Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

APA YANG TELAH DIPERSATUKAN OLEH ALLAH, JANGANLAH DICERAIKAN OLEH MANUSIA (Kej 2:18-24; Ibr 2:9-11; Mrk 10:2-16)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Manusia diciptakan bukan semata-mata untuk mengukir prestasi dan menguasai alam, tetapi untuk menaruh cinta kasih. Laki-laki dan perempuan diciptakan dalam kesetaraan untuk mengembangkan kasih itu sebagai teman hidup dan penolong bagi satu dengan yang lain. Kesetaraan ini semakin menguatkan mereka untuk senantiasa bertekun mewujudkan kehendak Allah, yakni menjaga kesatuan dan keharmonisan perkawinan atau hidup berkeluarga.
Ketiga bacaan pada hari ini berbicara tentang hidup dalam kesatuan yang digambarkan dengan perkawinan. Hidup dalam perkawinan berarti hidup dalam kesatuan cinta kasih, ada yang membuat seorang laki-laki dan perempuan saling mengikatkan diri satu sama lain. Kesatuan dalam perkawinan mengandaikan adanya komitmen untuk saling memberikan diri satu sama lain, berani berkorban demi pasangannya dan tetap setia dalam suka dan duka. Itulah inti dari sakramen perkawinan dan yang mesti diperjuangkan oleh mereka yang hidup dalam ikatan perkawinan.
Bacaan pertama dari kitab Kejadian mengisahkan bagaimana Allah bekerja untuk menciptakan keharmonisan di antara segala makhluk ciptaan-Nya. Diciptakan-Nya alam semesta dengan segala keteraturan dan keharmonisan di dalamnya. Manusia pertama, Adam, menjadi penguasa atas segala makhluk yang dijadikan Allah itu. Tetapi dia sendiri tidak menemukan penolong yang sepadan bagi dirinya, yang serupa dengan gambaran dirinya sebagai manusia dan yang dapat menyempurnakan dirinya dalam persekutuan cinta kasih. Dan Allah akhirnya memberikan apa yang menjadi kerinduan manusia itu, dengan harapan dia semakin menyatukan diri dengan-Nya serta setia kepada-Nya.
Kesatuan dengan Allah itu semakin dipertegas lagi dalam bacaan kedua dari surat kepada orang Ibrani. Di sana ditegaskan bahwa kita semua berasal dari pokok yang satu dan sama, yakni Kristus sendiri. Dialah yang mengumpulkan, memilih dan menyatukan kita dengan diri-Nya. Dia pula-lah yang menciptakan kesatuan dan persaudaraan itu dalam diri setiap orang yang telah dipanggil dan dipilih untuk menjadi sempurna dalam diri-Nya. Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Tak seorang pun boleh mengambil apa yang menjadi hak Allah atau intervensi terhadap segala yang telah dijadikan-Nya. Selain karena ketidakmampuan dan ketidakpantasannya, manusia sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk mengatur Allah dalam segala tindakan-Nya. Manusia hanya diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan keharmonisan serta menikmatinya sambil juga turut mengembangkannya sesuai dengan kehendak Allah dan bukan malah merusaknya.
Yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia mau menggambarkan bahwa Allah pada diri-Nya tidak terbagi-bagi. Dia adalah cinta yang tetap satu, meskipun terdiri dari tiga pribadi yakni Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Maka, ketika Dia memberikan kesatuan cinta itu kepada manusia, itu berarti manusia tidak pernah boleh membagi cinta Allah yang mereka terima. Tetapi mereka harus tetap memelihara kesatuan di antara mereka yang saling mengikatkan diri di dalamnya. Allah sendiri tidak pernah menghendaki relasi cinta di antara manusia itu terbagi-bagi sebab Dia tidak dapat mengingkari diri-Nya sendiri. Maka, ketika orang Farisi bertanya: “Bolehkah seorang suami menceraikan istrinya?”, Yesus menjawab: “Tidak boleh”. Tetapi ketika mereka memaksa “Mengapa Musa memberikan surat cerai?”, Yesus pun akhirnya menjawab dengan sangat tegas: “Karena ketegaran hatimulah Musa memberikan surat cerai.” Kata-kata Yesus sekaligus mau mempertegas bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Apa pesan penting yang hendak disampaikan melalui kesetiaan dalam perkawinan ini? Perkawinan menjadi lambang suatu ikatan yang sesungguhnya tak dapat dipisahkan. Ikatan dalam perkawinan itu menjadi gambaran diri Allah sendiri yang adalah setia dan tak terbagi dalam diri-Nya. Maka, perkawinan sebagai suatu ikatan dalam diri orang-orang yang saling mengasihi tidak dapat dipisahkan, sebab Allah sendirilah yang menyatukan keduanya. Allah mewahyukan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus yang menjadi pemersatu seluruh umat manusia dengan diri-Nya sendiri. Dia membuat diri-Nya dikenal oleh manusia supaya manusia juga tetap setia dan mengandalkan Allah sebagai satu-satunya harapan dan tujuan hidup. Dalam konteks kita sekarang ini, perkawinan lebih diartikan sebagai hubungan atau ikatan kesatuan kita dengan Kristus atau kesatuan antara Kristus dengan Gereja-Nya. Karena itu, hubungan kita dengan Kristus mesti terikat dan utuh sampai selama-lamanya.
Kesatuan dan kesetiaan kepada Allah itu menjadi sangat penting untuk menjaga kehidupan kita tetap dalam perlindungan Allah. Setia terhadap Allah berarti memperoleh keselamatan dan berkat. Sebaliknya, bila kita mencoba memisahkan diri daripada-Nya, maka kebinasaan dan hukumanlah yang akan kita peroleh. Kristuslah yang akan mengajari kita untuk tetap setia pada perjanjian dan hukum dengan Allah. Maka, marilah kita senantiasa hidup dalam ikatan yang suci dengan Kristus, bersatu dengan-Nya, serta berusaha untuk tidak pernah berpaling daripada-Nya supaya kita diselamatkan. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting