Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

UT OMNES UNUM SINT (SUPAYA MEREKA MENJADI SATU) (Kis 1:15-17.20a.20c-26; 1Yoh 4:11-16; Yoh 17:11b-19)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
 Setelah Yesus naik ke surga, para murid semakin menyadari bahwa Tuhan dan Guru mereka kini telah dimuliakan di surga. Mereka tidak lagi takut atau memandang Yesus di langit sama seperti ketika di Palestina dulu dalam peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Sebaliknya, mereka semakin mantap dan yakin untuk berkumpul dalam nama Yesus sambil menantikan saat kedatangan Roh Penghibur yang menyertai dan menuntun seluruh perjalanan pewartaan iman mereka akan Kristus yang bangkit. Mereka menjadi satu dan sempurna berkat kehadiran Allah yang senantiasa memelihara dan mempersatukan sehingga mereka mampu hidup sehati dan sejiwa serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kesatuan mereka saat ini tidak lagi dipimpin oleh Yesus secara fisik melainkan dibawah pimpinan duabelas rasul yang dipilih oleh Yesus dahulu. Para rasul inilah yang akhirnya menjadi pemersatu seluruh murid yang dipercayakan Kristus kepada mereka. Karena itulah, kelompok duabelas harus tetap dipertahankan supaya pewartaan Injil dan pelayanan terhadap umat Allah tetap terjamin. Dan yang terpilih menggantikan Yudas Iskariot adalah Matias.
Kesatuan dalam Kristus ini menjadi semakin sempurna tatkala Yesus mendoakan para murid-Nya. Perikop Yoh 17:1-26 merupakan Doa Agung Yesus untuk persatuan para murid dengan diri-Nya sebagai pokok sama seperti Yesus dan Bapa-Nya adalah satu. Yesus mendoakan semua murid-Nya agar mereka mendapat perlindungan dan pemeliharaan dari Bapa yang mengutus-Nya. Para murid inilah yang menjadi perpanjangan tangan Yesus dalam melanjutkan rencana keselamatan Allah di dunia ini. Selama Yesus masih di dunia, segala sesuatu akan terjamin dan tidak akan ada akan menghalangi pewartaan mereka, sebab kuasa Yesus jauh melampaui segala kuasa yang ada. Namun, Yesus tidak selamanya akan tinggal di bumi. Karena itulah doa-Nya kepada Bapa bertujuan supaya ketika Dia tidak lagi di dunia ini, para murid tetap kuat dan mampu mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Doa Yesus kepada Bapa adalah supaya para murid menjadi satu (ut omnes unum sint). Menjadi satu artinya, di antara mereka sendiri harus tetap ada ikatan yang didasarkan pada cinta Allah. Satu bukan berarti hanya pada saat mereka berkumpul saja, makan bersama, bercerita bersama dan berbagai macam kebersamaan manusiawi lainnya. Tetapi satu lebih ingin diartikan sebagai satu kesatuan dalam ikatan cinta ilahi serta penyerahan diri secara total kepada Allah. Kesatuan yang dikehendaki Yesus bagi para murid adalah kesatuan seperti Yesus dengan Bapa yang mengutus-Nya. Kesatuan Bapa dan Putra (Yesus) ditunjukkan dengan ketaatan total dari pihak Yesus terhadap seluruh rencana penyelamatan Allah bagi dunia. Yesus tak pernah bertindak menurut kehendak-Nya sendiri, melainkan selalu tergantung kepada Bapa dan membiarkan kehendak Bapa terjadi atas diri-Nya.
Yesus menghendaki agar para murid bersatu seperti Bapa dan Putra adalah satu. Kesatuan yang seperti itulah yang dikehendaki oleh Yesus terjadi di antara para murid, yakni mereka tidak lagi hidup menurut kehendak-Nya sendiri, melainkan hidup menurut kehendak Allah.
Mengapa Yesus mendoakan para murid? Seperti biasa terjadi bahwa suatu kelompok terkadang lebih aman dan terjamin tatkala pemimpin hadir di antara mereka. Namun, ketika pemimpin tidak lagi bersama mereka, hampir dapat dipastikan bahwa kehidupan mereka pelan-pelan akan berubah menjadi saling menonjolkan diri atau berebut kursi kepemimpinan. Yesus tidak ingin para murid-Nya tercerai berai karena saling menonjolkan diri atau bertindak sendiri ketika Dia tidak lagi ada di dunia ini. Sebaliknya, Yesus ingin agar mereka tetap bersatu sehati dan sejiwa sekalipun Yesus telah pergi dari tengah-tengah mereka. Karena itulah, Yesus menyerahkan semua murid kepada pemeliharaan Bapa, supaya mereka satu dan hidup dalam keyakinan akan Allah. Sebab hanya kesatuan dengan Allah-lah yang dapat mempersatukan mereka semua serta membuat tugas perutusan mereka di dunia ini berhasil.
Doa Yesus kepada Bapa untuk persatuan para murid juga kita rasakan hingga saat ini. Kita memang tidak dapat secara langsung mengalami pimpinan Yesus atau para rasul. Tetapi kita tetap bersatu dengan Yesus melalui para pemimpin Gereja kita yakni Paus, Uskup, Imam. Mereka-lah yang menjadi gembala yang mempersatukan seluruh kawanan domba Allah di seluruh dunia. Dalam diri mereka-lah tampak kesatuan para murid yang sehati dan sejiwa seperti didoakan oleh Yesus. Dan persatuan di antara seluruh Gereja (Pemimpin dan Kawanan Domba) tampak pada saat kita merayakan Ekaristi bersama. Di sana kita semua bersatu dalam satu iman, satu perayaan dan satu pemimpin (Succesi Apostolica). Karena itulah, Gereja Katolik menjadi sangat eksklusif dalam diri-Nya tatkala merayakan Ekaristi. Maka, yang bukan Katolik dan yang tidak bersatu dengan-Nya, tidak boleh menyambut Tubuh dan  Darah Kristus yang mempersatukan kita dengan-Nya. Perayaan Ekaristi membuat kita semakin mantap dalam iman dan semakin mempersatukan diri dengan Kristus dan sesama. Maka, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita dituntut untuk mengarahkan seluruh diri kita kepada Kristus yang hadir dalam diri imam, dalam altar dan dalam kurban Ekaristi.
Persatuan kita dengan Kristus dalam Ekaristi harus direalisasikan dalam tindakan nyata setiap hari. Kita tidak dapat bersatu hanya pada saat kita merayakan Ekaristi saja, melainkan harus berbuah dan buat itu dapat dinikmati oleh orang lain. Buah dari persatuan Ekaristis itu menjadi nyata tatkala kita mampu saling mengasihi satu sama lain seperti dikatakan oleh rasul Yohanes: “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap diam di dalam kita dan kasih itu sempurna di dalam diri kita. Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Mengasihi bukan hanya kepada orang yang kita kenal dan kita cintai, melainkan kepada semua orang. Saling mengasihi dapat juga kita tunjukkan dalam sikap adil serta menghormati hak-hak orang lain dan mencintai mereka yang membenci kita. Persatuan dengan Kristus dan sesama harus membuat hidup kita sebagai orang Kristen semakin baik dan berguna bagi sesama. Kita juga harus menunjukkan bahwa doa Kristus untuk persatuan para pengikut-Nya sungguh-sungguh berakar dan bertumbuh dalam perkataan dan perbuatan kita setiap hari. Dengan demikian, Kristus yang bangkit akan dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting