Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENGAMPUNI SESAMA TANPA BATAS (Sir 27:30-28:9; Rm 14:7-9; Mat 18:21-35)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Mengampuni artinya memaafkan kesalahan lalu kemudian melupakannya. Dengan mengampuni, maka segala persoalan kiranya akan terselesaikan. Segala hal yang dulunya kurang baik, kini menjadi damai dan harmonis. Pengampunan membawa perdamaian dan sukacita bagi kedua belah pihak yang sebelumnya saling bertentangan dan pada akhirnya akan mendatangkan rahmat dan cinta kepada mereka.
Bacaan-bacaan hari ini mengetengahkan pengampunan yang tanpa batas. Dalam injil Petrus bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kalikah?” Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.” Tentu saja jawaban Yesus ini mengejutkan Petrus sebab dengan mengampuni sebanyak tujuh kali saja, sudah merupakan suatu hal yang cukup berat apalagi tujuh puluh kali tujuh kali. Tetapi yang dimaksudkan Yesus sebenarnya di sini adalah supaya setiap orang yang datang meminta maaf atas kesalahannya harus dimaafkan. Bahkan ketika sudah kesekian kalinya dia berbuat salah, tetap harus dimaafkan, diampuni.
Bila dihitung secara matematis, mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali rasanya tidak mungkin. Mengapa? Karena dalam satu tahun hanya ada 365 hari, sedangkan yang dituntut Yesus adalah 70x7= 490 kali. Artinya bila setiap kali orang bersalah mohon pengampunan sekali sehari saja pun, toh masih ada sisa utang untuk mengampuni sebanyak 125 kali lagi. Tetapi Yesus menuntut dengan sangat supaya ini dilakukan meskikpun suatu hal yang mustahil. Yesus ingin pengampunan itu dijadikan sebagai suatu dasar atau patokan dalam hidup bersama dengan orang lain sebab di hadapan Allah, semua orang sama. Dengan kata lain, Yesus mau mengajarkan cinta kasih dan pengampunan kepada sesama yang lemah dan jatuh ke dalam dosa. Yesus tidak ingin kita menutup mata kepada mereka yang ditimpa kemalangan dan menjadi korban iblis si penggoda. Yesus mau mengajak kita untuk menyelamatkan pada pendosa dan membawa mereka kembali kepada Allah, Sang Jalan Kebenaran, dan Hidup.
Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, sikap mengampuni seperti yang ditekankan oleh Yesus kurang dapat kita hidupi. Penyebabnya adalah harga diri, sikap egois dan merasa diri sempurna. Banyak orang menganggap bahwa harga diri menjadi patokan untuk segalanya, menjadi harga mati. Ketika harga dirinya direndahkan, maka dunia ini serasa akan kiamat dan tak ada lagi jalan untuk dapat berdamai dengan mereka yang bersalah itu. Orang yang melakukan kesalahan kepadanya dianggap sebagai musuh yang harus dibinasakan. Karena itu, muncullah dendam kesumat, dendam membara.
Sikap egois juga menjadi penyebab orang susah mengampuni. Sering kita menemukan orang yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Kesalahan kecil dan tak sengaja yang diperbuat orang lain, dijadikan sebagai dalih untuk mempersalahkan orang lain dan meraup keuntungan dari situasi itu. Penyebab lain adalah perasaan benar dan sempurna. Tak dapat dipungkiri bahwa zaman ini banyak orang merasa bahwa: “Selain aku, tak ada lagi orang yang lebih benar dan sempurna. Maka, berkaitan dengan suatu persoalan, apapun ceritanya, sayalah yang benar meskipun kesalahan sebenarnya ada di pihakku.” Inilah kira-kira yang sikap-sikap yang mewakili kebanyakan sifat manusia yang susah mengampuni sesama yang berdosa.
Setiap manusia hidup bersama dengan orang lain, tidak ada yang hidup sendiri. Maka konsekuensi hidup bersama adalah adanya persoalan: bila seseorang salah maka yang lain harus mengampuni. Seperti kata rasul Paulus: “Tetapi siapakah kita, jika kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain dan menjadi hakim bagi mereka? Padahal hanya ada satu hakim dan pembuat hukum, yakni Allah. Tetapi kita semua adalah saudara-saudari di hadapan Tuhan. Tak ada seorang pun yang hidup bagi dirinya sendiri atau mati bagi dirinya sendiri. Jadi, kalau kita mati, kita mati untuk Tuhan, dan jikalau kita hidup, kita hidup bagi Tuhan. Hidup dan mati kita ada di tangan Tuhan.” Inilah yang harus kita refleksikan setiap saat dalam hidup sehari-hari supaya kita tidak merasa bahwa kebenaran dan kesempurnaan hanya ada pada kita. Kita juga pasti pernah salah, sebab tak seorang pun manusia yang hidup sempurna. Bagaimana kalau seandainya orang lain tidak mau mengampuni kesalahan kita ketika kita bersalah kepada mereka? Kita juga pasti akan merasa kesulitan.
Untuk dapat menerima rahmat pengampunan dari Allah, kita juga harus bersedia mengampuni sesama tanpa batas. Allah telah menunjukkan pengampunan yang tanpa batas itu kepada manusia lewat Putra-Nya, Yesus Kristus. Dia rela mati untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari kematian akibat dosa. Melalui salib dan pengorbanan, Yesus mengajak kita untuk menjadi serupa dengan Allah dan mengasihani para pendosa. Dengan demikian, orang lain akan diselamatkan dan kita juga akan menerima rahmat demi rahmat dari Allah.
Ketidakmampuan kita untuk mengampuni sesama yang berdosa adalah karena kita masih bersekutu dengan dosa dan setan. Kita masih belum sampai pada hubungan yang erat dengan Allah, sehingga hati kita tetap tertutup pada cinta dan belaskasih Allah. Akibatnya, hidup kita dengan orang lain tidak seperti yang diharapkan Allah. Jika kita mau mengampuni kesalahan sesama, dosa-dosa kita juga akan diampuni dan keinginan kita untuk bersatu dengan Allah akan terwujud. Maka, mampukah kita mengampuni tanpa batas, sama seperti Allah yang telah mengampuni dosa-dosa kita dan menganugerahkan keselamatan kepada kita? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting