Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

UCAPAN TERIMAKASIH, LEBIH DARIPADA EMAS


by. Roberto Purba



Suatu ketika aku sedang berjalan dari tempat di mana aku baru selesai mengerjakan tugas harianku menuju tempat kami berolahraga, situasi saat itu begitu bersahabat. Aku pun berjalan sambil menikmati damainya alam sekitarku. Ketika aku sedang berjalan-jalan, pada saat yang bersamaan dua orang suster berjalan kearahku. Suster yang hendak berpapasan dengan aku sering menyapaku, mereka begitu ramah dan sering kali menanyakan kabarku. Rumah kami saling berdekatan sehingga berkali-kali kami bertegur- sapa. Hari demi hari pun persaudaraan kami semakin erat dibalik panggilan kami yang kurang lebih sama.
Dalam suasana yang baginya kurang menyenangkan mendorong hatinya untuk mengungkapkan suasana batinnya yang terdalam. Dengan wajah yang lesu ia berkata, “Roberto, hilang cincinku!” 
Aku tahu bahwa cincin itu penting bagi dia dan seandainya bila cincin itu benar-benar hilang sungguh akan membutuhkan pertanggungjawaban yang besar dan mungkin juga akan berpengaruh bagi kelanjutan hidup panggilannya sebagai seorang biarawati.
Dengan rasa empati aku kembali bertanya, “hilang dimana, Suster?” demikianlah percakapan kami terus berlanjut. 
     Sejenak aku bermenung, bagaimana kalau aku berada dalam keadaan dia. Kemudian aku terdorong untuk mencoba mencarinya dengan petunjuk-petunjuk yang kuperoleh lewat percakapan singkat yang baru saja berlalu. Benda yang akan saya cari ini berukuran lumayan kecil tapi nilainya lumayan mahal juga. Oleh karena itu, aku mencoba untuk teliti, tenang dan fokus. Dari informasi yang ada, didugai cincin itu ada pada tempat pembuangan sampah ketika ia membuang rumput di sana. Suatu hal yang mustahil bagi saya untuk mencarinya tetapi aku mau mencoba untuk mencarinya karena rasa empati yang membayang- bayangiku.
Melihat sampah yang banyak itu, Waahhh… mungkinkah? tanya dalam hati.
Sembari aku melihat-lihat, dua orang saudara sedang berjalan kearahku dengan membawa ember yang penuh dengan sampah. Tidak lama kemudian aku mengajak mereka untuk bersama-sama mencari cincin yang tadinya hilang. Karena mereka tidak merasa terganggu akhirnya mereka menerima tawaranku. Tanpa menunggu lama kami pun memulai proses mencari.
Kerjasama kami membuahkan hasil dan seorang diantara kedua saudara itu menemukannya. Ekspresi yang spontan dan luarbiasa, kami pun meloncat-loncat kegirangan dan ingin cepat-cepat menemui suster yang kehilangan cincin tadi. Akan tetapi sebelum mengembalikannya kami bertiga berembuk tentang hadiah apa yang akan minta nantinya. Kami bingung mau minta apa namun kami akhirnya sepakat bahwa apa saja yang diberikan entah itu makanan ringan akan dibagi tiga.
Tibalah saat kami membawa cincin berharga itu. Dari kejauhan kami berkata, “Suster, kami sudah mendapat cincin milikmu!" lalu dia menyahut dengan wajah keheran-heranan. Sekali lagi kami katakan, “suster, kami sudah mendapat cincin milikmu!” kemudian suster itu menghampiri kami dan berkata, “tunjukkanlah cincin itu!” saya kemudian menunjukkan cincin itu dan apa yang tampak dalam suster tadi, dia sangat gembira dan berkata, “makasih frater” sambil menyebut nama kami satu per satu. Dengan ucapan tadi, seorang dari kedua saudara itu tertawa dan melihat kami seolah-olah menunjukkan; kita tidak dapat apa-apa, hanya kata “trimakasih.”
Kata “trimakasih” itu kemudian kurenungkan dan kutemukan makna dari peristiwa itu yaitu “kata trimakasih lebih daripada emas.”
     
Lewat refleksi singkat tadi kami bertiga bersukacita karena nilai yang dapat kami petik yang sangat inspiratif.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting