Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

KECAKAPAN HIDUP ADALAH KREDIT ALLAH UNTUK HIDUP MANUSIA


Renungan Minggu Biasa Ke-33:
Bacaan 1 Ams 31:10-13.19-20.30-31
Mazmur: Mzm 128:1-2.3.4-5
Bacaan II 1 Tes 5:1-6
Injil: Mat 25:14-30


Oleh Sdr. Henrik Payansius Jonan, OFMCap

Bapa ibu saudara saudari yang terkasih!
Saat ini banyak orang berlomba-lomba mencari sesuap nasi atau penghasilan dengan berusaha untuk diterima sebagai pekerja di suatu lembaga atau perusahaan yang mampu memberi upah yang cukup besar. Untuk mereka, perusahaan memberikan uji kelayakan dengan melihat keterampilan dan keahlian serta pengalaman kerja yang dituntut. Maka, perusahaan hanya boleh menerima pekerja yang memiliki keterampilan dan keahlian serta pengalaman kerja yang sesuai dengan tuntutan lembaga atau perusahaan tersebut. Gambaran ini singkatnya hanya mau mengatakan bahwa keterampilan dan keahlian serta pengalaman kerja mutlak perlu demi menjamin kesejahteraan hidup. Keterampilan dan keahlian serta pengalaman kerja menjadi pintu bagi keberhasilan dalam hidup. Keterampilan dan keahlian serta pengalaman kerja menjadi akses menuju kemapanan hidup di masa depan, hidup bahagia dan sejahtera. 
Bapa ibu saudara saudari yang terkasih!
Bacaan-bacaan suci yang diketengahkan kepada kita dalam perayaan iman hari ini berbicara tentang nilai dan makna kecakapan yang dikembangkan manusia dalam praktek hidup yang tekun. Bacaan pertama menggambarkannya melalui kisah gambaran seorang isteri yang cakap. Sedangkan Injil Matius melukiskan dan menerangkannya dengan menampilkan kisah perumpamaan tentang talenta. 
Bacaan pertama berbicara tentang seorang istri yang cakap. Kitab Amsal 31:10-13.19-20.30-31 menggambarkan seorang isteri (personifikasi dari hikmat) yang cakap itu dengan kemampuan, kekuatan dan keterampilan serta kecakapan yang dimilikinya dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kekuatan, kemampuan dan keterampilan ini sungguh memberi arti dan nilai dirinya sebagai seorang ibu rum
ah tangga. “Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” (Ams 31: 10b-2). Di dalam diri sang isteri yang cakap ada suatu nilai dimana selama hidupnya ia menginginkan kebaikan semata. Isteri yang demikian sungguh membahagiakan, artinya ia menguntungkan (suaminya tidak pernah menyesal memilih dia sebagai isteri) dan sungguh dipercayai oleh suaminya.
Kitab Amsal menggambarkan bahwa kecakapan seorang isteri tampak dalam keterampilan mengembangkan industri rumah tangga, yakni dengan memintal dan menenun. Karya itu kelihatannya sungguh sederhana, namun sangat bermakna dalam kehidupan rumah tangga. Karyanya dilaksanakan dalam ketulusan dan tanpa ada paksaan. Dia melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Karyanya yang sederhana itu mampu menopang dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dari karyanya terungkap nilai dan makna dirinya sebagai seorang isteri yang cakap. Di tengah kesibukan kerjanya di rumah yang selalu mendatangkan uang, sang isteri juga masih meluangkan waktunya untuk peduli menolong orang yang tertindas, orang susah, orang miskin dan berkekurangan. Ia menjadi pelajaran bagi orang yang hidupnya sukses tatapi dalam hidup sehari-hari sungguh tidak peduli dengan sesamanya. Isteri yang cakap juga tampak dalam kehidupan di mana ia tidak hanya bersolek untuk semata-mata memelihara daya tarik tubuh, tetapi ia sungguh seorang wanita yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan dalam konteks ini berarti bahwa seluruh hidupnya dibangun atas sikap kagum dan hormat kepada Allah yang mendorong sikap sembah dan taat pada perintah Allah. Takut akan Tuhan itu berarti bahwa ia sungguh seorang isteri yang tidak mengandalkan dirinya sendiri tetapi ia percaya akan rencana Allah, membenci dan menjauhi kejahatan tetapi serentak juga tidak mencemburui orang jahat. Singkatnya, kecakapan hidupnya sungguh membahagiakan suaminya dan juga turut ambil bagian dalam menjaga harga diri dan popularitas serta nama baik suaminya.
Bapa ibu saudara saudari yang terkasih!
Sabda Tuhan Yesus pada hari ini juga berbicara tentang kecakapan dalam hidup.  Melalui perumpamaan tentang talenta, Yesus sesungguhnya mau menegaskan bahwa betapa pentingnya kecakapan ditampakkan dalam praktek hidup yang tekun. Kecakapan hidup harus dikembagkan melalui praktek hidup yang tekun. Ini adalah suatu tugas kita sebagai manusia, orang-orang kepercayaan Allah. Kecakapan hidup adalah tanda bahwa kita sungguh diberi kepercayaan oleh Allah. Kita sungguh diberi Kredit (kata kredit sendiri berarti percaya, kata Latin Credere) talenta oleh Allah untuk menghasilkan bunga dan buah dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah memberi kita kepercayaan melalui talenta yang ada dalam diri pertama-tama agar kemanusiaan kita sungguh diekspresikan dalam hidup sehari-hari. 
Talenta itu adalah hal atau perkara kecil yang diberikan Allah yang hanya bernilai lima, dua dan satu saja. Nilai lima, dua dan satu itu secara nominal dan kasat mata sangatlah kecil. Akan tetapi lima atau dua atau bahkan satu talenta saja akan akan cukup menjadi modal bagi kita untuk menghasilkan hala-hal besar dan mengagumkan bila itu dikembangkan dalam semangat hidup yang berketekunan. Dua hamba pertama, yakni hamba yang diberi lima dan dua talenta menggandakannya dengan percaya diri dan penuh semangat.  Mereka melakukan hal kecil dengan penuh semangat karena selama mereka melakukan hal-hal kecil itu mereka memikirkan hal-hal besar yang akan dibuat Allah terjadi dalam pekerjaan kecil yang mereka lakukan itu. Melakukan hal-hal kecil dengan pikiran dan semangat besar tentu akan menghasilkan karya besar. Buahnya adalah hasil yang berlipat ganda yang menggembirakan diri sendiri, sesama dan tentu juga Allah yang melihat hidup kita yang sungguh berkembang. Sebaliknya karya yang kecil atau bahkan yang besar sekalipun akan kehilangan daya produktifnya apabila dikerjakan tanpa semangat dan motivasi yang besar (direperesentasikan dengan orang yang tidak mau menggandakan satu talenta).
Bapa ibu saudara saudari yang terkasih!
Keterampilan, kecapakan dan bakat alamiah yang kita miliki adalah tanda bahwa kita adalah orang-orang kepercayaan Allah. Karena untuk Allah kita bukalah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan melainkan anak-anak terang dan anak-anak siang (I Tes 5: 4-5). Ini adalah tanda bahwa Allah sungguh menaruh kepercayaan pada kita. Orang yang mengekspresikan keterampilan kecakapan dan bakat yang dimilikinya adalah juga orang yang percaya pada Allah. Orang yang terampil, cakap dan berbakat adalah orang yang mengekspresikan perasaan iman akan Allah yang selalu memberi kepercayaan kepada manusia. Orang yang mengembangkan bakat keterampilan dan kecakapan hidup yang ditampakkan dalam praktek kerja yang tekun sesungguhnya adalah orang yang percaya adanya Allah. Jika demikian adanya, maka kita adalah orang-orang yang dipercayai dan percaya pada Allah. Karena itu bersyukurlah kepada Allah atas segala keterampilan, kecakapan dan bakat yang kita miliki. Kembangkanlah semuanya itu dalam seluruh pekerjaan kita dengan penuh semangat dan iman akan Allah yang selalu menaruh kepercayaan pada apa yang kita lakukan. Semoga.


Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting