Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

BENIH YANG KECIL TUMBUH MENJADI POHON BESAR KARENA KRISTUS (Yes 17:22-24; 2Kor 5:6-10; Mrk 4:26-34)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Setiap makhluk hidup mengawali pertumbuhannya dari bentuk yang sangat kecil kemudian menjadi besar setelah melewati proses yang sesuai dengan jenis pertumbuhan benih itu. Dan dalam proses pertumbuhan tersebut, dibutuhkan iklim yang tepat yang dapat menunjang pertumbuhan makhluk hidup tersebut. Tidak boleh hanya hujan atau musim panas terus; atau gelap atau siang. Iklim tersebut harus mendukung pertumbuhan benih itu dan seimbang. Maka, harus ada siang, malam, panas dan hujan. Misalnya, manusia dapat menjadi manusia dewasa setelah melewati tahapan dari janin ke bayi kecil hingga menjadi manusia dewasa. Demikian juga dengan binatang; ada yang melalui telur, tetapi ada juga yang langsung dilahirkan seperti manusia. Tumbuhan juga memulai hidupnya dari tahapan yang sederhana dan kecil, sampai akhirnya dapat menjadi pohon yang sangat besar. Menjadi pertanyaan adalah bagaimana makhluk hidup tersebut dapat tumbuh dan apa yang memberi daya bagi pertumbuhannya?
 Dalam bacaan injil, Yesus sebenarnya memberi dua perumpamaan yang sejajar yang intinya adalah untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah. Perumpamaan yang pertama adalah tentang orang yang menaburkan benih: “Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, benih itu tumbuh besar dan penabur itu tidak tahu bagaimana proses pertumbuhan benih itu”. Yang kedua, tentang biji sesawi yang kecil: “Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah, tumbuh besar dan banyak burung bersarang dibawah naungannya”. Melalui kedua perumpamaan ini Yesus hendak memberi suatu penjelasan bahwa dibalik pertumbuhan benih itu, ada Yang Lain yang berperan menumbuhkan benih itu, yang tak dapat dilihat. Yesus menggunakan perumpamaan tentang benih yang kecil ini dalam konteks kehidupan para pengikut-Nya yang percaya dan menantikan kedatangan Kerajaan Allah. Kedua perumpamaan ini bertujuan untuk meyakinkan mereka bahwa benih yang tampaknya kecil tidak selamanya kecil. Pasti akan berkembang dan bertumbuh menjadi besar meskipun perlahan.
Kerajaan Allah diumpamakan seperti benih kecil yang tumbuh dan kemudian menjadi besar. Dalam injil ini, Yesus hendak menegaskan bahwa Allah-lah penyebab benih itu tumbuh dan bahkan menjadi tempat bernaung bagi burung-burung di udara. Kerajaan Allah di dunia ini terwujud dalam diri Yesus Kristus, Allah yang berkenan menjadi manusia. Dia datang untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia ini demi keselamatan manusia. Dia adalah benih kecil itu, yang bagi dunia tidak dianggap apa-apa. Tetapi benih itu (Yesus Kristus) berubah menjadi besar dan menjadi tempat tinggal bagi banyak orang. Benih yang tadinya kecil akhirnya berubah menjadi besar sehingga memberi kehidupan bagi makhluk yang lain. Benih itu memang harus jatuh ke tanah dan mati untuk dapat tumbuh kembali serta menghasilkan buah berlimpah. Wafat dan kebangkitan-Nya melahirkan orang-orang yang percaya kepada-Nya dan bernaung dibawah Kerajaan Allah, yang terpenuhi dalam diri-Nya sendiri. Dia harus mati, tetapi dengan kematian-Nya bukan berarti karya-Nya juga turut mati. Dia tetap hidup dalam diri orang-orang yang percaya kepada-Nya dan melanjutkan tugas perutusan Kristus dalam membangun dan menyelamatkan manusia.
Perjalanan kehidupan Kristiani dimulai dari iman komunitas jemaat perdana akan Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati. Mereka awalnya terdiri dari beberapa orang saja, tetapi kemudian menjadi komunitas yang besar dan tersebar di seluruh dunia berkat iman mereka akan Kristus yang bangkit. Iman tersebut mereka wartakan dan hidupi setiap saat sehingga orang yang melihat mereka menjadi percaya dan mengikuti Kristus. Pertanyaan baru muncul, yakni apa yang menyebabkan komunitas kecil itu bisa berkembang dan menjadi komunitas yang besar? Apa dibalik semua peristiwa itu? Jawabannya adalah karena Allah berkarya di dalamnya. Dalam pengembangan karya keselamatan Allah, terlihat seolah-olah para rasul dan jemaat perdana yang berhasil memikat dan menjadikan banyak orang percaya kepada Kristus. Sebenarnya tidak. Allah-lah yang pertama-tama berkarya untuk menyelenggarakan segala sesuatunya dalam penyebaran Warta Gembira (Injil) tentang Kerajaan Allah. Karena Dia-lah injil dapat didengar dan diikuti oleh banyak orang. Allah menggunakan pribadi manusia untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Tanpa Allah, mustahil apa yang dikerjakan oleh komunitas jemaat perdana berhasil. Dan ini ditegaskan oleh nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama, bahwa Tuhanlah yang merendahkan dan meninggikan. Hanya karena Allah-lah segala sesuatu dapat tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Dia berkuasa merendahkan yang angkuh hatinya dan menurunkan mereka dari takhtanya serta mengangkat yang hina dina (bdk. Luk 1:46-55).
Dalam perjalanan hidup sehari-hari, sering kita merasa bahwa Allah seolah-olah tidak berkarya dalam diri kita. Kita merasa ditinggalkan dalam menghayati hidup sebagai pengikut Kristus yang sejati. Perasaan ditinggalkan tampak ketika kita berada dalam situasi yang sulit, penuh dengan masalah atau bahkan tantangan yang kadang sangat memberatkan kita. Semua pergumulan hidup terasa seperti beban yang tak pernah berhenti. Semua usaha kita (misalnya pekerjaan, karir, dsb.) seolah-olah sia-sia, tak berarti sama sekali dan tak memberi keuntungan bagi kita. Tetapi kita mesti kembali menyadarkan diri bahwa Tuhan pasti berkarya menurut kehendak-Nya sendiri. Apa yang kita lihat sebagai beban yang dapat mematikan kita, belum tentu demikian menurut Tuhan. Tuhan pasti tahu yang terbaik bagi kita.
Yang harus kita lakukan adalah tetap percaya dan yakin bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkannya dan sumbu yang telah pudar tak akan dipadamkan-Nya. Dia pasti akan memberikan pertumbuhan terhadap benih yang kecil itu yang bahkan sudah hampir mati. Dan Dia juga akan tetap menjaga nyala api yang hampir
padam itu menjadi tetap bernyala dan memberi sinar yang dapat menghalau kegelapan meski hanya sedikit saja atau bahkan tak berarti sama sekali. Itulah jalan-jalan Tuhan untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepada-Nya. Hal kecil yang seolah-olah tak mungkin dan tak terduga dijadikan Allah sebagai salah satu cara untuk menyempurnakan karya penyelamatan-Nya bagi kita umat-Nya. Seberat apapun beban kita, yakinlah, Allah akan menggendong kita untuk dapat keluar dari setiap masalah yang ada. Karena itu, percayakah kita akan segala penyelenggaraan-Nya dalam hidup kita? Mampukah kita memelihara iman kita yang kecil dan terus mengembangkannya untuk perluasan Kerajaan Allah? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting