Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

SABDAMU ADALAH KEBENARAN HUKUMMU KEBEBASAN (Kel 20:1-17; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Hidup bersama ternyata tidak lepas dari adanya aturan yang disepakati demi kebersamaan dan agar semua berjalan selaras dengan tujuan hidup bersama itu. Namun, perlu disadari bahwa aturan berlaku sejauh ada orang yang mengikatkan diri di dalamnya dan hidup dalam batas-batas peraturan yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, kewajiban untuk menghormati bendera Negara Indonesia hanya berlaku untuk seluruh warga Negara Indonesia dan tidak dapat dipaksakan kepada orang yang bukan warga Negara Indonesia. Atau dalam adat Batak Toba, orang-orang yang berbesan (marbao) tidak boleh terlihat berduaan apalagi bercengkerama di depan publik ataupun sendiri-sendiri. Aturan yang seperti ini hanya berlaku bagi orang-orang Toba saja, dan untuk adat kebiasaan di tempat lain, barangkali ini tidak berlaku. Pendek kata, perlu ada aturan main untuk menjaga supaya kehidupan bersama tetap harmonis dan damai.Pentingnya memelihara dan menghidupi peraturan ini tampak juga dalam Hukum Musa yang disampaikan Allah bagi bangsa Israel. Allah menjanjikan berkat bagi bangsa Israel jika mereka setia dan taat melaksanakan perintah-perintah-Nya yang tertulis dalam dekalog (Sepuluh Perintah Allah). Dalam dekalog, dua hal yang sangat ditekankan adalah menyangkut hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Perintah I-III menegaskan bahwa yang pertama dan paling utama dalam kehidupan ini adalah Tuhan. Ketiga perintah pertama ini penting untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh, entah berkat, pembebasan dari perbudakan di Mesir dan lain-lain, bukan dari hasil usaha mereka melainkan karena Yahweh memberikannya kepada mereka. Dialah satu-satunya Allah yang dapat membebaskan setiap orang dari segala persoalan dan penderitaan hidup. Maka, segala pujian, kemuliaan dan hormat patut disampaikan kepada-Nya dan tak boleh ada allah selain Dia. Ketaatan pada peraturan Allah inilah yang akan menentukan layak tidaknya mereka menerima berkat-Nya.
Di samping hukum yang pertama dan utama dalam dekalog I-III, terdapat juga hukum atau peraturan lain yang mengatur hidup manusia dengan sesamanya (PerintahIV-X). Allah tak hanya memberikan hukum atau peraturan yang sifatnya terarah kepada diri-Nya sendiri, melainkan juga memberikan hokum baru supaya manusia mampu membangun relasi yang harmonis dan selaras dengan tujuan hidup bersama.  Ketujuh perintah ini penting, supaya manusia mengetahui serta menghargai batas-batas yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hidup bersama. Beberapa contoh. Hormatilah ayah ibumu mengingatkan manusia bahwa orangtua merupakan representasi (gambaran kehadiran) Allah di dunia ini, sebagaimana telah kita ketahui bersama. Merekalah yang pertama-tama mengajarkan kita akan banyak hal dalam hidup ini termasuk memperkenalkan Allah yang kita imani. Maka, mereka wajib dihormati dan disayangi. Jangan mencuri dan berzinah, mengingatkan kita akan pentingnya menghormati hak dan martabat orang lain. Seseorang tidak boleh secara sembarangan mengambil harta milik orang lain dan menjadikannya milik sendiri. Jika hal ini dilanggar, itu berarti manusia juga melanggar perintah cinta kasih Allah  dan merusak relasi dengan Allah dan sesama manusia. Dan akhirnya, kekacauan dalam hidup bersama pun akan terjadi, sebab tidak ada aturan yang jelas dan mengikat bagi semua orang dalam kelompok atau komunitas itu sendiri.
Penekanan akan pentingnya memperhatikan peraturan-peraturan Allah kembali diingatkan oleh Yesus dalam injil. Perintah yang dulu disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel, saat ini tidak lagi mereka patuhi. Hati dan pikiran mereka telah berpaling dari Allah dan berpaut pada allah-allah lain (berhala-berhala). Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat yang kudus dan suci mereka jadikan sebagai sarang penyamun dan tempat berbisnis. Kesucian dan keagungan Bait Allah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak perlu, sebaliknya mereka menajiskan dan mengotorinya dengan berbagai macam kejahatan dan ketidakadilan. Karena pelanggaran terhadap kesucian Bait Allah itulah Yesus akhirnya mengusir mereka semua dan berkata: “Jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”. Bagi orang-orang Yahudi, perkataan dan tindakan Yesus ini terlalu berani terutama dengan mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sementara dalam kehidupan sehari-hari orangtua dan keluarga Yesus tinggal bersama-sama dengan orang Yahudi lainnya. Namun Yesus tetap pada misi perutusan-Nya, yakni bahwa peraturan Allah harus ditegakkan dengan sungguh-sungguh meskipun ada penolakan dari pihak Bangsa Yahudi. Karena itulah tantangan dari pihak bangsa Yahudi dijawab-Nya dengan berkata: “Rombaklah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Pastilah perkataan Yesus ini sangat mengejutkan orang-orang Yahudis sebab nenek moyang mereka membangun Bait Allah itu berpuluh-puluh tahun sementara Yesus mengatakan akan membangunnya dalam tiga hari. Sesuatu yang mustahil dan tak dapat diterima oleh akal sehat orang-orang Yahudi.
Apa maksud perkataan Yesus: “Rombaklah Bait Allah ini dan dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali”? Sesungguhnya yang mau diberitakan oleh Yesus dengan perkataan ini adalah tentang hidup dan penderitaan-Nya sendiri. Bait Allah yang Dia maksudkan adalah diri-Nya sendiri, tempat Allah berfirman, bukan Bait Allah dalam artian bangunan fisik, gedung semata. Yesus harus menderita dan wafat di salib namun akan bangkit mulia pada hari ketiga serta mengalahkan segala kuasa jahat untuk membebaskan manusia dari segala penderitaannya. Tubuh-Nya yang mulia tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan kemuliaan serta kesuciaan Bait Allah akan dikembalikan kepada keadaan yang semula. Tetapi Salib harus menjadi jalan kemuliaan bagi-Nya sekaligus sebagai tanda kemenangan atas dosa dan maut. Dan itu  akan nyata melalui kebangkitan-Nya pada hari ketiga, setelah Dia wafat (Jumat Agung), yang kita sebut dengan Hari Raya Paskah.
Kita semua adalah Bait Allah, kenisah Roh Kudus, tempat di mana Allah senantiasa berdiam dan berfirman. Dalam diri kita masing-masing, Allah selalu hadir untuk mengarahkan kita pada hal-hal yang suci. Dia tidak pernah berhenti mengajak kita untuk tetap berpaut pada Sabda dan Perintah-Nya. Sabda-Nya adalah kebenaran dan Hukum-Nya adalah kebebasan. Artinya, Sabda dan Peraturan Allah bukanlah sesuatu yang membuat manusia menderita atau mati karenanya, sebaliknya akan membebaskan dan memerdekakan mereka. Juga dalam hidup di dunia ini, peraturan yang dibuat seharusnya membebaskan manusia bukannya mematikan. Segala hukum, harus didasarkan pada cinta kasih Allah.
Dari pihak kita dituntut suatu kesadaran bahwa kita tidak boleh memandang hukum menurut ukuran manusia, melainkan harus menurut ukuran Kristus sendiri yakni salib seperti diwartakan oleh rasul Paulus. Salib harus menjadi tanda cinta dan kesetiaan kita dalam menghidupi Sabda dan Peraturan Allah sebab salib itulah yang membebaskan kita dari segala kuasa dosa dan maut. Salib juga mengajarkan kita untuk tak henti-hentinya berkorban bagi sesama serta menyerahkan segala pergumulan hidup kepada Allah. Salib seharusnya menjadi tanda kemuliaan dan keselamatan dan tidak memandangnya sebagai batu sandungan apalagi kebodohan. Maka, mari senantisa setia dan taat melaksanakan Sabda dan Perintah Allah seraya dengan sukacita sejati memanggul salib derita sebagai tanda cinta kita kepada Allah yang memberikan hukum yang membebaskan umat-Nya. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting