Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENYELAMATKAN SESAMA YANG JATUH DALAM DOSA (Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Kasih merupakan dasar semua perintah dan dasar berbagai macam peraturan. Kasih hendaknya
mewarnai hidup bersama sehari-hari. Kasih dan kesetiaan Allah diwujudkan dengan selalu mencari yang hilang dan tidak ingin satu pun umat-Nya hilang, sebagaimana akan didengar dalam injil hari ini. Kasih hendaknya menjadi warna hidup bersama sehari-hari. Saat menjumpai sesama yang berbuat dosa, maupun saat menghadapi perselisihan, kasih menjadi kemungkinan paling unggul untuk menyelesaikannya. Untuk itu, dalam segala hal, kasih harus dikedepankan. Dengan kasih, segala hukum akan menjadi utuh sebab kasih adalah kepenuhan segala hukum.
Ketiga bacaan hari ini mau mengajarkan kepada kita suatu sikap yang benar terhadap mereka yang berdosa atau yang menyimpang dari jalan Allah. Sikap itu yakni kasih. Yesus dalam injil mengajarkan supaya kita berbuat adil dan mengasihi sesama yang jatuh dalam dosa. Caranya dengan memberi nasihat atau memperingatkan mereka atas penyimpangan yang telah dilakukan. Yesus dalam hal ini ingin menekankan bahwa upah dosa adalah kematian. Artinya, ketika seseorang berdosa dan tidak bertobat, maka dia akan mengalami kematian karena dosanya. Kematian karena dosa itu tidak lain adalah terpisah atau jauh dari cinta Allah. Akibatnya, si pendosa tidak lagi dapat merasakan kehadiran Allah dan tidak menerima rahmat-Nya dalam hidupnya. Dia tidak lagi bisa melihat hal-hal baik yang seharusnya dilaksanakan oleh semua orang yang percaya kepada Allah. Karena itulah, Yesus mengajak semua orang untuk membawa para pendosa kembali ke pangkuan Allah.
Dalam memperingatkan para pendosa ini, Yesus memberikan tiga cara. Pertama, menegur dengan empat mata. Pada saat ini, si pendosa diajak untuk berefleksi dengan teguran yang diberikan oleh seorang sahabat yang mengetahui keberdosaannya. Si pendosa diminta untuk terbuka terhadap Allah dan menerima teguran atas kesalahannya. Jika cara ini tidak berhasil, maka cara yang kedua adalah membawa beberapa orang untuk memberi pencerahan dan meyakinkan bahwa apa yang dibuatnya adalah dosa. Dan jika ini pun tidak berhasil, maka dia harus dihadapkan kepada jemaat supaya dengan mendengar kesaksian mereka, si pendosa dapat bertobat. Tetapi jika ini pun tidak berhasil, maka dia pun boleh dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah yang akan mati karena dosa-dosanya.
Hal yang paling penting dalam menempuh semua proses ini adalah sikap cinta dan mengasihi para pendosa. Cara apapun yang akan ditempuh haruslah selalu berlandaskan cinta kasih dan kelembutan hati, bukan sikap benci atau menghakimi. Hukum cinta kasih harus mengalahkan segala hukum yang ada, yang berlaku dalam masyarakat. Tetapi perlu juga diketahui bahwa semua proses ini tidak akan pernah berhasil jika tanpa disertai doa. Doa menjadi sarana untuk memperlancar semua proses ini, dan sekaligus sebagai lambang bahwa Allah-lah yang bertindak. Manusia hanya sebagai alat untuk menyampaikan kebenaran kepada sesama yang jatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain, manusia hanya berpartisipasi dan melibatkan diri dalam tindakan Allah dalam mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sering dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan sesama yang selalu jatuh bangun dalam dosa. Kadangkala, kita dengan rendah hati memperingatkan mereka supaya bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi seringkali juga ketika teguran itu tidak didengarkan, kita membiarkan mereka tetap hidup dalam dosanya. Kadangkala juga dalam mengingatkan mereka, kita berlaku seolah-olah sebagai hakim dan bukan sebagai pembawa cinta kasih dan penyembuhan. Akibatnya, si pendosa akan tetap tinggal dalam dosanya dan semakin jauh dari Allah. Karena itulah, Yesus mengajak kita untuk bertanggung-jawab terhadap para pendosa dengan tak henti-hentinya berusaha membawa mereka kembali kepada Allah. Kalau pun mereka tidak mau bertobat, janganlah kiranya kita kehilangan kesabaran atau menyerah dengan semua itu, melainkan tetap berusaha meyakinkan mereka. Inilah juga sebagai tanda bahwa Allah juga tak pernah berhenti mencari dan menyelamatkan domba-domba-Nya yang tersesat. Dia senantiasa menunggu dan menunggu anak yang hilang itu kembali kepada-Nya. Maka, cinta doa yang benar dan tulus adalah cara yang paling efektif untuk mewujudkannya.
Allah mencintai setiap manusia dan tak membiarkan seorang pun jauh dan terpisah dari-Nya. Ketika manusia berdosa, itu artinya mereka jauh dari Allah dan dengan demikian, mereka tidak lagi menerima rahmat-Nya. Kita umat beriman, diminta Allah untuk bekerja sama dengan-Nya menyelamatkan yang hilang dari kawanan domban-Nya. Sama seperti Allah mencintai mereka yang berdosa, demikian juga kita harus mencintai semua pendosa dan menghantar mereka kembali kepada-Nya. Dan sumber kekuatan kita adalah doa. Doa akan membuat segala hal yang tak mungkin menjadi mungkin, sebab bagi Allah tak ada yang tak mungkin. Maka, maukah kita menjadi partner atau rekan kerja Allah dalam menyelamatkan sesama yang berdosa? Maukah kita mengandalkan Allah dalam semua proses itu? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting