Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

ORANG YANG RENDAH HATINYA, AKAN DITINGGIKAN ALLAH (Why 11:19a;12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56)


Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Maria diangkat ke dalam kemuliaan surgawi merupakan ajaran Gereja. Konsili Vatikan II mengajarkan: “Akhirnya perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu Alam Semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59). Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke dalam Kemuliaan Surgawi memberikan kepada kita pengharapan besar, yaitu menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, dan mencari persatuan abadi dalam Kerajaan Surga.
Peristiwa Maria Diangkat ke dalam Kemuliaan Surgawi merupakan suatu peristiwa agung dan mulia yang merupakan anugerah istimewa yang telah diterima oleh Bunda Maria. Hal itu terjadi karena Maria mempunyai iman yang benar dan tulus terutama karena “fiat” atau “ya” Maria terhadap Allah. Kebesaran dan kemahakuasaan Allah membuat Maria tunduk dan taat secara total. Dia tahu, bahwa Allah tak akan pernah membiarkan hamba-Nya menderita, tertindas dan merasa ditinggalkan. Sebaliknya, Maria yakin dan percaya bahwa Allah lebih tahu daripada apa yang dapat diketahui oleh manusia. Dari pengalaman inilah Maria belajar untuk taat dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dan itu tampak dalam Kidung Pujian Maria terhadap kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang merupakan ungkapan syukur Maria untuk segala perbuatan Allah atas dirinya, terutama pilihan untuk menjadi Bunda Putra Allah. Untuk menjadi Bunda Putra Allah, bukanlah perkara yang mudah, melainkan penuh tantangan dan perjuangan. Tetapi Maria mengalahkan segala ego dan keinginan pribadi supaya kehendak dan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dapat terjadi. Maria tahu risiko itu, tetapi berkat imannya yang suci, Maria berani berkata: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Menjadi pertanyaan saat ini adalah, apakah Maria tidak mengalami kematian secara fisik-badani, sehingga dikatakan seluruh jiwa-raganya diangkat? Secara fisik, Maria memang mengalami kematian seperti manusia lainnya, termasuk juga Yesus. Jika demikian, bagaimanakah dogma ini dapat dimengerti? Arti sesungguhnya yang dimaksud oleh Gereja adalah bahwa secara rohani, Maria tidak mengalami kematian sebab hubungannya dengan Allah tidak pernah terputus. Dia tetap berkomunikasi dengan Allah yang telah memilihnya menjadi Bunda Putra Allah. Kata “diangkat” mau menunjukkan taraf hidup Maria yang sudah jauh berbeda dari manusia biasa. Maria, dia diangkat ke dalam kemuliaan surgawi berkat kekuatan dan anugerah istimewa dari Allah karena iman dan ketaatannya. Berkat iman dan kerendahan hatinya, taraf hidup Maria ditingkatkan dan disempurnakan ke dalam level hidup ilahi, sehingga dia dijadikan sebagai model (typos) Gereja dalam hal beriman. Berbeda dengan Yesus. Yesus tidak “diangkat” tetapi “naik” ke surga. Kenaikan Yesus ke surga terjadi karena kekuatan ilahi-Nya sendiri, sebab Dia sendiri adalah Allah. Inilah arti sesungguhnya dari dogma Maria Diangkat ke dalam Kemuliaan Surgawi.
Sebagai putra-putri Allah yang telah diselamatkan oleh Kristus melalui baptis, kiranya kita harus senantiasa menjadikan Maria sebagai teladan dalam hal beriman kepada Allah. Iman Maria yang tulus, ketaatannya yang suci dan kerendahan hatinya yang mengagumkan di hadapan Allah harus kita hidupi setiap saat, supaya kelak kita juga memperoleh kemuliaan dan mahkota sebagai putra-putri Allah yang sejati. Maria yang karena iman dan kerendahan hatinya serta ketaatannya kepada Allah, rela menanggung segala macam penderitaan dan tantangan hidup. Maria tidak pernah mengeluh atau bahkan menghujat Allah dengan segala pengalaman yang membuat dirinya menderita, terutama ketika harus menyaksikan sendiri kematian Putranya, Yesus di salib. Dan dia juga tidak pernah meminta Allah untuk mengambil semua penderitaan yang dialaminya. Sebaliknya, dia menerima semuanya itu dengan rendah hati, merenungkannya dengan penuh iman seraya berkata: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Maria yakin bahwa penderitaan yang dialaminya membuat dirinya semakin dekat dengan Kristus Putranya. Dan sama seperti Hawa dahulu mengambil bagian dalam ketidaktaatan Adam mendatangkan maut bagi manusia, demikianlah karena ketaatan Maria kepada Allah (Kristus) mendatangkan hidup dan keselamatan bagi dunia. Maka, jika kasih Adam kepada Hawa memimpinnya kepada dosa, kasih Kristus kepada Bunda Maria memimpinnya untuk mengambil bagian dalam pertentangan melawan iblis dan kepada hasil akhirnya, yakni kemenangan total di dalam tubuh dan jiwa atas dosa dan maut.
Inilah yang membuat taraf hidup Maria Diangkat ke dalam Kemuliaan Surgawi dan menjadi alasan kita harus menghormatinya. Tetapi penghormatan itu tidak dapat disejajarkan dengan penghormatan terhadap Kristus. Kristus tetap menjadi yang sulung dari segalanya. Kepada kristuslah kita harus menaruh hormat dan bakti, sebab Dialah satu-satunya sumber keselamatan dan kehidupan kekal. Dan Dia akan menganugerahkan kemuliaan dan keselamatan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi bersama dengan Maria kita akan dapat sampai kepada Kristus dan akan menerima ganjaran kemuliaan, bila kita mempunyai iman yang benar, hidup yang setia dan taat kepada kehendak Allah. Ini merupakan suatu pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman. Semoga doa-doa Bunda Maria dapat menyelamatkan kita dari godaan-godaan si jahat. Dan semoga teladan hidup Maria dapat menginspirasi kita dalam beriman kepada Allah Tritunggal yang Mahakudus. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting