sulit dalam artian banyak pihak yang ingin memberi nama kepada bayi itu; nenek, keluarga besar, orangtua, dan orang-orang lain. Nama yang dipilih biasanya adalah nama yang mempunyai arti tertentu, baik menurut adat setempat maupun dalam arti religius. Maka, tak heran bila untuk orang-orang tertentu, nama bisa menjadi sangat penting sebab namanya membawa suatu harapan atau cita-cita dari yang memberikan nama itu.
Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis seperti diceritakan dalam injil juga mendatangkan sukacita bagi semua orang yang turut hadir dalam peristiwa sukacita itu. Akan tetapi kelahiran St. Yohanes ini tidak seperti kelahiran pada umumnya, bahkan dapat dikatakan aneh. Yohanes lahir ketika Elisabeth dan Zakharia sudah memasuki usia yang cukup tua. Lagi, sejak awal Elisabeth dikatakan mandul dan tak mungkin lagi melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri. Dan pada saat Yohanes lahir, Zakharia tidak dapat berbicara sebagai hukuman atas ketidakpercayaannya terhadap Allah yang menyampaikan kabar sukacita itu kepadanya. Dan yang lebih aneh lagi, nama yang diberikan kepada Yohanes adalah nama yang tidak mengikuti tata aturan keluarga. Nama tersebut sama sekali lain dan bahkan tak dikenal di kalangan keluarga Zakharia. Bahkan keanehan itu berlanjut hingga dia dewasa yang ditunjukkan dengan cara menyendiri di padang gurun sampai tiba saatnya dia harus menampakkan diri kepada bangsa Israel.
Keanehan-keanehan yang terjadi pada saat dan sesudah kelahiran Yohanes, tentu saja mengundang sejuta pertanyaan yang kadang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dan itulah sebabnya tetangga dan keluarga yang turut hadir menyaksikan kelahiran Yohanes bertanya: “Menjadi apakah anak ini kelak?” Pastilah masih banyak lagi pertanyaan yang muncul papda saat itu sebagai reaksi atas keanehan yang terjadi. Bagaimana tidak, seorang wanita yang disebut mandul dapat melahirkan seorang anak justru pada waktu dia sudah tua. Zakharia menjadi bisu dan anak yang baru dilahirkan itu mesti dinamai Yohanes. Akan tetapi, keanehan itu pasti terjadi karena alasan-alasan tertentu yang memberi suatu arti atas peristiwa yang terjadi, yang mungkin saat itu tak dapat dimengerti.
Bila peristiwa ini dilihat dari kacamata manusia yang harus rasional dan penuh pembuktian, hal ini memang tak akan dapat diterima atau mungkin disebut sebagai sesuatu yang terjadi secara kebetulan saja. Maka, tak perlu heran atas peristiwa itu. Akan tetapi bila dilihat dari sudut pandang teologis, peristiwa kelahiran Yohanes menjadi suatu pertanda bahwa dia adalah seorang yang istimewa di hadapan Allah. Dia menjadi alat pilihan Allah yang tentu saja akan digunakan untuk tugas-tugas perutusan tertentu. Keanehan-keanehan itu juga mau menunjukkan misteri Allah yang tak terselami, yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata atau bahkan tak dapat dimengerti sama sekali. Misteri kelahiran Yohanes menunjukkan bahwa hanya karena Allah-lah peristiwa itu terjadi. Karena itu, sebagai orang beriman, kita tidak boleh melihat peristiwa kelahiran Yohanes dari kacamata manusia, melainkan menerimanya dengan iman.
Pertanyaan orang banyak: “Menjadi apakah anak ini nanti?” menjadi bukti nyata bahwa Allah hadir dibalik semua peristiwa yang ada. Yohanes dipilih Allah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias Penyelamat, yakni Yesus Kristus. Tetapi dibedakan antara kelahiran Yesus dan Yohanes. Orangtua Yohanes sudah hidup dalam ikatan perkawinan dan hingga usia tua belum mempunyai akan. Sedangkan orangtua Yesus sejak awal belum terikat perkawinan, masih sebatas tunangan saja. Zakharia disebut sebagai yang kurang percaya terhadap karya Allah sedangkan Yusuf adalah orang yang tulus hati dan percaya kepada Allah. Elisabeth dikatakan mandul dan melahirkan pada masa tuanya sedangkan Maria seorang gadis perawan yang mengandung dari Roh Kudus, bukan dari hasil persetubuhan.
Perbedaan kedua tokoh ini, Yohanes dan Yesus, menjadi suatu tanda karya Allah yang sedang melakukan sesuatu. Mengapa kelahiran Yohanes dan Yesus dibedakan? Alasannya adalah karena Yohanes dipilih dan diutus Allah untuk melayani Yesus. Tugas utamanya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Yohanes harus mengabdi kepada Allah yang mengutusnya. Karena itulah, dalam pewartaannya Yohanes selalu berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.” Itu berarti bahwa Yohanes di dunia ini bukan untuk mewartakan diri sendiri melainkan mewartakan Dia yang akan datang, yakni Yesus Kristus. Di samping itu, perbedaan tersebut juga mau menegaskan posisi Yesus yang lebih tinggi daripada Yohanes. Posisi itu juga ditunjukkan melalui kehadiran Yohanes untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Dan ketika Mesias menampakkan diri kepada dunia, Yohanes kembali berseru: “Biarlah aku menjadi semakin kecil dan Dia semakin besar.” Ungkapan ini mau menunjukkan bahwa campur tangan Allah dalam seluruh karya penyelamatan itu sangat kuat sehingga Yohanes harus tetap tunduk dan membiarkan kehendak Allah yang senantiasa terjadi.
Kelahiran Yohanes Pembaptis terkadang juga menjadi bagian dari diri kita, dalam hidup beriman. Kita semua telah dibaptis dalam nama Kristus dan diberi nama baru, yakni Kristen, yang berarti pengikut Kristus. “Menjadi apakah anak ini nanti?” dapat disejajarkan dengan pertanyaan: “Menjadi apakah orang-orang Kristen ini nanti?” Memang di mata dunia, kelahiran kita dalam Kristus dikatakan aneh. Mengapa? Karena Allah yang kita imani telah wafat di kayu salib. Bagaimana mungkin Allah dapat mati. Kalau demikian, Dia bukan Allah yang benar dan hidup, tetapi Allah yang telah mati. Jika demikian, iman kita menjadi sia-sia. Itulah pandangan dunia tentang jalan keselamatan Allah yang telah ditunjukkan oleh Yesus melalui wafat dan kebangkitan-Nya.
Akan tetapi bagi kita orang Kristen, kematian dan kebangkitan Kristus bukan suatu kekonyolan atua kebodohan, melainkan suatu misteri Allah yang tak akan pernah dapat kita mengerti dengan pikiran manusiawi. Sebab jika semuanya harus dapat dijelaskan dan diterima dengan akal budi, atau bahkan harus dibuktikan secara empiris (nyata-kelihatan), itu berarti Allah itu tidak lagi misteri. Allah rela menjadi manusia untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang hidup, Alah yang turut merasakan penderitaan umat-Nya. Dengan cara demikian, Allah mau menuntun manusia kepada keselamatan dan kehidupan. Maka, menjadi jelas kiranya bagi kita sebagai pengikut Kristus, menjadi apakah kita kelak? Artinya, sebagai pengikut Kristus, kita tak dapat lepas dari berbagai macam tantangan dan perjuangan. Dari pihak kita dituntut suatu pengorbanan untuk membuktikan iman kita akan Kristus yang bangkit. Mampukah kita berbuat demikian? Mampukah kita menerima dan menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari iman kita kepada Kristus. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting