Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Meninggalkan Keluarga Dan Keinginan Masa Lalu Demi Panggilan Tuhan Yang Penuh Misteri (Mrk 10:17-30)

Ketika masih kanak-kanak, saya menjalani hidup dalam kebahagiaan karena belum memikirkan banyak hal, apa lagi masa depan. Saya lebih suka bermain-main dengan teman-teman. Hidup pada saat itu penuh dengan kepolosan. Apa yang diberikan oleh orang tua saya terima dengan senang hati. Tidak terasa masa itu telah berlalu. Saya sudah duduk di bangku SMP. Saya menyadari bahwa pada masa itu masih dalam keadaan labil. Saya mudah terpengaruh dengan apa yang ada di lingkungan saya. ketika teman-teman mengajak saya  bermain bola, saya tanpa berpikir panjang menyetujui ajakan itu, padahal orang tua telah lebih dahulu menyuruh saya untuk belajar atau membersihkan rumah. Tetapi ketika duduk di bangku SMA, saya merasakan ada perubahan dalam diri saya terutama dalam hal berpikir. Saya mulai berpikir tentang masa depan saya. Pernah sewaktu malam, saya keluar dari rumah kos untuk menyegarkan pikiran yang telah dilelahkan oleh pelajaran dan kegiatan hari itu. Saya bertanya dalam hati : “mau kemana saya setelah tamat dari SMA?”. Saya memandang alam di sekitar saya. saya memperhatikan langit dan sekeliling saya. Ketika memperhatikannya, saya terkagum dan terpesona melihat semuanya itu sambil berkata dalam hati :”siapa gerangan penciptanya?” saya merasakan ada sesuatu yang meluluhkan hati dan membuat saya merasa tidak berdaya dan takut. Sejenak saya diam dan sekali lagi berkata dalam hati :”semua telah ada, tiada gunanya saya menjadi orang terkenal dan mengejar cita-cita saya itu, lebih baik bagi saya mengabdi Tuhan dan sesama.” Oleh karena itu ketika Ujian Nasional telah selesai, saya pulang ke kampung halaman dan memberitahukan kepada orang tua saya bahwa saya mau menjadi seorang imam. Orang tua saya sejenak terdiam dan berpikir. Setelah itu ia menegaskan keputusan saya itu dengan berkata: “kalau memang itu keinginan hatimu, laksanakanlah! Sekali mandi harus basah. Demikianlah pengalaman panggilan yang membuat saya berani untuk meninggalkan cita-cita, orang tua dan keluarga saya.

1. Apakah saya akan tetap bertahan mengikuti Tuhan dalam panggilan hidup ini?
2. Semua orang mempunyai panggilan masing-masing, ada yang sebagai guru, nelayan, petani,               dsb.
Dalam menjalani panggilan itu Tuhan memberikan rahmatNya yang berlimpah-limpah. Apakah saya terbuka akan rahmat Tuhan itu dan mau mengembangkan serta membagikannya kepada sesama dalam hidup sehari-hari.

Fr. Stefanus Batubara OFM Cap

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting