Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENSYUKURI DAN MENGEMBANGKAN TALENTA YANG DIBERIKAN TUHAN (Ams 31:10-13.19.30-31; 1Tes 5:1-6; Mat 25:14-30)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Setiap orang pasti memiliki bakat; ada orang yang berbakat sebagai petani, peternak, tata busana, musisi, tata boga dan sebagainya. Bakat itu tidak hanya dimiliki oleh orang normal saja, tetapi juga dimiliki oleh orang-orang cacat. Bakat atau kemampuan itu dapat menunjukkan identitas diri seseorang yang khas atau menjadi suatu keistimewaan dalam dirinya. Maka, bakat sebagai bagian dari diri harus dikembangkan supaya berguna bagi diri sendiri dan terutama orang lain. Bila bakat itu hanya untuk diri sendiri, maka dengan sendirinya bakat itu akan mati. Akan tetapi bila dikembangkan sehingga bermanfaat bagi orang lain, itu akan menjadi pujian bagi dirinya sendiri dan kebahagiaan bagi sesama.
Perumpamaan tentang talenta yang diceritakan oleh Yesus dalam injil menjadi suatu tanda bahwa segala bakat dan anugerah yang kita miliki harus dikembangkan. Dalam perikop ini, Yesus mengetengahkan bahwa setiap orang dipanggil untuk turut dalam kebahagiaan surgawi. Tetapi dengan catatan bahwa kita harus menyelesaikan tugas yang telah diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Contoh dalam injil yang menerima lima, dua dan satu talenta dapat menjadi insipirasi bagi kita dalam memilih apa yang harus kita lakukan. Kita harus yakin bahwa pemberian talenta itu, pasti telah melewati pertimbangan dan perhitungan yang sangat matang, hanya mungkin kita kurang menyadarinya.
Hamba yang mendapat lima dan dua talenta, selekas mendapat tugas dari tuannya segera berpikir untuk memberikan yang terbaik bagi mereka dan untuk tuannya. Maka, mereka pun mulai bekerja keras dan mengolah talenta yang telah dipercayakan kepada mereka. Tak sedikitpun mereka lengah atau terbuai dengan berbagai macam godaan dan tantangan dalam mengembangkan bakat itu. Dan pada akhirnya mereka pun memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan tuannya, dan mereka pun diikutsertakan dalam kebahagiaan tuan mereka. Tetapi hamba yang menerima satu talenta tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Sebaliknya, dia malah menguburkan talenta yang ada padanya, yang pada akhirnya menuai hasil dari perbuatannya dan dibuang ke tempat yang paling gelap.
Apa sebenarnya makna talenta dalam perumpamaan itu? Talenta yang dimaksud adalah warta injil tentang Kerajaan Allah untuk saling mengasihi satu sama lain dan terutama mengasihi Allah yang memberikan talenta itu. Injil cinta kasih itu telah diwartakan dan diterima oleh setiap orang, maka harus dikembangkan sehingga orang lain juga dapat menerimanya. Dengan demikian akan semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Kristus.
Allah memberikan kita semua kemampuan untuk mewartakan injil tentang cinta kepada Allah dan sesama. Kita semua dipanggil dan diutus untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan tugas perutusan kita masing-masing. Realisasi cinta kepada Allah adalah cinta kepada sesama, yakni dengan memperhatikan orang miskin dan menderita, yang tertindas dan yang membutuhkan pertolongan sebagaimana menjadi keutamaan seorang istri yang cakap. Istri yang cakap tidak mencari pujian bagi diri sendiri, tetapi yang paling penting adalah takut akan Tuhan dan berjaga supaya pada saat kedatangan Hari Tuhan, kita pun siap menyambutnya.
Pentingnya sikap berjaga-jaga dalam menanti kedatangan Tuhan menuntut kita untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada kita. Sebab kita tidak tahu pada saat kapan atau bagaimana Tuhan akan datang menghampiri kita. Tetapi satu hal yang sangat perlu adalah tetap berjaga dan melaksanakan tugas perutusan yang telah dipercayakan kepada kita. Oleh karena itu, selekas kita menerima tugas perutusan, selekas itu pulalah kita harus berjuang menghasilkan sesuatu yang berharga sebelum Tuhan mengadakan perhitungan dengan kita. Kita tak perlu menunda-nunda waktu seraya berpikir bahwa kedatangan Hari Tuhan masih lama. Tapi apa yang dapat kita buat sekarang, itulah yang harus kita laksanakan.
Kita semua diundang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, tempat di mana Allah akan mengikutsertakan kita dalam kebahagiaan-Nya. Tetapi kita mesti melakukan sesuatu dan berjuang untuk dapat masuk ke dalamnya. Tanpa usaha dan kerja keras, kita tak mungkin berhasil masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sekecil apapun hasil yang peroleh, pasti akan sangat berharga bagi Allah, sebab Dia tak melulu melihat hasil melainkan juga usaha dan perjuangan kita. Bila kita mau mengembangkan bakat-bakat yang kita miliki, maka kita pun akan menerima ganjaran kebahagiaan dan berkat dari Allah. Akan tetapi, bila kita mengubur bakat-bakat itu, maka tak pernah kita akan berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan. Dan bahkan, kita akan menerima hukuman berat yang setimpal dengan perbuatan kita. Oleh karena itu, mari selaku anak-anak terang senantiasa hidup dalam kasih karunia Allah dengan mencintai Allah dan sesama seraya mengembangkan bakat dan kemampuan yang diberikan kepada kita. Dan mari kita tetap berjaga-jaga dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan setiap saat. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting