Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

SIAPA TIDAK MELAWAN KITA, IA ADA DI PIHAK KITA (Bil 11:25-29; Yak 5:1-6; Mrk 9:38-43.45.47-48)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita (melalui para imam) memohon Roh Kudus untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Itulah yang disebut dengan epiklesis. Permohonan ini mau menunjukkan bahwa Allah senantiasa bekerja untuk menyatakan kemuliaan-Nya melalui Roh Kudus yang hadir secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Maka, ketika kita merayakan Ekaristi, Roh Kudus itulah yang selalu menggerakkan dan menghidupkan agar kita mampu mengimani apa yang kita terima dan menghidupinya. Roh Kudus itulah yang menjiwai setiap orang yang mau menerima Kristus dalam hatinya dan menjadikan mereka mampu bertindak seturut dorongan Roh itu pula.
Peranan Roh Allah dalam mendampingi umat beriman memang sungguh nyata. Dia (Roh) bekerja untuk memilih dan menentukan siapa yang layak menjadi pelayan Allah. Dan tak seorang pun boleh menghalangi karya Roh Allah itu. Karena itulah Musa dalam bacaan pertama “mengecam” Yosua yang memintanya untuk menghentikan Eldad dan Medad yang telah dipilih Allah masuk ke dalam bilangan ketujuh puluh tua-tua Israel. Bagi Musa, manusia sama sekali tidak berhak campur tangan (intervensi) terhadap karya Allah. Allah berhak menentukan siapa yang layak bagi-Nya. Karena itulah Musa berkata kepada Yosua: “Apakah engkau giat mendukung diriku? Ah, sekiranya seluruh umat Allah menjadi nabi, karena Tuhan memberikan Roh-Nya kepada mereka.” Musa juga sadar bahwa dirinya hanyalah sebagai alat yang dipakai Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada bangsa Israel. Dan itu bukanlah hak yang mesti dipertahankan sebagai milik sendiri, melainkan karena pemberian Allah kepadanya. Inilah yang kurang disadari oleh Yosua. Musa ingin menegaskan kepada Yosua bahwa manusia mesti mendukung setiap karya Allah bukan malah menghalang-halanginya, sebab tidak ada karya Allah yang membawa kepada kesesatan atau kebinasaan melainkan kepada kebenaran dan keselamatan.
Kisah yang sama dalam bacaan pertama kembali diperdengarkan dalam bacaan Injil, yakni tentang orang yang bukan kelompok para murid, tetapi dapat mengusir setan dalam nama Yesus. Untuk Yohanes dan para murid lainnya, di luar kelompok mereka, tidak seorang pun yang layak ambil bagian dalam tugas yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada mereka, yakni untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan membuat mukjizat. Maka tak heran bila ada orang yang mampu melakukan apa yang mereka lakukan, orang itu harus dicegah supaya tidak menimbulkan skandal bagi kelompok itu sendiri. Tetapi Yesus dengan tegas mengatakan bahwa: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Yesus tidak membiarkan para murid untuk menaruh rasa curiga terhadap setiap orang yang berbuat baik dan mewartakan keselamatan dari Allah. Tetapi lebih daripada itu, Yesus tidak ingin berbangga atas kuasa eksekutif yang mereka terima seolah-olah itulah segalanya. Yang dilakukan oleh orang lain, tidak berarti sama sekali. Yesus ingin mengajari para murid untuk tetap rendah hati dan terbuka terhadap karya Allah yang juga menggunakan orang lain dalam karya penyelamatan-Nya.
Apa alasan mendasar mengapa Yosua dan Yohanes ingin mencegah orang-orang lain dalam karya pewartaan dan membuat mukjizat itu? Baik dalam bacaan pertama maupun dalam bacaan injil sangat jelas dipaparkan bahwa iri hatilah yang menjadi penyebab utama Yosua dan Yohanes mencoba membujuk Musa dan juga Yesus untuk mencegah orang-orang lain yang juga dihinggapi oleh Roh Allah. Yosua dan Yohanes berpikir bahwa hak atau kuasa eksekutif yang telah mereka peroleh itu (Yosua dari Musa dan Yohanes dari Yesus), mutlak hanya boleh dilaksanakan oleh mereka sendiri. Di luar mereka, tidak boleh. Rasa iri hati membuat mereka tertutup terhadap Karya Allah dan bahkan menganggap seolah-olah yang lain itu sebagai saingan saja, yang mengancam posisi istimewa mereka. Maka, satu-satunya cara untuk mempertahankan posisi istimewa itu adalah dengan cara membujuk otoritas yang berwenang (Musa dan Yesus) untuk melakukan pencegahan terhadap orang-orang lain itu. Tetapi pikiran dan rancangan manusia tidak pernah sama dengan pikiran dan rancangan Allah. Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi manusia. Karena itulah jawaban Yesus menjadi kata kunci untuk memecahkan iri hati yang muncul dalam diri para pengikut-Nya: “Siapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”
Dalam kehidupan setiap hari, kita sering bertindak seperti Yosua dan Yohanes. Ketika kita mendapat suatu kepercayaan, jabatan atau kuasa, maka kita merasa bahwa harus kitalah yang menjadi segala-galanya, yang wajib melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita. Kita tidak ingin ada orang lain di samping kita, yang mungkin akan mengancam posisi kita itu. Sikap iri hati dan sombong membuat kita menutup mata terhadap kebaikan yang juga dapat dilakukan oleh orang lain, sebab kita mau hanya nama kita sajalah yang muncul dan dikenal oleh banyak orang. Padahal sebenarnya kalau dipikir-pikir, orang lain dapat menjadi rekan kerja yang dalam banyak hal dapat membantu mempermudah pekerjaan kita. Tetapi kita tidak mau hal yang seperti itu. Yang hendak kita tonjolkan adalah diri sendiri, jangan sampai ada orang lain yang merebut kepercayaan atau kuasa yang dipercayakan kepada kita. Sikap iri hati membuat kita mulai membentengi diri dan mencoba mencari jalan supaya posisi kita aman dengan cara melakukan pencegahan-pencegahan yang sebenarnya merugikan diri sendiri dan orang lain.
Kita sebagai orang beriman hendaknya meniru Kristus yang selalu mengutamakan kehendak Allah terjadi atas diri-Nya. Sebagai pengikut Kristus, hal pertama yang harus kita sadari dan lakukan adalah membiarkan Allah bekerja seturut kehendak-Nya sendiri. Kita tidak diperkenankan untuk menghalang-halangi Allah untuk berbuat sesuai dengan kehendak-Nya sendiri, tetapi mendukungnya dengan cara mewartakan karya Allah itu ke mana kita diutus. Sikap kita seharusnya memperlancar karya Allah menyelamatkan dunia bukan malah menghalang-halanginya. Oleh karena itu, marilah kita mencoba mentaati kehendak Allah dan senantiasa merenungkan Sabda Allah yang adalah Roh dan Kehidupan. Apa yang kita miliki saat ini harus kita jadikan sebagai jalan untuk mempermudah orang lain menerima warta tentang Kerajaan Allah. Dan marilah kita menjadi teman sekerja Allah dalam membangun  dunia baru sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting