Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

KESETIAAN DAN KETAATAN SEBAGAI WUJUD IMAN KEPADA ALLAH (Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31-34; Mrk 9:2-10)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Ujian terhadap Abraham merupakan cara Allah untuk menguji sejauh mana kesetiaan dan ketaatannya kepada Allah. Abraham dengan sangat jelas mengetahui bahwa Ishak adalah anak satu-satunya, hasil keturunannya dengan Sara, istrinya yang mereka dapatkan pada masa tua mereka. Dan itu pulalah yang diminta Allah untuk dipersembahkan sebagai kurban kepada-Nya. Tetapi Abraham tidak segan-segan untuk memenuhi permintaan Allah dan segera melaksanakannya. Dia tahu bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Maka, apapun yang diminta-Nya harus dikembalikan kepada-Nya. Kalau dipikir-pikir secara akal sehat, siapakah orangtua yang mau dengan rela membunuh dan mengurbankan anaknya sendiri sekalipun itu mau menunjukkan iman kepada Allahnya. Barangkali kita akan berpikir bahwa itu adalah iman yang sesat dan allah seperti itu bukanlah allah yang harus disembah sebab dia mengajari orang untuk membunuh. Tetapi sekali lagi Abraham yakin bahwa Allah menghendaki segala yang terbaik untuk dilaksanakan umat-Nya. Karena itulah Abraham tanpa banyak bertanya langsung melaksanakan kehendak Allah yang menyuruhnya untuk mengurbankan anak tunggalnya sendiri. Karena iman yang kokoh kuat akan janji Allah inilah yang membuat tindakan Abraham dibenarkan sehingga Allah menjanjikan berkat dan rahmat berlimpah kepadanya dan kepada keturunannya.
Janji Allah untuk memberikan berkat berlimpah kepada Abraham dan keturunannya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dialah puncak kepenuhan janji Allah terhadap ketaatan dan iman Abraham. Yesus adalah Putra Tunggal Allah yang ditetapkan sebagai kurban keselamatan bagi manusia dan dunia. Kurban-Nya menjadi persembahan yang abadi dan kekal yang dilaksanakan sekali untuk selamanya untuk mendamaikan dunia dengan Allah. Dia datang ke dunia untuk menghantar semua orang kepada Allah. Dan itu ditandakan dengan penampakan nabi Musa dan Elia di atas gunung. Peristiwa ini disebut Transfigurasi yakni perubahan rupa Yesus tatkala Musa dan Elia menampakkan diri kepada-Nya.
Apa peran Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi itu? Baik Musa maupun Elia ketika masa hidup mereka sebagai nabi Allah sama-sama berjuang menghantar seluruh bangsa Israel kembali kepada-Nya supaya mereka tetap berpegang pada hukum dan perintah-Nya. Keduanya memperjuangkan monoteisme Yahwisme yakni penyembahan kepada Allah yang satu yakni Yahweh. Musa dikenal dengan perannya sebagai nabi yang berjuang untuk menegakkan hukum taurat, hukum perjanjian Allah terhadap bangsa Israel. Perjanjian Allah itu tertulis dalam dekalog (Sepuluh Perintah Allah) yang diterima langsung oleh Musa di gunung Sinai. Allah menghendaki agar seluruh bangsa Israel menepati perjanjian dan hukum yang diberikan-Nya supaya mereka mendapat berkat. kalau tidak, maka mereka akan dihukum. Inilah yang diperjuangkan oleh Musa. Dan, ketika bangsa Israel mulai menyimpang dan tidak lagi setia pada Allah, Musa mengingatkan mereka untuk kembali kepada-Nya.
Bila Musa berjuang dengan cara menegakkan hukum taurat, maka perjuangan Elia adalah dari sisi kultus (peribadatan). Pada masa Elia, kehidupan rohani-spiritual bangsa Israel lebih condong kepada penyembahan berhala, pada allah-allah yang tak mampu berbuat apa-apa. Bangsa Israel tidak lagi mengikuti Allah yang satu dan benar, tetapi menjadikan berhala-berhala sebagai allah sembahan mereka. Dan hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan personal seluruh bangsa Israel. Kehidupan mereka semakin hari semakin bobrok dan semakin jahat. Karena itulah Elia tampil sebagai nabi yang memperjuangkan monoteisme terhadap Yahweh, Allah yang benar. Dia berjuang melawan segala bentuk penyembahan berhala yang secara nyata dapat dilihat dalam peristiwa perlawanan Elia dengan para imam Baal. Keesaan Allah yang benar itu akhirnya menang tatkala Allah Elia mengirimkan api dari langit dan menghanguskan segala korban sedangkan dewa Baal tak mampu berbuat apa-apa.
Dalam konteks Taurat dan Kultis inilah Musa dan Elia menampakkan diri kepada Yesus di atas gunung. Yesus adalah Musa dan Elia baru yang ditetapkan Allah untuk membawa semua manusia kembali kepada-Nya. Akan tetapi peran Yesus itu semakin disempurnakan dan sangat berbeda dengan kedua nabi Perjanjian Lama itu.
Musa dan Elia tidak pernah bertemu secara langsung dengan Allah yang mengutus mereka, sedangkan Yesus adalah Putra Tunggal Bapa yang diutus untuk mengingatkan semua orang kepada perjanjian dan hukum Allah. Yesus Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia datang untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia supaya manusia dapat melihat kemuliaan-Nya.
Namun Yesus harus menderita sengsara dan wafat karena manusia tidak lagi taat dan tidak mendengarkan Allah yang bersabda. Karena itulah Dia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menghantar mereka semua kembali kepada-Nya. Kejahatan manusia sudah terlalu parah dan perlu kurban untuk memulihkannya dan mendamaikan kembali hubungan Allah dengan manusia. Musa dan Elia hadir kembali dalam diri Yesus untuk membawa manusia kepada pertobatan dan jalan kebenaran. Tetapi Dia harus merelakan diri sebagai kurban dan wafat di salib.
Kesetiaan dan ketaatan pada Allah harus menjadi perjuangan kita setiap saat. Itulah bukti atau wujudnyata iman kita kepada-Nya. Perjuangan kita saat ini adalah menyucikan diri dengan bertobat serta kembali kepada-Nya. Kita harus lebih banyak melihat diri kita masing-masing dan mendengarkan Allah yang bersabda dalam hati kita. Kesetiaan dan ketaatan pada perjanjian dengan Allah akan menghantar kita kepada keselamatan.
Kristus Yesus telah mengurbankan diri-Nya demi keselamatan manusia dan sebagai kurban untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Allah yang tidak menyayangkan Putra-Nya yang Tunggal pasti akan senantiasa memberkati dan melindungi kita setiap saat bila kita tetap taat dan setia berpegang pada hukum dan perjanjian dengan-Nya. Yang menjadi perjuangan kita saat ini adalah melanjutkan karya Yesus dalam mewartakan Kabar Gembira (Injil) dan menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini. Meskipun harus menderita, tetapi itulah yang harus kita lakukan dan terima sebagai konsekuensi dari iman kita kepada-Nya. Kita telah dibaptis dan hidup dalam iman akan Kristus yang bangkit dari antara orang mati. Karena itu, mari kita senantiasa mendengarkan Kristus supaya kita mampu untuk setia dan taat melaksanakan segala perintah Allah, terutama dalam segala pencobaan hidup. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting