Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

KUASA ALLAH MENGALAHKAN SEGALA KUASA KEJAHATAN (Kej 3:9-15; 2Kor 4:13-5:1; Mrk 3:20-25)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Pertanyaan yang biasa diungkapkan dalam moral katolik: “Mengapa ada kejahatan?”, jawabannya adalah karena “kurangnya kebaikan”. Atau bisa juga dijawab dengan “hilangnya kebaikan yang telah ditanamkan Allah sejak awal penciptaan”. Lalu pertanyaan dapat dilanjutkan dengan, “Apa yang menyebabkan kebenaran atau kebaikan itu hilang?” Jawabannya adalah karena tidak ada persatuan dengan Sang Kebenaran dan Kebaikan itu sendiri, yakni Allah. Keterpisahan dengan Allah akan melahirkan kejahatan dan kekerasan. Di dalamnya tidak ada lagi cinta kasih atau kebaikan. Yang ada hanyalah tipu daya dan kuasa kegelapan. Akibat dari keterpisahan dengan Allah itu, lahirlah dosa dan manusia hidup dibawah bayang-bayang dosa.
Adam dan Hawa, manusia pertama, dalam bacaan pertama digambarkan sebagai sosok pendosa yang memisahkan diri dari Allah sebab mereka memakan buah dari pohon terlarang. Keduanya berdosa karena mereka memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Mereka mau diperdaya oleh ular yang merupakan gambaran kejahatan dan segala kuasa kegelapan. Ular memperdaya mereka dengan menjanjikan bahwa setelah makan buah itu, keduanya akan menjadi sama dengan Allah yang dapat mengetahui segala-galanya dan bertindak sesuai dengan kehendak masing-masing. Godaan itu membuat Adam dan Hawa terpancing untuk mencoba hal yang sesungguhnya tidak boleh mereka lakukan dan mereka pun akhirnya kehilangan kodrat asali, yakni kodrat kebenaran yang seharusnya melekat dalam diri manusia. Dengan berdosa, kodrat itu pun dicabut Allah dan kodrat berdosa diturunkan kepada manusia melalui perkembangbiakan. Tetapi penting diingat bahwa dosa yang diturunkan itu bukan sebagai dosa pribadi, melainkan karena kodrat sebagai manusia, maka keturunan Adam dan Hawa pun terkena kodrat berdosa. Adam dan Hawa tidak mau bersekutu dengan Allah untuk melawan kejahatan yang ada. Sebaliknya, mereka lebih mengandalkan diri sendiri dan menyombongkan diri untuk menjadi sama dengan Allah. Dan akhirnya mereka diusir dari Firdaus.
Ketidakmampuan Adam dan Hawa dalam mengalahkan tipu daya setan berbanding terbalik dengan tindakan Yesus yang mampu mengalahkan Beelzebul, kepala penghulu setan. Melalui peristiwa ini, Yesus hendak menegaskan bahwa sesungguhnya kekuasaan si jahat telah berakhir. Kehadiran Yesus melambangkan bahwa saat kuasa iblis atau kuasa kejahatan telah berakhir. Kuasa kegelapan tidak akan mampu mengalahkan Terang yang dibawa oleh Yesus. Dan Yesus adalah Terang yang sesungguhnya. Setan tidak berdaya untuk menyentuh apalagi mengalahkan Yesus. Kekuatan ilahi yang dimiliki-Nya jauh melampaui kekuatan iblis. Sebab itu, si iblis tidak sedikit pun berdaya melawan kuasa Yesus. Dan Yesus menjadi pemenangnya.
Apa dan mengapa Yesus bisa mengusir setan dari orang yang kerasukan itu? Kehadiran Yesus dan kemampuan-Nya mengusir setan menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah dan keselamatan bagi semua orang telah tiba. Dan bila Yesus mampu mengusir kekuatan jahat, itu disebabkan oleh persatuan-Nya dengan Bapa yang mengutus-Nya. Dalam diri-Nya, tampak juga kehadiran Bapa, sebab Yesus pernah bersabda: “Aku dan Bapa adalah satu.” Itu berarti apa yang dikerjakan Yesus tidak semata-mata hanya dari diri-Nya sendiri, melainkan juga karena kekuatan Bapa. Karena itulah, Yesus dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya dapat dengan mudah mengusir Beelzebul, kepala penghulu setan itu.
Persatuan Yesus dengan Bapa-Nya menjadikan daya kekuatan ilahi yang ada pada-Nya menjadi semakin berdaya guna. Yesus dalam konteks ini pertama-tama tidak ingin menunjukkan tanda-tanda heran yang dibuat-Nya, melainkan lebih ingin menekankan bahwa barangsiapa yang tetap bersatu dengan Allah, pasti akan mampu mengalahkan segala kuasa kejahatan yang ada. Karena itulah Segala sesuatu yang dapat menghalangi persatuan dengan Allah harus disingkirkan, termasuk keluarga supaya seluruh karya pelayanan itu dapat terfokus. Dan itu ditegaskan-Nya dengan mengatakan: “Siapakah ibu-Ku? Siapakah saudara-Ku? Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara dan ibu-Ku.” Sekilas, kata-kata Yesus ini terkesan bahwa Dia adalah anak durhaka, yang mengabaikan keluarga dan bahkan ibu-Nya sendiri. Tetapi Yesus tidak bermaksud demikian, melainkan ingin mengajarkan kepada banyak orang bahwa Kehendak Allah harus selalu diutamakan. Keluarga atau hal-hal yang lainnya, harus berada setelah Allah. Bukan berarti bahwa Yesus hendak mengabaikan keluarga-Nya. Yesus tetap mencintai keluarga. Tetapi berhadapan dengan pelaksanaan Karya Allah, keluarga tidak boleh menjadi penghalang. Sebab bila berfokus pada hal-hal yang dicintai secara duniawi, maka otomatis akan dapat mengganggu pewartaan Sabda Allah. Dan Yesus tidak mau hal itu terjadi. Sebagai utusan Allah yang datang menghadirkan Kerajaan Allah, Yesus pasti lebih ingin kehendak Allah yang pertama-tama terjadi, baru hal-hal yang lain.
Persatuan dengan Allah akan memampukan kita untuk mengusir atau mengalahkan kuasa kejahatan yang ada. Memang tidak banyak lagi kita jumpai orang-orang yang kerasukan setan di masa sekarang ini, tetapi dalam artian yang lain, setan itu masih sangat banyak. Setan itu dapat berupa tindakan (perbuatan) maupun dengan perkataan yang juga dapat mematikan orang lain. Misalnya tindak kejahatan atau kekerasan, ketidakadilan, kebohongan, dan hal lainnya yang melanggar cinta kasih Allah. Bila di zaman Yesus yang diusir adalah setan dalam arti sesungguhnya, maka dalam zaman kita sekarang ini, setan itu dapat berupa godaan-godaan untuk memisahkan kita dari persatuan dengan Allah.
Sering kita tidak mampu mengalahkan godaan-godaan kecil, yang kita anggap remeh tetapi malah membuat kita terjatuh di dalamnya. Misalnya sikap curang atau bohong kecil-kecilan. Lama kelamaan, tindakan ini akan besar dan berbahaya. Semuanya itu muncul karena kita tidak sanggup mengalahkan kecenderungan atau keinginan kita unutk menjadi sama dengan Allah. Kecenderungan itu membuat kita berani memakan buah terlarang yang sesungguhnya tidak boleh memakannya. Godaan setan menjadi sedemikian kuat dan bahkan mengalahkan kebenaran karena kita tidak mau mempersatukan diri dengan Allah. Kita lebih mengutamakan kepentingan diri kita sendiri daripada kehendak Allah. Karena itulah kejahatan menjadi semakin banyak.
Setan-setan hanya dapat diusir ketika kita mampu bersatu dengan Allah dan mengutamakan Dia dalam segalanya. Sebab itu, mari kita mencoba semakin bersatu dengan Allah agar kita dapat mengusir segala kuasa kejahatan dan kegelapan dunia ini, terutama setan-setan yang ada dalam hati kita masing-masing. Mari kita memiliki Roh Allah agar kita mampu memandang apa yang akan disediakan Allah bagi kita dalam kemah abadi di surga. Penderitaan yang ada saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang yang disediakan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Mari juga menghidupi martabat baptisan kita sebagai nabi yang mewartakan, imam yang menguduskan dan raja yang menggembalakan umat Allah agar kita mampu mengusir segala kuasa kejahatan yang ada. Dan mari kita senantiasa membuka hati dan budi bagi Roh Allah yang akan menuntun kita mengusir roh jahat dan segala kedegilan hati yang membuat kita tidak menerima karya keselamatan Allah. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting