Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

ARTI KEMISKINAN FRANSISKAN BAGI PARA SAUDARA DINA KAPUSIN

SDR. ANSELMUS HUTAURUK

1. Mengabdi Kristus dalam Kemiskinan dan Kerendahan  Hati
Allah Mahatinggi, Tritunggal sempurna dan Keesaan sederhana adalah misteri kerendahan hati. Allah dengan cinta-Nya senantiasa menjalin relasi yang baik dengan seluruh ciptaan-Nya. Relasi Allah ini bukanlah relasi yang hanya terpatri begitu saja, melainkan relasi yang di dalamnya terdapat hubungan kasih murni yang tak terbatas. Kasih melimpah Allah ini menjadi acuan bagi segala hubungan insani dan dasar hidup Ordo Kapusin dalam menghidupi kemiskinan dan kerendahan hati.

Allah sungguh-sungguh telah merendahkan diri-Nya. Perwujudan paling nyata dari kerendahan Allah itu ialah pengutusan Putera-Nya Yesus Kristus, yang menerima segalanya dari Bapa dan berbagi segalanya dengan Bapa dan Roh Kudus, serta diutus mewartakan kabar gembira kepada orang miskin. Yesus Kristus Putera Allah merupakan satu-satunya teladan hidup bagi orang beriman. Sekalipun Dia kaya, melampaui sega-galanya, tetapi Dia mau memilih kemiskinan di dunia ini, bersama Bunda-Nya perawan yang amat berbahagia. Kristus telah mengajarkan kerendahan hati, dan tujuannya adalah untuk membangun hidup atasnya. Bagi Fransiskus kerendahan hati adalah landasan hidup. Kerendahan hati merupakan buah langsung dari Roh Tuhan. Dengan menjadikan diri rendah hati, itu berarti bahwa kita telah memberi tempat bagi Allah.  

Dengan berbekal keyakinan dan keterpesonaan pada Yesus Kristus, dengan penuh keyakinan, Fransiskus meninggalkan kemegahan hidup dunia ini dan beralih pada pilihan hidup miskin. Perlahan namun pasti, Fransiskus menyadari bahwa cara hidup yang dipilihnya ini adalah hidup yang sungguh-sungguh membahagiakan. Pencarian-nya selama ini, kini menghasilkan buah yang menyukakan hati. Kemiskinan yang diterima Fransiskus dengan sukarela ini, menjadikan dia menghayati kerendahan hati Yesus Kristus. Bagi Fransiskus kerendahan itu merupakan suatu sikap kerelaan hati, yang mau dibina dan dibimbing oleh Yesus. Kerendahan hati ini menjadikan diri Fransiskus berbahagia menjadi pelayan yang tunduk kepada setiap ciptaan demi cinta kasih Allah. Kerendahan hati telah menjadikannya sangat menghargai dan menghormati setiap saudaranya dengan penuh bakti, serta melayani mereka dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Dengan menjadi pelayan, pada akhirnya Fransikus mampu untuk semakin setia dan taat melaksanakan kehendak Bapa yang ada di surga.

Saudara Dina Kapusin melihat bahwa dengan memilih hidup miskin seturut kemiskinan injili, akan menjadikan setiap saudara untuk turut ambil bagian dalam hubungan selaku anak terhadap Bapa dan dalam keadaan-Nya sebagai saudara dan hamba ditengah manusia, dan juga mendorong setiap saudara untuk hidup setia kawan dengan rakyat kecil di dunia ini. Para Saudara Dina Kapusin mesti menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk mengikuti dan meneladani Kristus. Dengan meneladani Kristus, berarti dia menyatukan diri dan bersedia dibimbing oleh-Nya. 

Tidak ada seorangpun yang dapat menyebut dirinya sebagai orang yang rendah hati jikalau dia kerapkali memojokkan saudaranya, dan tidak mau berlaku sebagai pelayan. Kerendahan hati berbuah dalam tindakan, penghargaan kepada orang lain, tidak mengagungkan diri, tetapi berani menjadi hamba dan pelayan bagi sesamanya. Orang yang rendah hati tidak akan menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain, melainkan tampil menjadi seorang hamba dan bawahan semua orang demi Allah.

2. Hidup dalam Kedinaan

Bagi Fransiskus Injil merupakan suatu kehidupan. Melalui Injil, Fransiskus menemukan Kristus, yang dekat dengan orang-orang tertindas dan miskin. Bagi Fransiskus setiap kali melihat dan berjumpa dengan orang-orang miskin, dia seakan-akan sedang bertemu dengan Yesus Kristus. Dalam hidupnya Fransiskus senantiasa merenungkan warta Injil. Semakin banyak merenung, dia merasa semakin dekat dengan Yesus Kristus. Fransiskus telah menemukan hidupnya yang sesungguhnya dalam pengosongan diri Kristus (Kenosis). Baginya satu-satunya jalan hidup yang paling luhur dan mulia hanyalah mengikuti cara hidup Yesus yang merendahkan diri ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia bukanlah semata-mata hanya mengambil rupa sebagai manusia, tetapi lebih dari itu, Dia datang dengan mengambil rupa sebagai seorang hamba.

Hingga sekarang, hidup dalam kedinaan menjadi warisan yang sangat berharga dari Fransiskus bagi para saudara-saudaranya. Dengan niat dan tekad yang murni Fransiskus dalam Wasiat-nya menamakan dirinya “saudara dina.” Kemudian hari persaudaraannya pun dia sebut “Ordo Saudara Dina.” Fransiskus menekankan kepada para saudara-nya agar jangan sekali-kali menginginkan dirinya menjadi lebih besar atau lebih tinggi dari orang lain, tetapi tampil seturut panggilan-nya masing-masing dengan mengambil dan menempatkan diri sebagai orang yang paling rendah. 

Para Saudara Dina Kapusin dipanggil untuk berani hidup menjadi saksi kemiskinan injili. Kemiskinan injili itu adalah hidup dalam kedinaan dan persaudaraan. Hidup dengan kedinanaan berarti tidak berambisi mencari dan mengejar segala bentuk-bentuk kuasa, gengsi, dominasi sosial, politik dan gerejawi. Kedinaan menuntut setiap Saudara Dina Kapusin untuk berani hidup menjadi seorang pelayan, yakni pelayan yang mau melayani dan menerima situasi hidup yang rawan tanpa jaminan sebagai saudara dina. Dengan menjadi pelayan, berarti menjadikan diri lebih rendah dari yang lain dan tunduk kepada semua orang. 

Bagi Saudara Dina Kapusin, sikap rendah dan tunduk, menandakan bahwa masing-masing saudara memiliki sikap kerendahan hati yang mendalam. Tanpa sebuah kerendahan hati, mustahil bahwa saudara itu dapat hidup dina. Kemiskinan-kedinaan berada di atas segalanya dan menjadi suatu cara berada di hadapan Allah yang Mahatinggi.

Hidup dengan kedinaan erat hubungannya dengan kerelaan hati untuk menjadi hamba dan bawahan sekalian orang. Fransiskus sendiri, bapak serafik kita, tidak pernah merasa segan apalagi malu menyebut dirinya sebagai manusia yang dicela dan makhluk Tuhan yang tidak pantas. 

Dalam Konstitusi Kapusin 2013, Ordo Kapusin kembali menegaskan bahwa hal yang paling penting dari segala yang dijanjikan adalah kesetiaan untuk melaksanakan semua yang telah diikrarkan dengan penuh cinta. Sungguh agunglah yang telah kita janjikan namun lebih agunglah yang dijanjikan pada kita. Konstitusi Kapusin 2013 mengajak saudara agar sadar akan panggilannya masing-masing. Mereka diajak untuk memeluk segala tuntutan hidup tanpa milik, dengan menyadari bahwa tanpa kedinaan, kemiskinan itu tidaklah berarti dan menjadi kesombongan; begitu juga sebaliknya tanpa kemiskinan, kedinaan menjadi sebuah kebohongan. Panggilan hidup yang ditempuh oleh para Saudara Dina Kapusin mengharuskan mereka untuk tetap berada pada posisi kedinaan sempurna.
Kedinaan memancarkan sikap kesederhanaan hati. Orang yang sederhana adalah orang yang menampilkan diri apa adanya, tidak mengagung-agungkan apa yang menjadi milik dan kelebihannya. Bagi Fransiskus sendiri kesederhanaan adalah sikap yang mengutamakan orang lain. Dalam kesederhanaan, Fransiskus menyatakan bahwa hanya Allah sajalah yang merupakan kebaikan sempurna, Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis, lembut, kudus, adil, benar, suci dan tulus. Karena Allah adalah pemilik segalanya, maka semuanya pun harus dikembalikan kepada-Nya dengan penuh syukur. Kesederhanaan menuntut agar jangan menjadi orang arif dan bijaksana menurut daging, tetapi lebih-lebih menjadi sederhana, rendah dan murni dalam hidup sehari-hari.

3. Memupuk dan Mengembangkan Semangat Pelayanan

Allah telah lebih dahulu mencintai manusia dan berbicara kepada mereka dengan berbagai cara: dalam segala makhluk, dalam tanda-tanda zaman, dalam hidup manusia, dalam hati kita dan khususnya melalui Firman-Nya, dalam sejarah karya keselamatan. Cinta yang diberikan Allah ini adalah cinta yang tidak menuntut balasan. Satu hal yang diinginkan-Nya hanyalah supaya ciptaan-Nya hidup dalam cinta dan pada akhirnya mampu menjadi pembagi cinta pada sesamanya. Cinta Allah ini adalah cinta untuk saling melayani. 

Melayani bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, karena memang tidak banyak orang yang bersedia untuk itu. Agar sampai pada hal ini, dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Fransiskus, bapak serafik Ordo Kapusin, telah menunjukkan kepada banyak orang bahwa dia bisa menjadi seorang pelayan, tentunya dengan menunjukkan hal itu dalam hidupnya. Fransiskus menyebut dirinya sebagai orang kecil dan hamba. Atas dasar ini, dia berkeyakinan bahwa menjadi suatu kewajiban baginya untuk melayani semua orang dan tunduk kepada mereka. 

Yesus bukan hanya berbicara maupun mengajarkan bagaimana caranya melayani, tetapi Dia juga melakukannya dalam hidup-Nya. Hal itu tampak dari apa yang dikatakan-Nya bahwa Dia datang ke dunia ini untuk melayani bukan untuk dilayani (Mat 20:28; Mrk 10: 45). Untuk membuktikannya, Dia membasuh kaki para Rasul dan menganjurkan mereka berbuat yang sama (Yoh 13:2-7).

Dengan teladan Fransiskus, para Saudara Dina Kapusin bercita-cita menghidupi semangat pelayanan yang telah dimulai oleh para pendahulu. Saudara Dina Kapusin dengan segala kharismanya, berusaha menjadikan diri-nya sebagai pelayan yang tampil sebagai hamba bagi saudaranya dan bagi setiap orang. Dengan memposisikan diri sebagai pelayan, berarti para Saudara Dina Kapusin menjauhkan dirinya dari sikap gila akan kekuasaan. Bukankah Fransiskus menghendaki agar saudara-saudara-nya jangan berkuasa atau pun menjadi tuan, terlebih di antara mereka. 

Berkaitan dengan hal di ini, Konstitusi Kapusin 2013 mengingatkan semua saudara, terkhusus para minister dan guardian, agar melayani saudara-nya dengan rendah hati, dengan mengingat bahwa mereka sendiri harus mentaati Allah dan para saudara. Hendaklah mereka menerima pelayanan persaudaraan sebagai rahmat dan menghayatinya sebagai ketaatan sejati, khususnya bila menghadapi kesulitan dan tidak dimengerti. 

Dalam Konstitusi Kapusin 2013 disebutkan, bahwa hal yang pertama dan terutama yang mesti dilayani adalah Tuhan, sebab dari pada-Nyalah berasal segala yang baik. Dengan melayani Tuhan, pada akhirnya, kita dimampukan untuk melayani sesama. Pelayanan ini haruslah berdayaguna, dan dapat dirasakan secara nyata oleh mereka yang menerimanya, terlebih mereka yang miskin papa. Yang dimaksudkan dengan kaum miskin papa di sini adalah mereka yang tertindas, berada di pinggiran masyarakat, kaum lanjut usia, mereka yang sedang sakit, angkatan muda, siapa saja dan semua yang dianggap dan diberlakukan sebagai yang paling hina.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting