Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

PENGHARAPAN DI MASA YANG AKAN DATANG (Yes 40:1-5.9-11; 2Ptr 3:8-14;: Mrk 1:1-8)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Semangat dasar orang Kristen adalah memiliki pengharapan akan kedatangan Tuhan yang setia pada janji-Nya. Anugerah hidup sekarang ini merupakan kesempatan agar kita hidup suci dan saleh, sebab itulah hal yang paling pantas untuk menyambut kedatangan Hari Tuhan. Tuhan memberi waktu kepada kita untuk bertobat. Dia tetap setia dan sabar menanti kita untuk bertobat dan memperoleh keselamatan daripada-Nya. Inilah hal yang sangat ditekankan dalam Minggu II Adven ini.
Yohanes sebagai utusan Allah tampil sebagai orang yang berseru-seru di padang gurun: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”. Padang gurun yang dimaksudkan di sini adalah situasi di mana orang tidak lagi mempunyai harapan selain berharap supaya segera mati dan mengakhiri penderitaannya. Ibarat seseorang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya di padang gurun dan terancam bahaya kematian dari binatang buas, pasti akan sangat menderita. Maka, tidak mengherankan kalau mereka hanya mengharapkan kematian, sebab tidak mungkin lagi mereka hidup dalam situasi yang demikian. Pengalaman seperti inilah yang sedang dialami oleh bangsa Israel, yakni penderitaan karena Allah menghukum dan membuang mereka akibat dosa dan ketidaktaatan mereka kepada-Nya.
Dalam situasi sulit dan menjalani hukuman, bangsa Israel merasa ditinggalkan Allah. Mereka sebenarnya mengharapkan keselamatan tetapi tidak ada yang datang membangkitkan pengharapan dan menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh. Karena itulah Yohanes tampil sebagai motivator yang membawa pengharapan kepada bangsa. Syarat yang harus dipenuhi supaya keselamatan itu terjadi adalah bertobat dan memberi diri dibaptis. Dan ajakan ini disambut baik oleh bangsa Israel yang tampak dalam penyerahan diri mereka untuk dibaptis dan didamaikan kembali dengan Allah.
Pada kesempatan yang sama, Yohanes mempertegas bahwa dirinya bukanlah “Mesias” yang sedang dinanti-nantikan itu. Dia hanya sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias. Karena itulah dia berkata: “Sesudah aku, akan datang Dia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”. Dengan ini, Yohanes mau mempertegas bahwa penyelamat sesungguhnya akan datang setelah segala sesuatu telah siap. Baptisan yang diberikannya hanya sebagai baptisan pertobatan supaya mereka layak menyambut kedatangan Penyelamat. Sedangkan baptisan yang akan diberikan oleh Dia yang akan datang kemudian (Yesus) adalah baptisan Roh Kudus yang akan menyucikan dan menguatkan mereka supaya mampu memberi kesaksian tentang-Nya di dunia ini.
Pengalaman padang gurun seperti dialami oleh bangsa Israel kerap juga kita alami dalam kehidupan sekarang ini. Kita memang tidak merasakan atau mengalami kehidupan di padang gurun dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi padang gurun yang kita alami saat ini datangnya dari dunia, tempat di mana kita hidup. Dalam kehidupan di dunia ini, sering kita merasa jauh atau terpisah dari Allah karena kita tidak mampu hidup menurut kehendak Allah. Kita selalu hidup sesuai dengan kehendak dan keinginan pribadi serta dorongan nafsu dan bujukan setan.
Tetapi situasi padang gurun itu dapat juga kita alami bukan karena kejahatan yang kita lakukan melainkan karena kita berlaku jujur dan adil serta selalu hidup dalam cinta kasih Allah. Penderitaan kita terima dari dunia yang tidak suka melihat relasi intim dan kesatuan kita dengan Allah dan sesama. Dunia membenci kita dan berusaha untuk mencelakakan serta menjerumuskan kita ke dalam dosa. Karena itu, kita kehilangan pengharapan, sebab segala perbuatan baik yang kita lakukan seolah-olah tidak berguna. Kita merasa bahwa ternyata hidup sesuai dengan kehendak Allah pun tidak juga mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan, melainkan penderitaan.
Akan tetapi melalui Sabda Allah hari ini, kita diingatkan supaya tidak kehilangan pengharapan, sebab Allah tidak pernah lalai untuk menepati janji-Nya. Dia senantiasa ingat akan hamba-hamba-Nya yang selalu berharap dan berpegang teguh pada perintah-Nya. Kita hanya tinggal menanti saat penggenapan janji itu seraya mempersiapkan diri dan berusaha hidup suci dan tak bercela di hadapan-Nya. Bila kita setia dan tetap berharap dalam situasi apapun, maka Allah akan datang untuk menyelamatkan dan memberikan kebahagiaan serta kehidupan kekal kepada kita. Tetapi bila kita masih hidup dalam dosa, maka inilah saatnya kita harus bertobat dan kembali kepada-Nya supaya kita memperoleh keselamatan. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting