Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

YESUS, SEMOGA AKU DAPAT MELIHAT (Yer 31:7-9; Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52)

D. Michael A. Aritonang OFMCap
 Minggu-minggu terakhir dalam tahun liturgi biasanya memperdengarkan bacaan-bacaan tentang akhir zaman, di mana Allah akan datang untuk menampakkan kemuliaan-Nya di tengah-tengah dunia. Keselamatan yang datang daripada-Nya sudah dikumandangkan dan harus disambut dengan iman yang teguh dan sorak-sorai. Dalam kitabnya, nabi Yeremia menubuatkan bahwa telah tiba saatnya keselamatan bagi seluruh bangsa pilihan Allah. Allah akan menyembuhkan luka setiap orang, menghibur orang yang berdukacita, membebaskan orang yang menderita dan tertindas serta menuntun mereka pada jalan keselamatan. Maka, terhadap seruan keselamatan ini, semua orang harus bersukacita dan bersorak-sorai menyambutnya. Sejak hari ini, tak akan ada lagi ratap tangis serta penderitaan melainkan hiburan dan sukacita.
Nubuat nabi Yeremia tentang kedatangan Sang Penyelamat dalam Perjanjian Lama telah terpenuhi dalam diri Yesus Kristus, Penyelamat Perjanjian Baru. Dialah Mesias terjanji yang akan membebaskan sisa-sisa kawanan domba Allah dari segala macam penderitaan dan mengumpulkan mereka kembali. Kristus datang melepaskan semua orang dari keterpurukan dan kelemahan manusiawi. Dia pun akan menyempurnakan kelemahan manusiawi itu dan mengangkatnya menjadi anak-anak Allah. Keselamatan yang dibawa-Nya akan diberikan secara cuma-cuma bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Maka, setiap orang mesti membuka hati terhadap keselamatan itu, supaya keselamatan itu benar-benar terjadi.
Kisah penyembuhan Bartimeus, seorang yang buta menjadi suatu tanda bahwa keselamatan Allah itu telah terwujud saat ini dan di sini. Akan tetapi, harus disadari bahwa mesti ada usaha manusia untuk mewujudkannya. Si buta Bartimeus, sesaat setelah mendengar bahwa Yesus sedang melintas di tempat di mana dia biasa duduk mengemis, langsung berseru: “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku.” Akan tetapi karena banyaknya orang, Yesus mungkin tidak mendengar seruan Bartimeus. Dan yang lebih ngerinya lagi, seruan Bartimeus pun mengusik banyak orang yang sedang mengikuti Yesus saat itu sehingga mereka menegur dan menyuruhnya untuk diam. Tetapi semakin ditegur, semakin keras pula Bartimeus berseru sampai akhirnya Yesus mendengar dan menyembuhkannya setelah juga melihat imannya yang besar itu.
Kesembuhan yang terjadi pada Bartimeus murni karena belaskasih Allah yang nyata dalam diri Yesus. Setelah melihat kesungguhan iman Bartimeus, hati Yesus akhirnya tergerak oleh belaskasihan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mengalami hal yang demikian. Banyak di antara kita yang saat ini sedang buat dan perlu disembuhkan oleh Yesus. Mungkin, kita tidak buta secara fisik, tetapi buta secara batin. Kebutaan batin itu dapat kita lihat lewat ketidakmampuan kita dalam memahami segala maksud dan rencana Allah dalam seluruh hidup kita. Ketika dalam situasi menderita atau putus asa, kita susah menerima apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita. Kita merasa ditinggalkan dan seolah-olah Allah tidak mempedulikan kita. Kita merasa kecewa karena doa-doa kita tidak dikabulkan Allah.
Akan tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa Allah telah merencanakan segala sesuatu untuk kebaikan kita? Sadarkah kita bahwa dengan segala sikap kita, itu berarti kita sedang bermaksud mengatur Allah? Sadarkah kita juga, siapa diri kita dihadapan Allah? Kebutaan batiniah kita membuat kita tidak lagi mampu berpikir secara jernih untuk memahami bahwa rancangan Allah bukanlah rancangan kita? Kita sering hanya menuntut supaya Allah memberikan apa yang kita minta. Inilah yang menjadi kelemahan dan kebutaan manusiawi kita.
Atau contoh lain lagi, misalnya dalam hal berdoa. Sering kita berdoa dan meminta apa yang kita butuhkan, rindukan dan inginkan. Sebenarnya, boleh saja kita meminta apa yang kita inginkan. Tetapi pertanyaannya adalah, pernahkah kita berusaha untuk mendapatkan apa yang kita doakan itu? Allah tak mungkin akan memberikan begitu saja apa yang kita minta. Misalnya, kita ingin keluarga kita bahagia dan damai, tetapi kita tidak pernah berusaha untuk menciptakan damai dalam keluarga kita. Atau kita ingin rezeki kita bertambah, tetapi kita tidak mau berusaha lebih keras lagi. Atau kita ingin sehat, tetapi tidak mau menjaga kesehatan atau tidak mau mengikut anjuran dokter. Dan masih banyak lagi contoh konkrit dalam kehidupan kita setiap hari. Allah kita bukanlah Allah yang pelit atau tidak mau memperhatikan serta memelihara kehidupan kita. Tetapi kita hendaknya sadar bahwa ketika kita sedang dalam kesulitan dan kita berdoa tetapi seolah-olah tidak ada jawaban dari Allah, cobalah lagi dan yakinkan diri bahwa Allah pasti akan mendengarkan semua doa permohonan kita. Cobalah berusaha lebih keras lagi, seperti Bartimeus, meskipun ada banyak tantangan. Mungkin saja Allah sedang menguji iman kita. Dan percayalah bahwa Allah tak akan membiarkan umat-Nya berjalan sendiri.

Dia pasti akan menolong setiap orang yang berseru kepada-Nya. Sebab Yesus pernah berkata: “Mintalah, maka kamu akan diberi; Carilah maka kamu akan mendapat; Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Kata-kata ini hendaknya semakin menguatkan kita untuk melihat apa yang dikehendaki Allah bagi kita. Janganlah kiranya kita meminta supaya Allah memberikan kita kuasa untuk dapat mewujudkan segala apa yang kita inginkan. Tetapi mintalah supaya kita dapat melihat dan memahami segala kehendak Allah dibalik segala peristiwa hidup yang sedang kita alami setiap hari. Dan bersama Bunda Maria, marilah kita berseru: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting