Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENJADI PENDENGAR DAN PELAKSANA SABDA (Ul 4:1-2.6-8; Yak 1:17-18.21b-22.27; Mrk 7:1-8.14-15.21-23)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Dalam konteks hidup bersama, aturan atau norma dibuat untuk untuk menjaga segi-segi kehidupan bersama. Tatanan itu hanya menjadi kata-kata kosong ketika tidak disertai dengan tindakan yang tepat. Demikian pula aturan agama. Aturan-aturan agama bukan untuk dipuja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Aturan dan tindakan konkret merupakan dua hal yang harus berjalan bersama. Yang satu mendasari yang lain. Yang satu tak boleh lebih diutamakan sementara yang lain kurang diperhatikan. Keduanya harus sejalan dan seimbang.
Kesejajaran antara aturan atau hukum dan pelaksanaannya menjadi sangat penting bagi bangsa Israel dalam hubungan mereka dengan Allah. Dan itu sangat ditekankan oleh Musa: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya.” Musa merasa sangat perlu untuk menyampaikan hal ini kepada bangsa Israel mengingat bahwa bangsa itu terkenal dengan kebebalan dan ketegaran hati mereka. Musa ingin agar semua bangsa Israel setia pada perjanjian yang diikat oleh Allah dengan mereka, supaya mereka boleh menikmati kebahagiaan dan diperkenankan tinggal dalam kemah Tuhan. Sebab yang dapat tinggal dalam kemah Tuhan adalah mereka yang suci hatinya, yang berlaku adil dan mengatakan kebenaran, tidak memfitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat kepada teman dan tidak menimpakan celaka kepada tetangganya, yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba, tidak menerima suap melawan orang-orang tidak bersalah dan yang menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa. Orang yang demikianlah yang dapat menikmati kebaikan Tuhan dan merasakan kasih sayang-Nya. Karena alasan inilah Musa sangat menekankan perlunya kesetiaan dalam melaksanakan firman Allah; bukan menambahi ataupun mengurangi.
Perjuangan bangsa Yahudi untuk tetap berpegang pada Perintah Allah yang telah disampaikan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun ternyata masih terjadi pada masa Yesus. Aturan tersebut masih dipelihara dan harus dipertahankan. Karena itu, penyimpangan terhadap adat istiadat nenek moyang, berarti melanggar hukum dan perjanjian dengan Allah. Maka, tak heran kalau ketika melihat murid-murid Yesus yang tidak melaksanakan kebiasaan baik itu, orang-orang Yahudi datang kepada Yesus dan mencela perbuatan para murid yang tidak terpuji itu. Tetapi rupanya Yesus mengetahui kemunafikan dan alasan mengapa mereka menyampaikan hal itu kepada-Nya.
Yesus pun dengan sangat keras mengkritik mereka dengan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik. Kemunafikan dan ketertutupan hati mereka terhadap perintah yang sesungguhnya, membuat mereka ingin membenarkan segala hal yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka. Mereka tidak lagi melihat bahwa hukum yang mereka laksanakan adalah hukum yang didasarkan pada aturan-aturan manusiawi, bukan pada aturan-aturan yang berasal dari Allah. Mereka melaksanakan aturan itu hanya supaya dilihat orang bahwa mereka setia melaksanakan hukum dan kebiasaan nenek moyang. Mereka tidak lagi melihat jiwa atau roh dari semua yang ada. Karena itu, Yesus mencela kedegilan hati mereka dengan kata-kata Yesaya sendiri: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
Kesetiaan bangsa Yahudi pada aturan nenek moyang di satu sisi memang menjadi suatu yang baik. Tetapi di sisi lain, menjadi sangat negatif sebab mereka hanya berbuat sesuai dengan apa yang tertulis saja, tanpa melihat makna yang terkandung dalam aturan itu. Penafsiran mereka hanya berkutat pada boleh tidaknya melaksanakan sesuatu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh nenek moyang mereka. Bila ada hal yang tidak dituliskan oleh nenek moyang, maka itu tidak boleh dilaksanakan. Mereka menjadi sangat kaku dengan aturan yang tertulis. Contoh konkret adalah, membasuh tangan sebelum makan. Aturan nenek moyang mewajibkan semua orang untuk mencuci tangan sebelum makan. Kalau tidak, melanggar peraturan. Itulah alasan yang mereka buat untuk mencela ketidak-taatan para murid untuk memelihara peraturan yang ada. Karena itu, Yesus menjawab tuntutan mereka: “Bukan apa yang masuk ke dalam yang menajiskan seseorang, tetapi apa yang keluar itulah yang membuat najis.” Misalnya, makanan yang kita konsumsi dapat memberikan kita kekuatan, kalau memang makanan itu bersih dan tidak beracun. Akan tetapi, biasanya apa yang keluar dari dalam adalah sesuatu yang kotor dan bau. Itulah yang menajiskan seseorang. Dari dalam akan keluar sesuatu yang kotor, segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan dan kebebalan.
Yesus sungguh sangat menegaskan pentingnya bercermin ke dalam diri sendiri, ke kedalaman batin supaya dapat sungguh-sungguh mengerti apa yang harus dikerjakan. Setiap kebaikan, anugerah dan segala sesuatu yang sempurna pasti datang dari Allah dan masuk ke dalam batin setiap manusia. Tetapi manusia cenderung ingin mengatasi apa yang datang dari Allah dengan cara membuat aturan sendiri, yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang telah dibuat oleh Allah.
Rasul Paulus mengajak kita semua untuk menjadi pendengar dan pelaksana Sabda. Karena segala sesuatu yang baik dan benar berasal Allah. Allah memberikan kita hati dan kebijaksanaan untuk dapat mengerti dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya sendiri. Kita hanya dapat menerima setiap kebaikan yang diberikan oleh Allah lalu kemudian menghidupi dan mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan apa yang perlu kita buat? Contoh konkrit yang ditunjukkan oleh Paulus adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, serta menjaga supaya kita sendiri tidak tercemar oleh kejahatan dunia ini. Para yatim piatu dan janda yang dalam kesusahan mereka memang sungguh tidak mempunyai penolong dan tempat untuk berlindung. Karena itu, tugas kita adalah memperhatikan kesulitan mereka dan memelihara mereka semua.
Yesus mengajak kita untuk tinggal dalam kemah-Nya yang suci dengan cara menghidupi dan melaksanakan Sabda-Nya sendiri. Aturan yang ada tidak boleh membuat orang lain terkekang di dalamnya, tetapi harus membebaskan. Sebab aturan dibuat untuk membuat orang lebih terbantu dalam kehidupan bersama, bukannya semakin mempersulit mereka, terutama mereka yang tidak mampu. Ibadat yang sejati adalah ketika kita mampu meninggalkan segala yang kurang baik dalam diri kita dan bertobat serta mengarahkan seluruh pandangan dan hidup kita pada pelayanan kepada Allah. Pertobatan itu akan membuat kita semakin dewasa dalam iman dan memampukan kita mengalahkan kekakuan kita terhadap segala aturan yang ada. Kita harus meninggalkan segala kemunafikan yang terkadang selalu mengutamakan kemanusiaan kita daripada kehendak Allah. Aturan yang ada dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan segala tindakan kita, tanpa memperhatikan jiwa dari aturan itu sendiri. Maka, mari kita senantiasa mengejar kesempurnaan dalam Kristus dan berusaha hidup suci serta berlaku adil terhadap sesama supaya kita diperkenankan tinggal dalam kemah-Nya dan dalam gunung-Nya yang suci. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting