Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENJADI PENGGARAP KEBUN ANGGUR TUHAN YANG BERBUAH LIMPAH (Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Allah senantiasa memperhatikan setiap pertumbuhan umat-Nya, walau tanggapan umat tidak seperti yang diharapkan-Nya. Namun Allah tetap Allah penolong dan sumber damai sejahtera seperti peneguhan Paulus kepada jemaat di Filipi yang mudah cemas dan khawatir. Gereja pun dipanggil untuk melaksanakan kehendak Allah dengan menggarap kebun anggur-Nya, dengan terus memurnikan hidup batin dari unsur-unsur yang menjauhkan kehadiran Yesus.
Ketiga bacaan hari ini mengisahkan tentang bagaimana cinta kasih Allah yang senantiasa sabar terhadap perlakuan seluruh umat-Nya. Sejak awal, Allah telah menunjukkan cinta itu melalui perlindungan, berkat dan rahmat yang telah diterima oleh setiap orang. Allah tetap menjaga, melindungi dan memelihara seluruh umat-Nya tanpa terkecuali supaya manusia dapat sampai pada kesadaran bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadi pemilik segala sesuatu, terutama kehidupan. Karena itu, sebagai umat yang telah ditebus oleh Kristus melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, manusia dituntut untuk menyadari panggilan masing-masing yakni menjadi penggarap-penggarap kebun anggur yang menghasilkan buah limpah.
Perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus merupakan suatu analogi tentang Allah yang menyerahkan kepada manusia suatu pengelolaan atas kehidupan. Tuan atau pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri; penggarapnya adalah manusia; kebun anggur adalah hidup manusia itu sendiri. Sebagai pemilik kebun anggur kehidupan, Allah tentu ingin agar kebun anggur itu berbuah banyak dan terhindar dari segala ancaman. Maka, Dia mendirikan menara jaga dan membuat pagar di sekelilingnya supaya kebun anggur itu merasa nyaman dan dapat menghasilkan buah. Dia juga mencangkul dan memberi pupuk demi pertumbuhan kebun anggur itu. Pemeliharaan kebun anggur itu dipercayakan kepada manusia dengan harapan akan menghasilkan buah berlimpah. Artinya, manusia hanya diberi tugas sebagai pengolah dan bukan pemilik, sebab hanya satu yang menjadi pemiliknya, yakni Allah sendiri.Maka, manusia harus senantiasa menjaga dan memeliharanya dengan baik dan bukan merusaknya.
Tugas utusan-utusan atau hamba yang diutus kepada para penggarap untuk menerima hasil bagi tuan kebun anggur adalah para nabi dan Putra kesayangan Allah sendiri, yakni Yesus. Pada masa Perjanjian Lama, para nabi diutus Allah untuk mengarahkan, memimpin, dan membawa umat Israel kembali kepada Allah. Setiap kali berpaling dari-Nya, Allah mengutus para nabi untuk mengingatkan mereka supaya bertobat. Akan tetapi, teguran itu ternyata tidak ditanggapi dengan pertobatan, melainkan membunuh utusan-utusan itu dan tetap melakukan yang jahat di mata Tuhan. Demikian pula dengan Yesus. Kehadiran Yesus di dunia ini tidak dipandang sebagai sarana keselamatan melainkan sebagai ancaman yang akan mengambil hak mereka atas kehidupan ini. Karena itulah, Yesus ditolak dan bahkan dibunuh dengan cara yang sangat sadis, yakni digantung di salib. Maka, ketika waktunya tiba murka Allah akan membinasakan para penggarap-penggarap kebun anggur yang tidak setia dan kemudian menyewakan kebun anggur itu kepada orang lain yang lebih setia dan dapat memberikan hasil kepada-Nya.
Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang menjadi pemilik kehidupan ini. Kita berpikir bahwa kitalah yang berkuasa atas seluruh hidup kita tanpa ada intervensi atau campur tangan dari Allah. Karena konsep yang demikian, kita cenderung menyalahgunakan kehendak bebas yang diberikan Tuhan. Akibatnya, kehidupan kita tidak lagi sesuai dengan kehendak Tuhan dan selalu bertentangan dengan-Nya, sehingga pada akhirnya kita  menjadi penggarap kebun anggur yang tidak baik dan bahkan menghasilkan buah anggur yang asam. Dengan demikian, kita tidak lagi berguna, selain dibuang dan dibinasakan. Karena itu, kita harus lebih sungguh menyadari bahwa kita hanya dipercayakan untuk mengolah kehidupan supaya berkenan kepada Allah. Jika anugerah sebagai pribadi yang secitra dengan Allah dijadikan sebagai jalan untuk menjadi “sama” dengan Allah yang dapat memiliki kehidupan secara utuh, itu artinya kita akan menuai kematian bagi diri sendiri. Sebab hanya satu pemilik dan pemberi kehidupan, yakni Allah. Dari-Nyalah kehidupan dan kepada-Nyalah kehidupan itu akan kembali.
Sebagai pengikut Kristus, kita semua dipanggil untuk menjadi penggarap-penggarap kebun anggur yang bekerja dan menghasilkan buah anggur yang baik dan manis. Kita diminta untuk menjaga, memelihara dan membuat kehidupan kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Karena itulah, Paulus menasihatkan supaya segala sesuatu yang baik, yang mulia, yang adil dan patut dipuji, itulah yang harus kita lakukan. Hidup yang telah diberikan Tuhan hendaknya menghasilkan buah yang berkualitas, yang dapat menambah keagungan dan kemuliaan-Nya. Kepada kita dipercayakan tugas untuk mengolah kehidupan ini sebaik mungkin dan membuatnya menjadi pujian atas keagungan dan kemuliaan Tuhan. Selain itu, kita juga harus bisa menjadi sarana keselamatan bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Caranya adalah dengan menunjukkan hidup sebagai pengikut Kristus dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Mampukah kita berbuat demikian? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting