Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

BERDOA DENGAN HATI MURNI (AngBul X: 7-11)

Sdr. Anselmus Hutauruk
Tanpa bermaksud untuk mendahului para saudara, saya mau mengatakan tentulah kita semua tahu apa itu doa. Pastilah masing-masing saudara mempunyai pemahaman yang berbeda akan doa itu. Setidaknya pemahaman sekarang sebanyak jumlah kita yang ada di ruangan ini. Pemahaman yang berbeda ini tergantung pada pengalaman dan situasi batin dari para saudara/seseorang,  tetapi walaupun berbeda, pada hakikatnya makna dari pemahaman-pemahaman itu tetaplah mengarah pada satu tujuan, yakni pada yang Ilahi. Dalam persaudaraan kita, persaudaraan Kapusin tercinta ini, dikatakan bahwa doa kepada Allah sebagai nafas cinta, lahir dari dorongan Roh Kudus, dengannya manusia batin siap sedia mendengarkan suara Allah yang berbicara kepada hati. Secara pribadi saya sendiri sependapat dengan apa yang dikatakan dalam konstitusi tersebut, karena memang demikianlah adanya doa itu.
Dalam pengalaman sederhanaku, bagiku doa adalah suatu komunikasi intensif dengan Allah yang saya cintai dan begitu mencintai saya, berdoa membuat diriku menjadi akrab dengan Tuhan. Keakraban inilah yang memampukan diriku semakin mengenalnya. Sebagai orang yang terpanggil saya menyadari bahwa doa adalah indentitasku yang paling khas. Karena sebagai identitas yang paling khas, tentulah doa itu mesti diwujudnyatakan dalam hidup setiap hari. Mengapa identitas itu mesti diwujudnyatakan? Supaya tidak hanya berhenti pada diriku sendiri. Perwujudnyataan itu tentulah ditunjukan melalui hidup pelayanan sehari-hari. Karena melalui hidup pelayanan itu semua orang tanpa terkecuali mampu melihat dan merasakan kebaikan dan kemurahan hati Allah yang hadir di dunia ini.
Berdoa kepada Bapa dengan hati murni. Satu kalimat yang begitu menarik perhatianku dari pasal yang ke X dalam AngBul ini. Berdoa dengan hati murni merupakan  suatu tindakan yang layak untuk Tuhan. Mengapa harus dengan hati? Tidak bisa kah dengan bibir yang manis dan seksi ini. Tidak bisa tidak sebagai orang beriman katolik terkhusus sebagai orang yang terpanggil, satu-satunya cara yang paling baik adalah berdoa dengan hati. Tidak cukup hati yang biasa saja tetapi hati yang luar biasa yakni hati yang murni. Berbicara kepada Dia sang Empunya kehidupan mesti dengan hati, bukan dengan bibir semata. Berdoa kepada Allah tidak cukup hanya dengan mengandalkan bibir/mulut. Memang  bibir bisa saja merangkai dan mengeluarkan ribuan untaian kata-kata manis yang puitis, dan indah didengar, tetapi belum tentu sejalan dengan suasana batin yang tulus dan suci. Berdoa hanya dengan mengandalkan bibir sama saja mengurung diri dalam kemunafikan yang akan merusak kemurnian. Orang yang berbicara kepada Allah dengan mulut tidaklah berdoa (demikian dikatakan dalam konstitusi kita).

Berdoa dengan hati murni membawaku kepada pengalaman intim akan Allah. Bagiku berdoa dengan hati murni itu sederhana saja. Datang apa adanya kepada Tuhan, mencurahkan isi hatiku kepada-Nya, tanpa ada/banyak embel-embel lain. Berdoa dengan hati murni berarti memberikan semua pikiran dan perhatian kepada kepada Allah dan bukan kepada yang lain. Hati yang murni tidak mempertimbangkan apapun, hati yang murni membuatku mampu untuk melihat Allah, melihat kuasa-Nya, melihat rencana-Nya dan melihtat rahmatnya mengalir dalam hidupku. Mengapa aku perlu berdoa dengan hati yang murni? Sebagai tanda baktiku kepada Dia yang telah memanggilku. Berdoa dengan hati yang murni  (sangat) menentukan mutu dari sebuah doa kita. Segala sesuatu dimulai dari hati, seperti air mencerminkan wajah, demikian hati manusia mencerminkan manusia itu sendiri. Semakin murni hati dalam berdoa maka semakin terbukalah kesempatan mendengarkan Tuhan.
Pertanyaan bagi kita: Saudara..., terlalu sulitkah berdoa? ya, bagi mereka yang melakukannya dengan tekanan dan paksaan. Saudara…, apakah berdoa itu sulit?, ternyata tidak sulit bagi orang-orang yang sungguh rindu untuk berdoa, yang menjadikan doa itu sebagai nafas hidupnya!Ya, seperti semudah dan seindah ketika anda secara otomatis bernafas. Seperti bahagianya seorang anak ketika berkomunikasi dengan ayahnya. Saudara sulitkah berdoa? Oh tidak, semudah bila saja kita mau segera mencoba dan bertindak. Ibarat lampu listrik tinggal tekan stop kontak maka lampu akan segera menyala. Begitulah berdoa tingaal buka hati, datang, duduk, maka semua akan terasa lebih indah.  Tapi sekali lagi perlulah diwaspadai supaya  jangan seperti kelihatan seorang  yang berdoa, tetapi (hendaklah). seluruh dirinya telah menjadi doa. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting