Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Para Imam Keuskupan Sibolga 'Terbakar'

KRK di gereja Santa Maria Gunungsitoli
Pada tanggal 21 hingga 23 Juni yang lalu, bertempat di Ruper St. Leopoldo – Laverna, Gunungsitoli-Nias, sebanyak 59 orang imam dan bapak Uskup Keuskupan Sibolga mengikuti retret. Pendamping retret untuk para imam ini adalah seorang awam dari Kualalumpur-Malaysia, Mr. Jude Antoine. Dipilihnya seorang awam untuk memimpin retret para imam ini, dikarenakan bapak Uskup Mgr. Ludovicus Simanullang sudah mengenal Mr. Jude sebelumnya, ketika mengadakan pelayanan rohani di Padang.

Mr. Jude Antoine
Inti retret ini adalah bertujuan menyemangati para imam untuk melaksanakan pelayanan tugas imamatnya sesuai dengan panggilannya. Bila seorang awam, seperti Mr. Jude, sanggup dengan sepenuh hati dan diri melaksanakan tugas perutusan dan pelayanannya sebagai orang terbaptis, betapa lagi seorang imam yang sudah diurapi secara khusus untuk menyalurkan rahmat Allah itu dalam tugas pelayanannya sebagai imam, sebagai pastor. Kalau umat beriman lain menerima pengurapan minyak krisma hanya dua kali, para imam menerimanya tiga kali: saat menerima sakramen pembaptisan, penguatan dan imamat itu sendiri. 

Mr. Jude memulai hantarannya dengan membahas Pertemuan Pribadi dengan Yesus (Personal Encounter with Jesus). Tiga hal penting diingatkannya kepada para imam, yakni: Pertemuan, Pertobatan, dan Panggilan. Seperti Petrus yang bertemu dengan Yesus, memperoleh pengalaman luar biasa ketika dia menangkap ikan sangat banyak, kemudian menyadari dirinya yang berdosa dan tak layak di hadapan Tuhan. “Aku ini orang berdosa, Tuhan” aku Petrus: “Pergilah dari padaku”. Kemudian Tuhan memanggilnya: “Kau akan jadi penjala manusia” (Bdk Lk 5:1-11).

Para Imam Peserta Retret
Para imam sudah dipanggil. Sudah ditahbiskan. Sudah diurapi dengan minyak. Janganlah minyak itu tinggal untuk mengharumkan imam itu sendiri saja, tetapi  hendaknya rahmat dan kuasa imamat itu dibagikan, disalurkan kepada orang lain, kepada umat. “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya” (Mzm 133: 3). Para imam harus keluar dari ‘zona nyaman’nya. Pergi, menyapa, menolong, memberkati, membagikan kegembiraan, membagikan kasih kepada umatnya. Para imam harus keluar, bersaksi tentang kerajaan Allah, mewartakan, berkhotbah dengan berapi-api, menunjukkan imannya, membagikan kesaksian hidupnya; membakar umatnya dengan karunia Roh Kudus.

Suasana Retret di Aula Ruper
Aktivasi... Manifestasi kuasa imamat, itu menjadi sasaran retret ini. Hendaknya para imam lebih giat, lebih rajin, lebih hidup, lebih habis-habisan dalam menjalankan panggilan dan tugas imamatnya. Mendoakan umat, menyembuhkan umat. Hendaknya tak ada lagi umat yang mengantuk atau sampai tertidur saat mendengar khotbah para imam, karena khotbah yang diwartakannya adalah Sabda Allah. Khotbah yang diucapkan hendaknya keluar dari penghayatan iman yang sangat dalam, berisi kesaksian hidup yang paling nyata. Suasana Pentakosta pertama hendaknya dihadirkan di sini dan saat ini. Hendaknya selalu ada Pentakosta Baru. Fresh Oil of the Holy Spirit, minyak harum dari pengurapan imamat itu disalurkan, supaya tetap segar dan melimpah. Kuasa imam, jangan dipendam! “Katakan: Amin, pastor!”, ajak Mr. Jude mengakhiri himbauannya. “Amiiiin....!”, jawab para imam Keuskupan Sibolga  serentak dan  penuh semangat!  ***

P. Charles Sebastian Sihombing OFM Cap

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting