Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

DIPANGGIL UNTUK DIJADIKAN PENJALA MANUSIA (Yun 3:1-5.10; 1Kor 7:29-31; Mrk 1:14-20)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
 Ketika seseorang memanggil yang lain, tentulah ada maksud dari panggilan itu. Mungkin saja untuk bertanya, memperjelas atau memberitahu sesuatu, atau hanya bergurau atau bahkan suatu ajakan. Yang pasti dengan dipanggil, seseorang diajak untuk masuk ke dalam situasi yang memanggil. Yang memanggil tentu saja ingin agar yang terpanggil mengetahui mengapa dia dipanggil. Karena itulah ketika seseorang memanggil kita, kita pasti menjawab: “Ada apa?” yang berarti “Apa yang Anda inginkan daripadaku?” (kecuali memang kalau kita cuek atau tidak mau tahu dengan panggilan itu.)
Keempat murid yang dipanggil oleh Yesus dalam injil hari ini, yakni Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, diajak untuk diberi suatu tugas yang baru. Secara manusiawi mungkin kita bertanya mengapa para murid dengan sangat gampang menerima tawaran panggilan Yesus tanpa bertanya sepatah katapun? Apakah mereka sudah sangat yakin bahwa mereka akan memperoleh kehidupan yang lebih baik bila mengikuti Yesus? Lebih lanjut, apakah mereka sudah tahu risiko dari mengikuti Yesus? Pertama-tama pastilah para murid itu telah mengenal atau sekurang-kurangnya pernah mendengar tentang Yesus, siapa Dia dan bagaimana hidup-Nya. Sebab bila tidak, akan sangat susah meninggalkan kebiasaan yang telah sekian lama mereka hidupi. Kecuali kalau yang mengajak itu dapat memberi jaminan hidup yang lebih baik, maka mereka pun akan mau mengikutinya. Karena pengenalan akan Yesus itulah yang menyebabkan para murid segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus tanpa bertanya banyak.
Keempat murid itu dipanggil untuk ikut serta dalam tugas perutusan-Nya, yakni mewartakan Kerajaan Allah. Para murid ini diajak untuk menjadi rekan kerja (partner) yang dapat membagikan rahmat keselamatan kepada semua orang dan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena itulah hidup mereka akan diubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Yesus menggunakan analogi penjala untuk mempermudah pengertian para murid dalam menerima panggilan Yesus. Dengan berangkat dari latarbelakang sebagai penjala ikan yang harus bekerja siang-malam demi mendapatkan ikan, diterjang badai dan ombak laut, hujan, lapar, haus dan sebagainya, para murid akan dengan sangat mudah mengerti panggilan dan ajakan Yesus. Dan bila Yesus memanggil untuk menjadikan mereka sebagai penjala manusia, mereka pasti sudah bisa menggambarkan situasi yang akan mereka hadapi kelak. Inilah alasan yang membuat para murid mau mengikuti panggilan Yesus.
Bagaimana kita dapat mengerti kehidupan penjala ikan yang akan dijadikan penjala manusia? Seorang nelayan pasti berhadapan dengan tiga hal, yakni jala, ikan dan air (laut dan danau). Laut biasa dimengerti sebagai tempat yang penuh dengan tantangan, karena ombak dan badai dan bahkan ada yang berpendapat laut sebagai tempat tinggal setan atau sumber kejahatan. Jala berarti alat untuk menangkap. Bagi seorang nelayan, jala sangat berarti, sebab itulah sumber mata pencahariannya setiap hari. Bahkan boleh dikatakan bahwa itulah satu-satunya harapan hidupnya. Maka, ketika jala rusak, pastilah sang nelayan akan sangat gusar dan berpikir: “Pendapatanku akan berkurang.” Ketika seorang nelayan menebarkan jalanya, pasti banyak yang masuk ke dalam perangkap jala itu, yang baik dan yang kurang baik, tidak hanya ikan saja melainkan juga sampah. Ikan adalah hal yang sangat dicari oleh seorang nelayan ketika sedang berlayar atau menebarkan jalanya. Bila hasil tangkapan memuaskan, maka nelayan pun akan pulang ke rumah dengan sukacita, tertawa dan bersiul. Tetapi bila tangkapan mengecewakan, misalnya hanya dapat ikan yang kecil atau bercampur sampah, atau bahkan tak menangkap sesuatu pun, nelayan akan sangat stress dan pulang dengan kecewa dan marah. Ini jugalah yang menjadi tantangan seorang nelayan.
Bila ketiga hal dari penjala ikan ini disandingkan dengan tugas sebagai penjala manusia, tentu saja tidak akan jauh berbeda. Dalam refleksi saya, panggilan menjadi penjala manusia kurang lebih sama seperti kehidupan sebagai penjala ikan. Hanya beda konteksnya saja. Dengan menggunakan analogi, laut adalah dunia ini, jala adalah alat untuk mengumpulkan dan ikan adalah manusia. Dunia dalam artian analog merupakan tempat segala sesuatunya ada, kebaikan dan kejahatan, manusia, dan setan pun. Dalam dunia ini, banyak hal yang membuat manusa sangat mudah terjebak dalam dosa dan kejahatan. Gelombang dunia yang kuat kadang membawa manusia kepada kematian, baik dalam artian sebenarnya maupun dalam artian analog, yakni hidup dalam dosa. Ikan adalah manusia itu sendiri. Dunia ini, tidak hanya tempat tinggal manusia yang baik saja, tetapi juga yang jahat. Ketika pewarta sabda (penjala) menemukan manusia yang mudah menerima pewartaan Injil, maka penjala manusia akan pulang dengan sukacita dan tertawa. Akan tetapi bila berhadapan dengan manusia yang jahat dan tidak mau tahu dengan pewartaan itu, penjala akan sangat kecewa dan menjadi tantangan yang sangat berat baginya, sebab usahanya gagal. Jala dianalogikan sebagai sarana atau alat yang dapat mengumpulkan atau menangkap. Jala itu sendiri adalah Sabda Allah yang diwartakan oleh para penjala. Sabda Allah-lah yang dapat menangkap atau mengumpulkan manusia yang mendengar pewartaaan itu, yang jahat dan yang baik. Hanya saja tergantung dari sikap dan keterbukaan manusia yang mendengar, menerima atau tidak.
Bagaimana kita mengerti panggilan kita sebagai seorang Kristen saat ini? Setiap orang kristen yang telah dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus dipanggil untuk menjadi penjala manusia di tengah-tengah dunia. Kita dipanggil untuk menjadi cahaya dan terang dunia, ikut serta dalam pewartaan Sabda Allah supaya semakin banyak orang mengalami cinta dan keselamatan dari Allah.
Kita diharapkan mampu menggumpulkan orang yang lemah, yang terpinggirkan dan tak dipandang dunia ini supaya mereka dapat kembali merasakan kedamaian dan cinta kasih Allah. Kita harus berusaha menjadi seperti Yunus yang siap diutus oleh Allah untuk membawa pertobatan kepada bagi banyak orang sehingga mereka diselamatkan. Dan kita harus mempunyai prinsip seperti diajarkan oleh rasul Paulus bahwa dunia yang kita kenal sekarang ini akan berlalu. Sebab itu, kita harus berbuat seolah-olah kita tidak mempunyai apa-apa selain Allah supaya kita dapat fokus pada pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama. Dengan demikian, panggilan kita sebagai penjala manusia akan semakin berkenan kepada Allah dan pewartaan Kerajaan Allah akan semakin diterima dan dihidupi oleh manusia zaman ini. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting