Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

INILAH ANAK YANG KUKASIHI, DENGARKANLAH DIA (Dan 7:9-10.13-14; 2Ptr 1:16-19; Mat 17:1-9)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Pada pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya, kita mengenangkan dan merayakan peristiwa agung di Gunung Tabor, ketika Tuhan Yesus berubah rupa menjadi sangat mulia dan menyinarkan cahaya. Peristiwa itu  mengabarkan kenaikan-Nya ke surga serta kemuliaan-Nya sebagai Allah. Bagi para rasul, peristiwa ini meneguhkan iman mereka agar tak goncang bila nanti melihat Yesus menderita sengsara dan mati di salib. Sebab, justru melalui saliblah Yesus menjadi Juru Selamat dunia. Kemuliaan yang ditunjukkan-Nya di atas gunung itu bukan hanya menjadi antisipasi untuk kebangkitan-Nya sendiri, melainkan memaklumkan juga kemuliaan yang kelak disediakan bagi seluruh umat beriman.
Setiap kali penginjil Matius menceritakan suatu kisah tentang bukit, misalnya khotbah di atas bukit atau peristiwa Gunung Tabor, itu berarti suatu situasi di mana Allah mewahyukan diri dan di sana harus ditepati aturan-aturan Keallahan. Di sana, Allah yang menjadi pemeran pertama dan utama. Dia bersabda, maka semua orang harus taat dan tunduk kepada-Nya. Di atas bukit, manusia dapat melihat tanda-tanda kehadiran Allah seperti dalam rupa awan. Dan inilah yang dialami oleh Petrus dan para murid lainnya ketika melihat secara langsung peristiwa pemuliaan Yesus di atas Gunung Tabor.
Bila kita memperhatikan secara cermat peristiwa pemuliaan Yesus ini, ada beberapa hal yang ditekankan. Pertama, wajah Yesus berubah rupa dan pakaian-Nya bersinar putih, hingga tak seorang pun dapat memutihkan pakaian seperti yang dipakai Yesus (versi Markus). Hal itu mau menandakan keagungan keilahian Yesus yang tak dapat digambarkan dengan bahasa apapun. Yesus sebagai Allah, hadir dan menyatakan diri kepada dunia dengan menjadi sama seperti manusia kecuali dalam hal dosa. Di sini, Yesus menampakkan diri sebagai Allah yang ingin menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia serta untuk mendatangkan keselamatan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Tugas Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini dinyatakan lewat kehadiran dua orang nabi besar dalam sejaran Perjanjian Lama, yakni Musa dan Elia. Peran Musa dalam Perjanjian Lama adalah untuk memperkenalkan Hukum Taurat kepada bangsa Israel supaya mereka taati. Dan Elia adalah nabi yang berjuang untuk membawa bangsa Israel pada penyembahan yang benar, yakni kepada Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub saja, bukan kepada berhala-berhala. Melalui kehadiran kedua nabi ini, tugas Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ditegaskan kembali. Dan tugas itu akan berakhir dengan sengsara dan kematian-Nya di salib.
Kedua, sembah sujud Petrus dan para murid. Ketika Petrus berkata: “Tuhan betapa indah tinggal di sini, baiklah kami mendirikan tiga kemah...” segera mereka mendengar Sabda Allah: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Sabda Allah itu begitu agung dan mengagumkan sehingga mereka tak mampu berbuat apa kecuali tunduk dan tersungkur di hadapan-Nya. Mereka merasa bahwa di atas bukit itu tidak ada lagi yang kurang, sebab mereka bersama dengan Yesus. Mereka juga hanya melihat sisi keilahian Yesus saja dan tidak perlu berpikir untuk turun dan melanjutkan karya keselamatan di tengah dunia. Itulah sebabnya mereka ditegur oleh Allah. Mereka tidak pernah berpikir bahwa saliblah yang menjadi jalan utama untuk menghantar orang kepada keselamatan,. Bila berpaling dari salib, maka, tak seorang pun dapat diselamatkan, termasuk mereka. Di sini, Allah mengajari para murid untuk mengikuti, mendengarkan dan melaksanakan perintah Yesus supaya keselamatan itu pun dapat terjadi.
Ketiga, perintah Yesus untuk tidak menceritakan semua peristiwa itu sebelum kebangkitan-Nya, merupakan suatu pesan untuk mengantisipasi orang-orang yang sudah dan yang akan percaya kepada-Nya. Yesus tidak ingin manusia hanya melihat sisi keilahian-Nya saja, yang dapat bertemu dengan Musa dan Elia. Iman kita kepada Kristus bukanlah iman yang hanya melihat sisi kehebatan Yesus yang dapat bertemu dengan Musa dan Elia, para nabi yang hidup jauh sebelum Yesus lahir ke dunia ini. Jika kita hanya melihat sisi kehebatan Yesus saja, maka, iman tersebut tidak kokoh bahkan akan segera mati. Sebab jika mukjizat atau Yesus tidak lagi ada di dunia ini, maka iman itu tidak akan ada lagi. Tetapi iman kita kepada Yesus adalah iman yang berakar pada peristiwa salib dan kebangkitan. Bila kita mendasarkan iman akan peristiwa salib dan kebangkitan Kristus, maka, iman kita akan tetap kuat sekalipun Yesus tidak ada lagi di dunia ini. Inilah kiranya yang harus mendasari hidup dan iman para pengikut Kristus.
Sekarang, kita semua memang tidak lagi dapat melihat kemuliaan Yesus secara langsung seperti dahulu kala. Tetapi kemuliaan Yesus dapat kita lihat dan alami di dunia ini melalui keindahan dan keharmonisan alam semesta ini. Hal itu dapat terwujud ketika kita merasakan kedamaian, cinta kasih, pengharapan, kebahagiaan dan sikap saling menghormati di antara manusia, terutama bagi mereka yang miskin dan menderita. Ketika itu semua sudah terwujud, maka Kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya akan kita lihat. Dan itu semua tak dapat terlepas dari penderitaan dan salib. Bila kita ingin melihat secara jelas kemuliaan Allah, maka kita juga harus bersedia untuk memikul salib, sebagai satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Maka, mari kita menghadirkan kemuliaan Allah di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan Gereja, supaya kita dapat menikmati hidup sebagai anak-anak Allah. Mampukah kita untuk mewujudkannya? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting