Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

IKUT SERTA DALAM PEKERJAAN TUHAN MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH DI DUNIA (Ul 18:15-20; 1Kor 7:32-35; Mrk :21-28)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Manusia adalah makhluk bekerja (homo faber). Setiap saat manusia harus bekerja supaya dapat hidup. Misalnya, supaya bisa makan, maka manusia harus bekerja dan mengolah sendiri hal-hal yang dapat menghasilkan makanan, seperti bercocok tanam atau juga bekerja sebagai orang-orang upahan. Atau kalau ingin sukses dan kaya, perlu bekerja keras supaya yang diharapkannya dapat tercapai. Tak seorang pun dapat luput dari pekerjaan sebab setiap bentuk aktivitas manusia, entah makan, minum, tidur, bernafas dan sebagainya termasuk pekerjaan. Pekerjaan merupakan bentuk partisipasi atau keikutsertaan kita dalam pekerjaan Dia yang memberikan kita kemampuan untuk bekerja, yakni Allah sendiri. Kita mampu bekerja hanya karena Allah mau menganugerahkan kita kemampuan untuk bekerja. Kita bayangkan kalau kita sakit dan tidak dapat melakukan apapun dan kita pasti sangat menderita karenanya.
Dalam injil diceritakan bagaimana demam menggerogoti seluruh tubuh ibu mertua Petrus sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemampuannya untuk bekerja lumpuh karena penyakit yang dideritanya. Karena itu, dia membutuhkan bantuan Yesus. Dan Yesus pun menyembuhkan ibu mertua Petrus sehingga dia bisa bekerja melayani Yesus dan para murid-Nya. Kesembuhan fisik yang dialami oleh ibu mertua Petrus merupakan suatu panggilan untuk dapat ikut serta dalam pekerjaan Tuhan. Dikatakan bahwa setelah sembuh, ibu itu kemudian melayani Yesus dan para murid-Nya, seperti memberi makan dan minum. Ibu mertua Petrus menjadi kuat karena Yesus mau menyentuh dan menyembuhkannya. Dan kesembuhan yang sama juga dialami oleh orang sakit lainnya dan orang-orang yang kerasukan setan. Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia tak henti-hentinya bekerja untuk menyembuhkan penyakit dan membebaskan semua orang dari belenggu dosa dan setan hingga saat ini. Inilah misi perutusan Yesus di dunia ini, yakni menghadirkan Kerajaan Allah dan menyelamatkan manusia.
Kesembuhan dan panggilan untuk ikut serta dalam pelayanan kepada Tuhan seperti dialami oleh ibu mertua Petrus juga dirasakan oleh Paulus. Setelah sekian lama  hidup dalam “penyakit” duniawi yakni menceraiberaikan para pengikut Kristus, Paulus akhirnya sembuh akibat sentuhan Kristus yang menampakkan diri kepadanya dalam perjalanan menuju Damsyik. Sentuhan Allah yang menyembuhkan itu menjadikan Paulus sebagai pewarta ulung Injil Allah dan merasa bahwa satu-satunya jalan untuk ikut serta dalam pekerjaan Tuhan adalah melalui pewartaan injil ke seluruh dunia. Karena itulah Paulus berkata: “Celakalah aku jika tidak memberitakan injil.” Kata-kata ini membuktikan bahwa bagi Paulus, hal yang paling berharga dan bernilai tinggi adalah menjadi pewarta injil. Paulus tidak condong atau terarah pada upah duniawi (gaji) dari pekerjaannya sebagai pewarta melainkan pada injil saja. Bahkan Paulus menganggap bahwa upah yang paling baik dan paling tinggi harganya adalah diperbolehkan untuk mewartakan injil tanpa upah. Dan itu disyukurinya sebab dengan cara demikianlah dia dapat dengan bebas mewartakan injil Allah ke seluruh dunia. Maka, tak heran kalau dalam kesempatan lain Paulus menekankan bahwa: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Atas dasar itu pulalah Paulus tak pernah mementingkan dirinya asalkan injil Allah dikenal dan diterima oleh banyak orang meskipun dia harus menderita karenanya.
Penyembuhan yang dirasakan oleh Paulus dan ibu mertua Petrus membuat mereka mampu melayani Allah dan berpartisipasi dalam pekerjaan Allah. Yesus menjadi satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan segala jenis penyakit dan berkuasa mengusir setan. Tetapi Yesus tidak berpuas diri dengan pujian atau sanjungan orang banyak melainkan tetap mengambil kesempatan untuk mengheningkan diri dan berdoa kepada Allah serta memohon kekuatan daripada-Nya. Tindakan ini mau menunjukkan bahwa meskipun Allah, Yesus tidak bekerja sendirian melainkan bersama Bapa dan Roh Kudus bekerja menyelamatkan manusia. Inilah tanda bahwa kuasa Allah jauh melampaui segala kuasa yang ada. Setiap orang Kristen dituntut untuk ikut serta dalam pekerjaan Allah mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Keikutsertaan itu ditunjukkan lewat cara hidup sebagai orang Kristen yang telah menerima rahmat baptisan, yakni sebagai nabi, imam dan raja. Dan itu semua diwujudnyatakan dalam kehidupan setiap hari di keluarga, komunitas dan masyarakat. Masing-masing orang mengambil bagian sesuai dengan perannya masing-masing.
Misalnya dalam keluarga, ayah dan ibu berperan sebagai pelindung keluarga dan menjadi penjaga iman katolik untuk seluruh keluarganya. Seorang religius bertanggungjawab untuk menghayati panggilannya dan menjaga relasi yang intim dengan Allah.
Dan dalam masyarakat, setiap orang wajib memperhatikan mereka yang kurang mampu, yang sakit dan yang tidak diperhitungkan dunia. Kita semua telah sembuh dari penyakit karena kuasa dosa dan setan. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa kita masih tetap membutuhkan kekuatan dari Allah yang diperoleh melalui relasi dan doa kepada Allah sebab tanpa Dia, kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Maka, mari kita senantiasa berusaha bekerja sama dengan Allah dengan cara melayani sesama dan tetap memohon kekuatan daripada-Nya agar kita mampu untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting