Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

RIP, SDR. BARNABAS WINKLER OFMCap!

Sdr. Barnabas Winkler lahir di St. Andrä - Bozen, Italia, pada tanggal 19 Juni 1939, sebagai anak kedua dari pasangan Johann Winkler dan Philomena Hirber. Saat dibaptis ia diberi nama Johan Winkler. Dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar St. Andrä (1946 – 1953) dan Sekolah Menengah di Seminari Kapusin Salern/Vahrn (1953 – 1959). Setamat Seminari Menengah, ia memilih menjadi anggota Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap), dan memulai masa novisiat di Klausen pada tanggal 28 Agustus 1959 dengan nama Barnabas Winkler. Sdr. Barnabas mengikrarkan kaul perdana tanggal 29 Agustus 1960 dan Kaul kekal tanggal 29 Agustus 1963. Ia menyelesaikan Lyceum di Brunneck (1960-1962), Filsafat di Sterzing (1962-1964) dan Teologi di Brixen (1964-1968). Kemudian ditahbiskan sebagai diakon pada bulan April 1968, dan tahbisan imam pada tanggal 29 Juni 1968. Selesai tahbisan, Sdr. Barnabas Winkler mempersiapkan diri menjadi missionaris ke Indonesia. Dia tiba di Indonesia pada tanggal 01 Desember 1970, dan langsung belajar Bahasa Indonesia di Padangsidempuan sampai Juni 1971. Kemudian dia diangkat menjadi Pastor pembantu di Distrik Gunungistoli dan Nias Barat (1971-1973), dan menjadi pendamping calon bruder di Bruderan Gunungsitoli pada tahun 1973-1978 . Pada tahun 1978 Sdr. Barnabas menjalani kursus di Girisonta (RESPITA). Sdr. Barnabas melayani sebagai Superior Kapusin Regio Sibolga pada tahun 1978-1987 (3 periode) dan kemudian tahun 1990-1994 (satu periode). Beliau juga pernah menjabat sebagai Propinsial Kapusin Indonesia selama 2 periode (1985-1991). Kemudian sebagai Minister Propinsial pertama Propinsi Kapusin Sibolga, tahun 1994-1997. Pada tahun 1998-2003, Sdr. Barnabas menjadi formator dan gardian bagi para saudara-saudara muda kapusin yang menjalani masa post-nopisiat di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli. Ia juga diberi tugas sebagai Ekonom Keuskupan Sibolga (2001-2004; 2007-2010), dan kemudian menjadi Konselor sekaligus Wakil Minister Propinsial Propinsi Kapusin Sibolga pada tahun 2000-2003. Pada tahun 2004-2007, beliau diangkat sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Sibolga. Terpilih kembali sebagai Konselor Propinsi Kapusin Sibolga tahun 2009-2012. Selanjutnya kembali sebagai formator di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli pada tahun 2012-2016. Mulai akhir tahun 2016 Sdr. Barnabas Winkler tinggal di Biara Yohaneum hingga menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 06 Nopember 2020. Tak cukup kata untuk melukiskan rahmat Tuhan dalam diri Sdr. Barnabas, yang nyata dalam aneka talentanya. Sebagaimana judul buku kenangan 50 tahun tahbisan imamatnya pada tanggal 29 Juni 2018, Sdr. Barnabas adalah seorang ahli pembangunan fisik dan spiritual. Dia adalah seorang saudara yang rendah hati, sabar, murah membantu dan meiliki karisma sebagai pemimpin. Dia memiliki peranan yang sangat penting dan banyak dalam perkembangan Keuskupan Sibolga dan Ordo Kapusin Propinsi Sibolga, yang kemudian menjadi Kustodi General Sibolga dan Kustodi General Kepulauan Nias. Ia juga sangat berperanan dalam penanaman Kongregasi OSF Reute – Jerman di Keuskupan Sibolga, dan menghadirkan serta merawat para suster OSCCap dari Biara St. Klara di Senden, hingga tumbuh di Biara St. Klara Gunungsitoli, Sikeben, Sekincau, Kefamenanu dan Aek Raso. Semenjak tinggal di Biara Yohaneum mulai dari akhir 2016, sebenarnya Sdr. Barnabas sedang menjalani masa tuanya. Dia tidak lagi memegang tanggung jawab khusus, karena sudah tua dan memerlukan perawatan khusus, karena aneka peristiwa di masa lampau. Misalnya, tatkala gempa melanda Gunungsitoli – Nias pada bulan Maret 2005, Sdr. Barrnabas tertimpa reruntuhan gedung. Syukurlah bahwa ia ditemukan hidup. Namun, ia harus menjalani opname dalam waktu lama. Ia juga pernah menjalani aneka operasi di Jerman. Karena memiliki gangguan jantung, pada tahun 2011, Sdr. Barnabas berobat ke Jerman. Di sana dipasang baginya baterai sebagai alat pemacu jantung. Baterai itu sempat di-charge di Penang dan di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016. Secara khusus selama setahun terakhir, kesehatan Sdr. Barnabas kerap menurun. Karena itu, ia rutin berobat ke dokter keluarga, dr. Toni Giovanno Sinaga, atau ke Klinik Yakin Sehat di Sibuluan. Ia rutin mengonsumsi obat demi menjaga kesehatannya, khususnya jantung dan tekanan darah. Karena sakit demam, batuk, dan denyut jantung yang sangat lemah, sesudah dirawat beberapa hari di Biara Yohaneum, Sdr. Barnabas Winkler dibawa berobat ke Klinik Yakin Sehat pada tanggal 16 Oktober 2020. Sebelumnya, pada pagi hari, Sdr. Barnabas telah menerima Sakramen Pengurapan orang Sakit dari tangan Sdr. Yoseph Sinaga. Selama di Klinik Yakin Sehat kondisi Sdr. Barnabas mengalami naik turun. Dan, karena keterbatasan tenaga medis dan sarana peralatan kesehatan, Sdr. Barnabas dibawa ke Rumah Sakit St. Elisabeth Medan pada tanggal 23 Oktober 2020. Setelah mempelajari hasil rekam medik dari Yakin Sehat, di RS St. Elisabeth, ia diperlakukan sebagai pasien suspect covid-19, dengan menempatkannya di ruang isolasi. Dan menurut hasil swab test, Sdr. Barnabas positif terpapar Covid-19. Berbagai upaya dilakukan oleh tim medis RS St. Elisabet agar Sdr. Barnabas lekas pulih dari penyakit yang dideritanya dan bebas dari Covid-19. Namun, karena usia sudah tua dan penyakit jantung yang menyertainya, ditambah pula terpapar Covid-19, kondisi fisik Sdr. Barnabas semakin lemah. Akhirnya, Saudari Maut menjemput Sdr. Barnabas Winkler, pada tanggal 06 Nopember 2020, sekitar pukul 12.20. Sebelumnya, ia sempat juga menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari Sdr. Kristof Jansen. Sdr. Barnabas sudah cukup lama mempersiapkan diri menyongsong Saudari Maut. Setiap kali ada saudara yang berpulang, beliau akan berkata, “Seharusnya peti itu bagian saya”. Kini, giliran beliau menghadap Sang Pencipta benar tiba. Namun, secara jujur sangat menyedihkan, sebab dia berangkat dalam kesunyian. Selamat jalan Pater Barnabas. RIP. Sampai bertemu di Yerusalem Surgawi.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting