Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Penyerahan Diri Total Kepada Penyelenggaraan Ilahi


Anselmus Metmet Hutauruk

Ketika Yesus dipaku di atas kayu salib, sebelum wafat, Dia mempercayakan nyawa-Nya kepada Bapa di surga (Luk 23:26; Yoh 19:30). Fransiskus melihat penyerahan diri Yesus ini sebagai suatu ungkapan kesetiaan pada penyelenggaraan ilahi. Kesetiaan Yesus ini, meyakinkan Fransiskus untuk percaya dan berani menaruh hidup pada penyelenggaraan-Nya. Baginya Tuhan adalah “Kebaikan sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar, untuk semua orang kudus yang bersuka-cita bersama-sama di surga.”

 Fransiskus tampaknya tidak ragu-ragu dengan pilihannya ini. Suatu peristiwa yang menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh dengan pilihannya, tampak ketika dia dihadapkan oleh bapanya (Pietro Bernardone) kepada Uskup Guido dan orang banyak di balai kota Assisi, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukannya. Namun, justru dalam peristiwa yang begitu menegangkan ini, Fransiskus memberi jawaban yang meyakinkan. Dengan penuh suka cita, Fransiskus menanggalkan seluruh pakaiannya dan dengan lantang berkata di hadapan orang banyak “Dengarlah kalian semua dan hendaklah paham. Sampai sekarang Pietro Bernardone adalah ayah saya, akan tetapi […] selanjutnya saya boleh berkata “Bapa kami yang ada di surga”, bukan Bapa Pietro Bernardone”.

Semenjak peristiwa ini, Fransiskus berusaha keras untuk meremehkan hidupnya sendiri dan melepaskan segala kekhawatiran atas hidupnya, serta menyerahkan seluruh hidupnya ini pada penyelenggaraan ilahi. Dia tidak pernah lagi merasa ragu untuk mengikuti Kristus, dan Injil-Nya. Dia benar-benar meninggalkan segalanya dan menjadikan salib sebagai kekuatan hidupnya.
Bagi Fransiskus Allah adalah satu-satunya sumber cinta kasih. Karena itu, dia mengajak saudara-saudara-nya untuk menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak baik, menyingkirkan segala kecemasan dan semua kesibukan. Tetapi berusaha untuk senantiasa mengabdi, menyembah dan menghormati Tuhan Allah dengan hati yang suci dan budi yang murni.
Sebagai putera-putera Fransiskus, para Saudara Dina Kapusin dipanggil untuk mengikuti dan menerima kemiskinan Yesus Kristus, serta mengarahkan diri pada penyelenggaraan-Nya. Mengarahkan diri kepada penyelenggaraan ilahi berarti memusatkan pandangan dan hati kepada-Nya. Para Saudara Dina Kapusin menyadari bahwa sebagai anak-anak Bapa yang kekal, hendaknya mereka masing-masing menyingkirkan segala kegelisahan dan kecemasan, dengan selalu mengandalkan penyelengg
araan ilahi dan mempercayakan diri kepada kebaikan-Nya yang tidak terbatas.

Salah satu yang menjadi tanda bahwa Ordo Kapusin percaya pada penyelenggaraan ilahi, ialah dengan mendekatkan diri pada kehidupan doa. Doa kepada Allah adalah nafas cinta, lahir dari dorongan Roh Kudus, dengannya manusia batin siap sedia mendengarkan suara Allah yang berbicara kepada hati. Dalam doa, Saudara menjawab Allah yang berbicara kepada kita, dalam doa kita mencapai kepenuhan,  serta bersatu dengan Dia dan Putera-Nya.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting