Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

DOA, PUASA DAN AMAL KASIH DI TEMPAT YANG TERSEMBUNYI (Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6:1; Mat 6:1-6-16-18)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Masa Prapaskah merupakan saat yang paling tepat untuk menjawab seruan rahmat Allah pada umat-Nya. Jawaban tersebut selayaknya diwujudkan dalam sikap tobat yang disertai dengan niat yang tulus dan diungkapkan dalam tindakan doa, puasa dan amal kasih. Sikap hidup terbuka pada Tuhan pun hendaknya selalu diusahakan karena Dialah satu-satunya Allah yang benar dan setia menepati janji-Nya. Masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari, akan dimulai pada hari Rabu Abu. Suasana Masa Prapaskah hendaknya diwarnai oleh semangat doa dan matiraga sebagai bentuk tobat, sebab masa ini dapat juga disebut sebagai "Retret Agung" seluruh umat beriman. Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan.
Hari Rabu Abu adalah hari yang sangat penting yang menandai awal masa puasa suci. Pada Hari Rabu Abu, Gereja memulai masa tobat Prapaskah, peristiwa yang sangat penting dan yang menjadi pusat dari iman kita. Itulah alasan mengapa kita menghabiskan seluruh masa empat puluh hari untuk mempersiapkan diri dengan baik untuk merayakan kesempatan penuh khidmat itu. Masa Prapaskah adalah masa untuk pembaharuan, rekonsiliasi dan penemuan kembali jati diri kita sendiri. Ini adalah waktu yang mengingatkan kita akan perjalanan yang orang-orang Israel tempuh di padang gurun selama empat puluh tahun, sebagai penebusan dari dosa-dosa mereka dan dari semua ketidaktaatan mereka terhadap Allah. Masa Prapaskah juga merupakan saat persiapan, seperti Yesus menghabiskan empat puluh hari di padang gurun sebelum Ia secara resmi memulai pelayanan-Nya di dunia ini. Dia berpuasa selama empat puluh hari, digoda oleh iblis dan bertahan melewati godaan itu, dan setelah itu mulai pekerjaan baik yang Allah telah percayakan kepada-Nya. Kita mempersiapkan diri di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, dalam daging kita dan dalam seluruh keberadaan kita sehingga kita siap untuk dengan penuh hikmat merayakan sukacita Paskah.
Pesan injil yang disampaikan Yesus dalam khotbah di bukit kiranya sangat jelas yakni menjalani masa pertobatan dengan doa, puasa dan amal kasih di tempat yang tersembunyi. Mengapa ketiga hal ini sangat ditekankan oleh Yesus dalam khotbah di bukit? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita sejenak mencermati dan mendalami apa maksudnya Yesus menyampaikan khotbah di bukit. Bukit merupakan suatu tempat yang tinggi, sepi dan jarang dikunjungi orang. Bukit juga sering digunakan sebagai tempat berdoa, mengasingkan diri dari keramaian, berdiam bersama Allah dalam keheningan batin dan bersatu dengan-Nya (seperti biasa dilakukan oleh para rahib). Yesus naik ke bukit, mengasingkan diri dari orang banyak serta mengambil waktu sejenak untuk bertemu dan berbicara dengan Bapa-Nya untuk menimba kekuatan dari Bapa yang mengutus-Nya.
Bukit dalam konteks Yesus bermakna teologis, yakni suatu posisi dalam kaitannya dengan pengajaran. Biasanya para rabi (guru) Yahudi memakai tempat yang tinggi untuk mengajar para murid. Tempat yang tinggi itulah yang menunjukkan kuasa atau otoritas mereka sebagai guru yang mengajar dan sebagai pemimpin umat. Dan Yesus memakai pola pengajaran guru-guru Yahudi, tetapi dengan cara yang berbeda. Yesus mengajar di tempat tinggi (bukit) mau menunjukkan diri sebagai guru yang mengajar umat-Nya dengan kuasa dan otoritas keallahan-Nya. Itu berarti pengajaran-Nya sungguh sangat penting dan serius dan wajib dilaksanakan. Kuasa mengajar-Nya menjadi semakin kuat setelah memperoleh kekuatan dari Bapa-Nya dalam doa di bukit. Maka, menjadi sangat relevan bila dalam menjalani masa pertobatan, Yesus menekankan tiga hal yang wajib dilaksanakan, yakni doa, puasa dan amal kasih dalam kaitannya dengan kehidupan sebagai orang beriman yang tak bisa lepas dari Allah, diri sendiri dan sesama.
Doa selalu dalam hubungannya dengan Allah pencipta, pemberi hidup dan kekuatan serta pelindung setiap manusia. Daripada-Nyalah segala sesuatu berasal dan kepada-Nya pula segala sesuatu dikembalikan. Maka, selama masa Prapaskah hubungan dengan Allah harus sungguh-sungguh intensif dan tak boleh terputuskan supaya dapat menjalankan kedua tuntutan lainnya, yakni puasa dan amal kasih. Kekuatan dari Allah yang diperoleh melalui doa mutlak diperlukan supaya segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.
Akan tetapi tidak cukup hanya berdoa saja, perlu juga realisasi dari pertobatan itu dalam kehidupan pribadi yakni puasa dan pantang. Puasa berkaitan dengan kesalehan pribadi yang melaluinya seseorang mau menunjukkan imannya kepada Allah. Puasa dan pantang yang dimaksudkan adalah menahan diri dari godaan-godaan dan nafsu badani yang jahat serta mempersembahkan diri secara lebih serius kepada Allah. Misalnya selama masa Prapaskah berpantang dari hal atau kegiatan yang sangat disukai, seperti makanan, judi dan lain sebagainya. Akan tetapi pantang itu dilaksanakan bukan karena sakit atau ketakutan pribadi melainkan dari hati yang tulus untuk melaksanakannya.
Meskipun demikian, kedua hal di atas (doa dan puasa) belum lengkap tanpa tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan pertobatan akan berbuah ketika seseorang dapat keluar dari diri sendiri, dari kenyamanan pribadi dan mampu masuk ke dalam kehidupan orang lain, terutama mereka yang sakit dan menderita. Karena itulah Allah dalam firman-Nya kepada Yoel berkata: “Koyakkanlah hatimu dan bukan pakaianmu”. Kata-kata ini mau menunjukkan bahwa pertobatan bukan hanya soal pertobatan pribadi dan memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menyangkut hubungan dengan sesama.  Hati adalah sumber segala yang baik dan yang jahat. Karena itu, hati perlu diarahkan kepada Allah dalam doa dan menghidupinya secara pribadi dalam puasa dan pantang serta mewujudnyatakannya dalam tindakan amal kasih kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Dengan kata lain, pertobatan yang dilaksanakan dalam doa kepada Allah dan puasa yang adalah kesalehan pribadi akan membuahkan hasil bila itu ditampakkan dalam tindakan konkret setiap hari.
Doa, puasa, dan amal kasih harus sejalan. Dan itu ditunjukkan Yesus dalam salib-Nya. Meskipun Allah, Yesus tidak mau mempertahankan keallahan-Nya, sebaliknya menjadikan diri-Nya sebagai kurban silih atas dosa-dosa manusia. Salib (vertikal) menunjukkan hubungan Yesus yang tak pernah terputus dengan Bapa yang mengutus-Nya. Dia rela menderita dan taat sampai mati demi keselamatan manusia. Dia juga tidak tinggal pada kenyamanan pribadi. Sebaliknya Dia menunjukkan solidaritas dan cinta-Nya kepada manusia melalui pengorbanan-Nya dengan mati di salib supaya manusia didamaikan dan dibenarkan di hadapan Allah.
Bila Yesus menekankan doa, puasa dan amal kasih dalam khotbah di bukit, itu berarti Dia ingin memperkenalkan Kerajaan Allah yang sudah hadir di tengah-tengah manusia dan mengundang manusia untuk masuk ke dalamnya.
Akan tetapi, supaya karunia yang kita terima dari Allah tidak menjadi sia-sia, perlu usaha-usaha pertobatan dari kita sendiri melalui doa, puasa dan amal kasih.
Dan itu harus dilaksanakan di tempat yang tersembunyi. Artinya, segala usaha pertobatan yang telah dilakukan tak perlu diberitakan kepada orang lain supaya mereka mengetahuinya. Cukup Allah saja yang tahu apa yang kita perbuat di tempat tersembunyi. Dia tahu apa yang kita lakukan sebab bagi-Nya segala sesuatu terang dan tidak tersembunyi. Karena itulah tak perlu kita mencari muka dan berlaku seperti orang munafik dalam menunjukkan sikap pertobatan kita di hadapan Allah. Yang paling penting adalah pertobatan hati dan memberi diri didamaikan dengan Allah oleh Kristus yang telah merelakan diri menderita dan wafat di salib untuk keselamatan manusia. Semua itu harus dilakukan dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas supaya pertobatan kita dapat berbuah dan pada saatnya kita diselamatkan dan dibenarkan oleh Allah. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting