Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

BERTOBAT DAN MEMULIHKAN RELASI DENGAN ALLAH (Yer 31:31-34; Ibr 5:7-9;Yoh 12:20-33)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Gambaran biji gandum yang jatuh di tanah dan mati agar dapat menghasilkan buah yang diceritakan penginjil Yohanes menunjukkan hidup dan wafat Yesus. Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai biji gandum untuk mempermudah para pendengar-Nya mengerti apa yang dikatakan-Nya. Sekalipun demikian, orang banyak tidak akan pernah mengerti apa sesungguhnya maksud dari setiap perumpamaan yang dikatakan Yesus. Perkataan-Nya selalu menjadi misteri yang sulit dimengerti oleh orang banyak dan bahkan para murid-Nya sendiri. 
  Dengan  perumpamaan biji gandum ini, Yesus ingin menjelaskan bagaimana Ia akan menderita dan wafat di salib. Peristiwa peninggian Yesus di salib merupakan arti sesungguhnya dari ungkapan: “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Biji gandum harus jatuh dan mati artinya Yesus harus menderita dan mengurbankan diri-Nya sendiri demi keselamatan manusia. Dia tak menyayangkan nyawa-Nya sendiri melainkan merelakannya sebagai kurban pelunas dosa supaya manusia selamat. Kalau seandainya Dia mementingkan diri-Nya sendiri dengan tetap menjadi Allah dan tidak menderita dan wafat, itu berarti tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini menjadi sia-sia dan rencana keselamatan Allah tidak akan pernah terwujud. Oleh karena itulah, biji gandum yakni Yesus harus mati supaya dapat berbuah banyak.
Seperti biji gandum kalau dia tetap di atas dan tak jatuh ke tanah, maka dia tak akan pernah menghasilkan apa-apa tetapi akan mati. Akan tetapi kalau dia jatuh ke tanah, maka dia akan bertunas, berkembang dan berbuah, meskipun akan banyak tantangan dan perjuangan selama pertumbuhannya. Demikian halnya dengan Yesus. Dia harus menyerahkan diri sebagai kurban supaya tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dapat terlaksana. Dia harus mati supaya dapat menghasilkan buah berlimpah. Meskipun harus menderita sengsara dan wafat di salib, Yesus tetap menerima tugas perutusan-Nya dengan setia. Dia tetap taat kepada kehendak Bapa serta tidak mencari kemuliaan diri sendiri, melainkan demi kemuliaan Bapa. Meskipun dalam menghadapi sakratul maut (saat-saat terakhir sebelum ditangkap) Dia berdoa supaya piala itu berlalu daripada-Nya, namun Yesus tetap berkata: “Terjadilah pada-Ku menurut kehendak-Mu”. Melalui penyerahan diri yang total inilah Yesus mau menunjukkan kesempurnaan cinta kasih Allah kepada manusia supaya manusia melihat dan mengikuti teladan-Nya.
Yesus menjadi biji gandum yang telah menderita sengsara dan wafat tetapi menghasilkan buah banyak, yakni orang-orang yang percaya kepada-Nya. Mereka yang percaya akan Keallahan Yesus kemudian akan menyebarluaskan iman akan Kristus ke seluruh dunia hingga akhirnya menghasilkan buah berlimpah yang tak terbilang banyaknya.
Yesus harus menderita sengsara dan wafat supaya semua orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan. Dia harus ditinggikan dari bumi dan memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang telah dirusak oleh dosa. Yesus menjadi kurban perjanjian baru yang mendamaikan manusia dengan Allah serta menyelamatkannya. Namun peninggian di salib bukan berarti suatu penghinaan atau pengurbanan yang sia-sia melainkan tanda kemuliaan Allah. Kurban salib Yesus tidak akan pernah sia-sia tetapi akan menghasilkan buah berlimpah dan akan menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Salib menjadi lambang cinta Allah yang utuh, tulus dan sempurna. Memang salib terlihat seperti konyol dan tak berarti apapun. Tetapi sesungguhnya salib itulah kurban sejati dan wujud cinta Allah yang ingin menyelamatkan manusia dari segala dosa. Salib menjadi tanda pemulihan perjanjian baru antara manusia dengan Allah. Dan salib menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Yesus adalah biji gandum yang telah jatuh ke tanah dan mati tetapi menghasilkan banyak buah. Dia taat dan rela mengorbankan diri bagi keselamatan manusia melalui misteri salib. Dia harus ditinggikan dari bumi supaya manusia memperoleh keselamatan daripada-Nya. Untuk orang Kristen saat ini, salib tidak boleh diartikan sebagai suatu penderitaan atau bahkan kekonyolan. Tetapi salib menjadi tanda cinta dan sarana keselamtan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Misteri salib harus sungguh diartikan sebagai lambang kesempurnaan cinta Allah dan sebagai sarana untuk memperoleh hidup yang kekal. Karena itu, salib di dunia ini harus dipikul dengan penuh cinta dan sukacita.
Salib itu harus menjadikan manusia mampu melihat misteri keselamatan Allah yang telah ditunjukkan oleh Yesus melalui sengsara dan salib-Nya. Perjuangan di dunia ini, terutama bila berhadapan dengan pederitaan dan kematian sebagai saksi Kristus, tidak akan sebanding dengan ganjaran kemuliaan yang akan disediakan Allah bagi kita kelak bila kita tetap setia dan taat memikulnya. Salib berat akan menjadi ringan bila kita mau memikulnya bersama Yesus yang telah memberikan teladan bagi kita. Salib harus menjadi lambang pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal, sekalipun kita akan mengalami penderitaan dan kematian ngeri karenanya. Tetapi Allah akan tetap mendampingi dan menolong kita bila kita tetap setia  dan taat pada panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Mari kita belajar setia dan taat dari Yesus dalam memikul salib kita setiap hari. Dan mari kita belajar dari sikap taat Bunda Maria yang tak pernah berpaling dari Allah dalam hidupnya. Dan seraya memanggul salib mari kita berkata: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting