Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

“INILAH AKU TUHAN, UTUSLAH AKU.” (Kis 1:1-11: Ef 1:17-23: Mat 28:16-20)

 Fr. Michael A. Aritonang OFMCap
Perayaan Hari Raya Tuhan pertama-tama mau mengungkapkan iman Gereja akan Tuhan Yesus Kristus yang dimuliakan. Ungkapan “naik ke surga” menunjukkan bahwa Yesus yang wafat dan bangkit kini dimuliakan di tempat Allah sendiri. Maka, Ia duduk di sisi kanan Allah Bapa yang Mahakuasa dan kepada-Nya diberikan kuasa Allah sendiri atas surga dan bumi. Kenaikan Yesus ke surga bukanlah sebuah perpisahan dengan kita, umat-Nya, sebab Ia tetap hadir di tengah kita, namun dalam bentuk yang berbeda dari saat ketika Ia masih hidup dan berkarya di Palestina sebelum wafat-Nya. Yesus Kristus kini hadir di tengah kita dalam macam ragam dan bentuk. Namun, hanya dalam Perayaan Ekaristi, kehadiran Tuhan Yesus Kristus itu menjadi paling istemewa dan mencapai puncaknya. Sekarang menjadi tugas Gereja untuk bersaksi mengenai Kristus ini kepada dunia. Dan Kristus tetap menyertai seluruh hidup dan perutusan Gereja melalui kekuatan Roh Kudus yang akan dicurahkan pada hari Pentakosta.
Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Pesan ini merupakan kata-kata terakhir Yesus sebelum Ia terangkat ke surga setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Pesan ini dahulu diberikan kepada para murid dan sekarang tugas Gereja untuk menjadi rasul baru dalam mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini dan mengembangkannya dalam tugas perutusan sesuai dengan tuntutan zaman.
Dalam kata-kata terakhir di atas, ada lima hal utama yang sangat ditekankan Yesus yakni pergilah, jadikanlah, baptislah, ajarlah dan penyertaan Allah. Yesus meminta para murid supaya pergi ke seluruh dunia untuk menarik dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Di sini Yesus memberi suatu kuasa kepada para murid dan mendapat tugas perutusan untuk mencari domba-domba yang hilang serta membawa mereka kembali kepada-Nya. Kuasa itu diberikan oleh Yesus supaya para murid mampu untuk mengajar, membaptis dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Kuasa yang diberikan kepada para murid berasal dari kuasa yang telah diberikan oleh Allah Bapa kepada Yesus sendiri. Dengan kuasa ini, para murid tak lagi merasa takut atau khawatir dalam mencari dan menemukan domba yang hilang serta mampu mewartakan kabar keselamatan dari Allah kepada semua orang.
Satu kata terakhir yang dikatakan oleh Yesus adalah: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Di sinilah tekanan utama dalam seluruh pesan Yesus ketika mengutus para murid itu. Yesus memberi keyakinan kepada para murid bahwa Dia tak akan pernah meninggalkan mereka dalam melaksanakan tugas perutusan itu. Dia tetap hadir dan menyertai para murid meskipun dengan cara yang berbeda. Kehadiran-Nya tidak lagi dalam wujud yang kasat mata, dapat disentuh, dilihat seperti biasa, melainkan melalui Roh Kudus yang akan membimbing, menuntun dan menyertai para murid. Dalam Roh Kudus itulah Yesus hadir serta menjadi tiang penopang utama dalam karya perutusan. Roh Kudus akan hadir secara nyata ketika para murid lemah-tak berdaya, putus asa-hilang pengharapan, menderita dan sebagainya. Roh Kudus akan memampukan mereka untuk tetap kuat dan bertahan dalam segala situasi yang ada. Karena itu, para murid tak perlu takut akan segala macam tantangan, bahaya dan penderitaan, sebab Yesus akan menyertai mereka sampai akhir zaman.
Panggilan dan perutusan Kristus kepada Gereja, sekarang menjadi tugas kita semua, umat beriman. Sakramen-sakramen yang telah kita terima mempunyai efek untuk memampukan kita menjadi saksi di tengah-tengah dunia. Dalam baptisan, kita diberi karunia Roh Kudus untuk dapat memberi kesaksian sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing. Yesus Kristus memanggil dan mengutus kita dalam berbagai macam cara, ada yang menjadi imam (religius) dan ada juga “imam” (dalam keluarga). Seorang imam (religius) menjalankan tugas perutusannya sebagaimana dituntut oleh Gereja Kudus sesuai dengan martabat dan panggilan imamatnya. Sebagai “imam” dalam dunia sekular, keluarga-awam harus memberi kesaksian hidup sebagai orang Kristen yang mendapat tugas perutusan di tengah-tengah dunia-masyarakat. Tugas itu pertama-tama dilakukan dalam komunitas-komunitas kecil sperti keluarga atau kumpulan kecil, Gereja dan masyarakat-dunia. Di sanalah tugas perutusan itu pertama-tama diaplikasikan. Tujuannya adalah supaya mereka mempunyai dasar yang kokoh kuat, karena mempunyai tugas dan panggilan yang sama. Baru kemudian bergerak lebih jauh, yakni di tengah-tengah dunia.
Menjadi rasul atau utusan di tengah-tengah dunia, baik dalam keluarga maupun di masyarakat, merupakan suatu hal yang memang sangat-sangat sulit. Tetapi Yesus member keyakinan kepada kita bahwa Dia akan menyertai kita sampai akhir zaman melalui Roh Kudus. Roh Kudus itu akan menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah-tengah kita. Dia akan menghidupkan semangat kita yang lemah, membangkitkan kita pada waktu jatuh dan menuntun langkah kaki kita menuju kebahagiaan sempurna. Maka, kita tak perlu takut sekalipun ada tantangan dan bahaya yang menghadang. Yesus tak akan pernah membiarkan kita binasa, melainkan tetap menyertai kita sampai akhir zaman. Pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi murid/utusan Kristus? Bersediakah kita kemana pun kita diutus? Sanggupkah kita memberi kesaksian hidup atas sakramen-sakramen yang telah kita terima? Mampukah kita hidup sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting