Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENJADI PENDENGAR DAN PELAKSANA SABDA (Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Seorang petani yang baik bila ingin menghasilkan panenan yang memuaskan, pasti akan memperhatikan banyak hal yakni, bibit, tanah, dan pupuk. Petani yang baik mesti memperhatikan apakah bibit yang akan ditanam merupakan bibit unggul atau tidak. Petani juga perlu melihat kualitas tanah, apakah tanah yang akan ditanami bibit itu baik atau tidak. Semuanya itu harus dilihat terlebih dahulu supaya tanaman bertumbuh dengan baik dan kelak dapat menghasilkan panenan yang memuaskan.Kalau hal ini kurang diperhatikan, maka hasil yang diharapkan bisa tidak sesuai.
Hari ini Yesus mengajak kita untuk menjadi pendengar dan pelaksana Sabda.
Bacaan injil menceritakan tentang penabur yang menaburkan benih di tempat yang berbeda, yakni di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di semak berduri, dan di tanah yang subur. Penabur benih adalah Allah. Dialah pemilik tanah di mana benih itu akan ditaburkan, yang menaburkan benih dan memberi pertumbuhan kepada benih itu. Benih itu adalah Sabda Allah, yakni Yesus Kristus. Yesus adalah Sabda yang diutus Bapa ke bumi untuk menyampaikan kabar sukacita kepada manusia. Dia menjadi penyalur rahmat keselamatan Allah bagi manusia. Tanah tempat benih itu ditaburkan adalah hati setiap orang. Benih itu sudah ditaburkan di dalam hati setiap orang, tetapi semua tergantung pada manusia yang menerima Sabda itu.
Dalam perumpamaan tentang penabur di atas, Yesus menjelaskan sikap setiap orang yang menerima sabda itu. Pertama, benih yang jatuh di pinggir jalan. Mereka ini adalah orang yang telah mendengar dan menerima sabda, tetapi tidak mengerti apa-apa tentang sabda itu dan tidak berbuat apa-apa. Dan akhirnya, mereka tidak menghasilkan apa-apa dan mati. Kedua, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu. Batu adalah benda yang sangat keras dan padat. Benih yang jatuh di tempat ini juga tumbuh, tetapi tidak berakar. Daya juang atau sikap rela berkorban mereka dikalahkan oleh ketegaran hati. Awalnya mereka menjaga dan memelihara benih itu sampai bertumbuh. Tetapi karena tidak didasarkan pada Allah, maka ketika penindasan dan penganiayaan muncul, mereka pun tak mampu bertahan. Benih ini juga menjadi mati. Ketiga, benih yang jatuh di tanah yang berduri. Seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu, benih ini juga tidak dapat bertahan lama. Kekhawatiran dan harta duniawi akan dunia ini menjadi tujuan utama sehingga menghimpit sabda yang ada dalam diri mereka. Mereka lebih percaya akan janji kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia ini, tanpa mengingat siapa sebenarnya sumber kebahagiaan. Dan tak jarang juga, mereka lebih memberi diri atau bersekutu dengan setan dan bukan dengan Allah sehingga sabda itu juga mati.
Keempat, benih yang jatuh di tanah yang subur. Benih itu adalah orang-orang yang setelah mendengarkan Sabda Allah, merenungkannya dan kemudian melaksanakannya dalam kehidupan nyata, sehingga mereka berbuah limpah. Penindasan dan kekhawatiran duniawi tidak mampu mengalahkan semangat dan cinta mereka kepada Sabda Allah. Bahkan mereka rela menyerahkan diri untuk dibunuh asalkan Sabda Allah tetap utuh dan tak tercemar oleh kekuasaan si jahat. Oleh karena itu, mereka menerima mahkota kemuliaan yang tak terbatas dan diperkenankan menikmati kebahagiaan surgawi. Itu semua karena mereka senantiasa menyerahkan diri kepada penyelenggaraan Allah dan membiarkan Dia membentuk seluruh kehidupan mereka sesuai dengan kehendak-Nya.
Kita yang telah dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus diberikan tugas untuk memelihara Sabda Allah yang ada pada kita. Allah telah memberikan kepada kita suatu tanggungjawab untuk menjadi penabur benih Sabda Allah di tengah-tengah dunia. Dia ingin agar kita menjadi tanah yang subur, yang bersedia dibentuk oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga kita dapat menghasilkan buah yang berlimpah. Kita harus menjadi pendengar dan pelaksana sabda. Sabda yang telah kita terima dari Allah, harus kita hidupi dan kita wartakan supaya semakin banyak orang yang percaya kepada Allah. Sama seperti hujan dan salju yang turun ke bumi dan memberikan pertumbuhan dan kesuburan kepada tanaman, demikian jugalah Sabda Allah harus hidup dalam hati setiap orang dan menghasilkan buah berlimpah. Sabda itu tidak boleh kembali kepada Allah, melainkan harus tetap tinggal di bumi dan menghasilkan buah dan rahmat yang berlimpah. Roh Allah akan menjadi penopang dan penuntun kita setiap saat, sehingga kuasa setan, penindasan serta kekhawatiran duniawi tidak akan mampu mengalahkan cinta kita kepada Allah. Kuncinya adalah penyerahan diri yang total kepada Allah yang memberikan sabda itu kepada kita.
Pertanyaannya adalah, termasuk tanah yang manakah kita saat ini? Apakah kita menjadi tanah yang di pinggir jalan, tanah bebatuan, tanah yang berduri, atau tanah yang subur? Mampukah kita menjadi tanah yang subur, yang mampu memberikan pertumbuhan dan buah berlimpah bagi Sabda Allah? Siapakah diri kita di hadapan Sabda Allah? Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting