Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Seorang Kusta Datang Kepada Yesus Untuk Disembuhkan

Seorang Kusta Datang Kepada Yesus Untuk Disembuhkan
Renunga Hari Minggu Biasa VI
Sdr. Hendrik Jonan

Penyakit kusta sungguh membahayakan dan membawa malapetaka bagi orang yang mengalaminya. Orang yang menderita penyakit kusta akan mengalami penderitaan baik jasmani maupun rohani. Bukan hanya sebatas itu, ia harus mengasingkan diri dan diasingkan dari kontak langsung dengan keluarga dan dengan masyarakat yang sehat selama ia belum dinyatakan sembuh. Oleh karena itu, pada umumnya para penderita kusta harus dilokalisasikan di tempat tertentu yang cukup jauh dari tempat tinggal orang sehat umumnya.

Bacaan pertama dan Injil pada hari ini juga mengetengahkan perihal hidup orang yang menderita penyakit kusta. Meskipun menyinggung tentang penyakit kusta, kedua bacaan menampikan dua realitas yang berbeda satu sama lain. Kitab Imamat mengetengahkan hukum taurat bagi orang kusta, di mana seorang kusta dinyatakan najis dan harus diasingkan dan dijauhkan dari relasi kontak langsung dengan masyarakat sehat umumnya selagi penyakitnya belum sembuh. Sedangkan Injil menampilkan hukum belas kasih Tuhan Yesus, di mana ia menyembuhkannya. 

Seturut peraturan hukum musa, seseorang yang menderita penyakit kusta, setelah diperiksa di hadapan kaum imam Israel dan dinyatakan kusta, seseorang itu menjadi najis. Imam harus mengatakan kepadanya najis karena penyakit yang dideritanya dan si penderita sendiri dengan menutup muka terpaksa berseru, najis! Najis! Dikatakan bahwa selama seseorang itu belum sembuh dari penyakit kusta yang dideritanya. Selanjutnya seseorang itu harus diasingkan dan mengasingkan diri. Sampai ia sembuh ia tetap tinggal dan hidup di luar perkemahan. Dia tidak diperbolehkan dan tidak layak untuk ikut aktif bergabung dengan masyarakat umum dan dalam kegiatan peribadatan. Jadi, efek psikologi dari Hukum Taurat sungguh terasa dan menyedihkan dan merendahkan martabat diri seorang kusta. Peran Hukum Taurat dan para imam yang menegakkan hukum itu, di satu sisi mau menyelamatkan masyarakat umum yang sehat dari  bahaya penyakit dan kenajisan seorang kusta, tetapi di sisi lain tidak memberikan solusi penanganan medis atas  warganya yang menderita penyakit kusta. Untuk si penderita, Hukum Taurat itu sungguh melemahkan semangat raga dan iman. 

Kedatangan seorang kusta dan aksi Yesus dalam penyembuhannya, dalam Injil yang kita dengar pada hari ini sungguh menantang, menantang sekaligus merestorasi semangat dari aturan Hukum Taurat. Seorang kusta yang mestinya diauhkan dan menjauhkan diri dari kontak langsung, justru datang kepada Yesus seorang pribadi sehat. Ia berlutut di hadapan Yesus dan memohon untuk disembuhkan dari penyakitnya. Yesus, yang adalah salah seorang dari keturunan imam (Harun),  yang seharusnya mengatakan najis pada seorang kusta itu, justru memperlihatkan sikap kerahiman atau belas kasih dan menyembuhkan penyakitnya. Aksi Yesus mengakibatkan si kusta menjadi tahir sehingga ia bisa dan layak untuk mengalami hidup bersama dengan masyarakat pada umumnya. Yesus telah menyembuhkan penyakit yang merongrong badan sekaligus merongrong jiwanya. Maka untuk aksinya ini, Yesus pantas dijuluki seorang imam yang adalah tabib yang luar biasa dan nomor satu.

Yesus adalah imam baru untuk Israel baru yang menderita dan sakit. Ia datang untuk menegakkan hukum sempurna yakni belas kasih dan kerahiman atas orang yang sakit dan menderita. Yesus juga adalah tempat yang pantas untuk kita datang dan bersembah sujud karena kita adalah penderita ‘kusta’.  Di kala raga dan jiwa kita tak berdaya, di kala hidup dan upaya manusiawi kita untuk mengusir penderitaan, Yesus adalah tempat terakhir untuk kita mengaduh dan memohon kuasa dan kekuatan-Nya. Di kala kita mengalami krisis kepercayaan dan pengayoman dari orang-orang yang patut kita harapkan, janganlah kita putus asa dan merasa hidup ini selesai. Masih ada lagi seorang pribadi yang luar biasa yang berbelas kasih dan maha Rahim yang mengayomi dan melindungi hidup kita. Karena Yesus sungguh mencintai kita dan ia tidak mau kita kehilangan semangat dan pengharapan. Bila hidup kita terasa tidak layak lagi untuk dihidupi karena dosa kita yang menumpuk, janganlah kita putus asa, tetapi datang kepada Yesus dan bersujud di hadapannya adalah sebuah jalan keluar yang tepat, jalan mulia seorang pendosa yang beriman, yang mau diampuni dan bertobat dalam nama Tuhan Yesus.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting