Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MEMBANGUN SEMANGAT DOA DITENGAH KAUM BAPAK KATOLIK


Marselinus Limbong, OFM Cap

Sebuah hasil penelitian Tim Sinode VI KAM (Keuskupan Agung Medan) diketahui bahwa umat yang hadir di gereja pada hari minggu hanya sekitar 30%. Kemudian dari 30% ini, 60 % adalah kaum ibu, menyusul kelompok OMK, dan terakhir kaum bapak. Atas pernyataan di atas, mungkin kita bertanya dalam hati apa yang menyebabkan kehadiran kaum bapa digereja pada hari minggu dan di lingkungan sangat sedikit. Hal ini bukan lagi rahasia, bahkan sudah menjadi keluhan umum karena begitu memprihatinkan. Ini sebuah masalah pastoral yang harus segera dijawab. Hasil penelitian Sinode KAM ini, barangkali tidak relevan atau sesuai dengan konteks kita disini, boleh kita tinjau kembali. Atau mungkin masalah ini hanya terjadi ditempat lain, bukan di paroki kita ini?

    Sesuai hasil penelitian TIM Sinode VI KAM mengungkapkan bahwa pada umumnya kaum bapa baru hadir di gereja kalau ada pesta di gereja, ada kegiatan kor, karena anaknya dipermandikan, anaknya menikah atau ada urusan pribadi dengan gereja. Sementara bila kita membaca pesan dari tulisan Mgr. Anicetus Sinaga dalam sapaannya di Majalah menjemaat yang diterbitkan bulan januari 2017 yang lalu dengan tegas menekankan pentingnya peran dan tanggungjawab orang tua yang karena baptisan telah menerima tugas gereja yakni sebagai guru, gembala dan imam bagi keluarganya. Untuk mewujudkan tugas ini akan terasa pincang bila salah seorang misalnya bapak tidak mengambil bagian dalam gerakan doa bersama baik doa di lingkungan maupun misa pada hari minggu di gereja. Tentu praktek doa semacam ini, harus pertama-tama berangkat dari tengah-tengah keluarga dimana bapak adalah imam, yang memimpin bagi keluarga. Perhatian kepada kaum bapak merupakan salah satu dari sasaran atau focus reksa pastoral pada sinode VI KAM ini. Mereka menggarisbawahi bahwa keluarga harus kembali ke semangat awal Jemaat perdana yakni berdoa dan membaca kitab suci dalam keluarga. Sebab dengan ini, keluarga katolik bisa mengatasi kekwatiran yang sering muncul dalam pendidikan anak di tengah keluarga zaman ini. Adalah baik jika kehadiran kaum bapa dalam doa-doa dilingkungan maupun di gereja semakin ditingkatkan.

    Sebagai keluarga katolik harus menyadari bahwa Keluarga merupakan ekklesia domestica, gereja rumah tangga (lihat KGK no. 2685). Sebagai gereja, setiap keluarga katolik dipanggil dan dituntut peran serta aktif orang tua, khususnya kaum bapak dalam mengarahkan keluarganya. Jangan pula bapak hanya mengatakan dengan lantang dan tegas anak-anak ke gereja padahal bapak sendiri tidak pernah mau tahu bagaimana gereja itu. Para orang tualah yang menjadi model sekaligus panutan bagi anak-anak terutama dalam membimbing anak-anak untuk berdoa. Para bapa berdoa merupakan seruan sekaligus ajakan agar para bapak menjalankan apa yang menjadi tanggungjawabnya secara penuh ditengah keluarganya. 

    Paus Yohanes Paulus II pernah membuat sebuah seruan dengan berkata demikian: “hai para bapa dimana tanggungjawabmu untuk mendoakan keluargamu, jangan menyerahkan seluruh tanggungjawab berdoa kepada istri dan anak-anakmu. Kamu sendiri haruslah menjadi contoh sehingga terciptalah keluarga sejahtera dan saleh.

    Sejak nabi-nabi perjanjian lama, kita sudah mendengar bagaimana mereka berdoa mohon penyertaan Tuhan untuk membangun gereja yakni umat Allah. Pengalaman nabi besar seperti Musa selalu berdoa bagi bangsa Israel yang dipimpinnya (Kej.17:8-16). Cerita ini menggambarkan kekuatan doa untuk keberhasilan sebuah perjuangan. Yesus juga memanjatkan doa bagi murid-muridnya (Yoh. 17:1-26). Karya Yesus hanya akan terlaksana karena ada persatuan dengan Allah Bapa dalam doa. Sebagai keluarga katolik diharapkan dalam membangun dan menata bahtera kehidupan keluarga hendak didasarkan pada doa, menyatukan diri dan keluarga dalam doa. Dalam konteks membina doa dikalangan keluarga khususnya kaum bapak, dibeberapa paroki menghidupkan kelompok bapak bapak, yang akrap dikenal dengan PAK (Punguan Ama Katolik). Rasanya bila kaum bapak kuat ditengah hidup menggereja, maka kita pun sebagai satu paroki akan berkembang. Seperti keluarga, jika sosok bapak kuat di tengah keluarga, bapak yang mengayomi anak anak dan istri, maka keluarga itu pastilah sejahtera. Demikian kita sebagai paroki harus memberi hati kepada kaum bapak supaya kita bisa maju. Persatuan dengan bapa dalam doa inilah yang hendak diwujudkan atau disasar atau dijawab dari salah satu permasalahan keuskupan kita pada sinode terakhir ini. ungkapan khas Fransiskus, mari kita mulai lagi.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting