Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

HAI ANAKKU, IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU (Keb 1:13-15;2:23-24; 2Kor 8:7.9.13-15; Mrk 5:21-43)


Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Ada ungkapan yang biasa diperdengarkan: “Manusia berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan.” Ungkapan ini dapat memberi arti bahwa usaha manusia, betapapun kerasnya sangat terbatas. Akan tetapi, justru dalam ambang batas itulah manusia diajak untuk berserah seutuhnya kepada Allah. Karena belaskasih-Nya yang besar dan tak terhingga, Allah tidak membiarkan manusia jatuh ke dalam kebinasaan. Sebaliknya, Allah menghendaki manusia untuk selamat. Syaratnya adalah manusia harus mau datang dan berserah kepada Allah yang kudus dan menyelamatkan itu. Dan inilah yang ditegaskan oleh penulis kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama, bahwa “Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tidak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa.” Artinya, sejak awal dan dari diri-Nya, Allah tidak pernah menghendaki manusia jatuh ke dalam kebinasaan. Manusia itulah yang menghendaki kebinasaan bagi dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh manusia pertama, Adam dan Hawa, yang ingin menjadi sama dengan Allah.
Apa bukti dari ungkapan bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan manusia? Penulis Kitab Kebijaksanaan secara gamblang menjelaskannya dengan: “Allah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri.” Artinya, dalam diri manusia itu sendiri, ada gambar dan wujud Allah. Allah senantiasa hadir dalam seluruh diri manusia. Hakikat dasar manusia sebagai gambar dan rupa Allah nyata dalam wujud manusia yang mempunyai akal budi, kehendak-kebebasan, dan cinta. Manusia dianugerahi rahmat untuk menjadi serupa dengan Allah sejak awal penciptaan, berbeda dari makhluk hidup lainnya. Karena itu, manusia menjadi sangat istimewa di hadapan Allah bila dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Lalu mengapa kejahatan dan maut ada dan harus dialami oleh manusia? Jawabannya adalah “karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.” Setanlah penyebab utama kejahatan dan kebinasan. Dia kemudian menggoda manusia yang mau menjadi  miliknya. Dan manusia yang telah jatuh ke dalam perangkapnya akhirnya menjadi binasa. Maka, untuk dapat memperoleh keselamatan dan kesucian, manusia harus kembali kepada Sang Penyelamat, yakni Allah sendiri. Manusia harus berusaha mencari sampai akhirnya memperoleh kembali rahmat keselamatan itu. Dan itu butuh perjuangan serta iman yang kuat dan kepercayaan yang teguh bahwa Allah pasti akan menyelamatkan orang yang berharap kepada-Nya.
Keyakinan iman dan kepercayaan yang teguh itulah yang dimiliki oleh dua tokoh yang diceritakan dalam Injil, yakni perempuan yang sakit pendarahan dan Yairus. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa satu-satunya keselamatan hanya terdapat pada Allah. Selebihnya berasal dari si jahat. Iman dan kepercayaan itu tidak hanya tinggal sebatas itu saja, sebaliknya mereka tunjukkan melalui perjuangan untuk mencari dan menemukan sumber keselamatan itu, yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Keduanya yakin dengan penuh iman dan kepercayaan bahwa Yesus pasti akan menyelamatkan mereka dan memenuhi kerinduan hati mereka. Dan mereka pun akhirnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, yakni kesembuhan dan kebangkitan dari kematian. Hal ini membuktikan bahwa iman dan usaha mereka tidak sia-sia.
Bila kisah yang diceritakan dalam injil ini dicermati dengan baik, ada dua hal yang mesti kita pelajari dari kedua tokoh di atas. Pertama, perempuan yang sakit pendarahan. Tokoh ini menunjukkan imannya yang kuat sejak awal dengan berusaha untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya. Bahkan seluruh milik kepunyaannya sudah habis dijual untuk biaya pengobatannya, tetapi hasilnya nol. Tetapi ketika dia datang kepada Yesus, dia pun sembuh dari penyakitnya. Hanya dengan keyakinan: “Asalkan kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dan memang benar, dia sembuh. Ungkapan ini bukan saja berarti bahwa wanita itu hanya sekedar menyentuh jubah Yesus, tetapi masuk ke dalam seluruh diri-Nya, menyatukan diri dengan-Nya. Maka, sebagai orang yang “sakit”, kita mesti datang dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Yesus, menjadikan Yesus sebagai satu-satunya harapan yang dapat memberikan keselamatan. Iman saja tidak cukup, mesti juga tampak dalam usaha dan penyerahan yang total, sepenuh-penuhnya. Sikap yang ragu-ragu dan setengah-setengah tidak akan memberikan daya apapun untuk memperoleh keselamatan. Sebaliknya, bila iman dibarengi dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, maka pasti Allah akan menghargai usaha kita. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Yesus kepada wanita itu dengan berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.”
Kedua, Yairus. Ketika putrinya sakit, Yairus datang kepada Yesus meminta untuk menyembuhkan putrinya yang sudah hampir mati. Permohonan tersebut disampaikan dengan penuh iman, dan Yesus pun bersedia pergi bersama Yairus. Akan tetapi, sejenak peristiwa berubah dan iman Yairus mulai digoncang tatkala ada orang yang memberitakan bahwa putrinya sudah mati dan rasanya tak perlu lagi menyusahkan Yesus. Pastilah pada saat itu Yairus dengan segala kelemahan manusiawi merasa bahwa memang tak perlu lagi meminta Yesus untuk datang ke rumahnya. Tetapi dengan penuh iman dan kepercayaan, Yairus tetap berharap bahwa Yesus pasti dapat melakukan sesuatu meskipun putrinya telah mati. Dan memang pengharapannya tidak sia-sia. Di tengah goncangan iman dan tantangan kelemahan manusiawi, Yesus datang meneguhkan Yairus dan berkata: “Jangan takut, percayalah saja.” Dan Yesus membuktikannya dengan membangkitkan putri Yairus dari “tidurnya”, dari kematian. 
Kehadiran Yesus di tengah kedua peristiwa di atas menegaskan bahwa Yesus datang ke dunia ini untuk membawa keselamatan bagi semua orang. Misi utama-Nya adalah menampakkan wajah Allah yang berbelaskasih dan mau merasakan apa yang dirasakan oleh umat-Nya. di tengah segala kesulitan dan ketakmenentuan arah hidup, justru saat itulah Yesus hadir dan menawarkan keselamatan bagi manusia. Persoalannya adalah apakah manusia mau datang dan menyerahkan diri kepada-Nya? Perlu juga diketahui bahwa iman saja tidak cukup untuk memperoleh keselamatan, mesti ada tindak nyata (Bdk. Yak 2:17). Tak mungkin keselamatan kita dapatkan bila kita hanya mengandalkan iman yang kita miliki.
Kita harus berusaha untuk mencari dan menemukan sumber keselamatan itu, yakni Yesus Kristus. Dialah satu-satunya penyelamat yang datang ke dunia, yang menawarkan keselamatan kepada manusia. Sejalan dengan itu, iman juga harus diwujudkan melalui cinta kepada sesama, yakni dengan cara saling membantu dan memelihara satu sama lain. Keselamatan memang mutlak berasal dari Allah. Tetapi terkadang Allah juga menggunakan manusia untuk menyembuhkan sesamanya lewat tindakan dasar sebagai manusia, yakni saling mengasihi satu sama lain. Dan ketika kita sakit, kita mesti berani datang kepada Yesus, mencari serta berusaha menjamah Dia sehingga Dia pun mau berkata kepada kita: “Anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Jangan takut, percayalah saja.” Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting