Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

“KETEGUHAN HATI UNTUK MENANGGUNG SENGSARA DAN PENDERITAAN.” ( Yes 50:4-7; Flp 2:6-11; Mat 26:14-27:66)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap

Setiap manusia pasti selalu berhadapan dengan yang namanya sengsara ataupun penderitaan. Hal ini disebabkan oleh banyak hal. Dalam dunia Perjanjian Lama misalnya, penderitaan kerap dihubungkan dengan dosa. Orang menderita, sakit dan sebagainya itu disebabkan oleh dosa, baik dosa pribadi maupun dosa orang lain. Penderitaan ini sejalan juga dengan pencobaan, di mana hal ini dimengerti sebagai suatu cara Allah untuk mendidik manusia, untuk menguji sejauh mana ketahanan dan keteguhan iman seseorang. Dalam bahasa kristiani, baik pencobaan maupun penderitaan harus diterima dan dihadapi sebagai bagian dari pendidikan Allah kepada umat-Nya.
Ketiga bacaan pada hari ini menyajikan contoh yang sangat baik dalam menghadapi dan menerima pencobaan dan penderitaan. Bacaan pertama menampilkan nabi Yesaya yang tidak takut akan segala apa yang akan terjadi kepadanya. Sebagai seorang pewarta kebenaran dan pembawa kabar keselamatan, Yesaya menghadapi banyak sekali persoalan pelik dari orang-orang yang menolak pewartaannya. Banyak orang tidak mau menerima kebenaran yang diwartakannya dan bahkan menolak ajarannya. Tetapi Yesaya tak sedikit pun merasa gentar dan takut. Dia bahkan tetap teguh bertahan dan berkata: “Tuhan Allah menolong aku; sebab itu, aku tidak mendapat noda. Maka, aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.”
Dalam bacaan kedua dan injil ditampilkan Yesus sebagai pribadi yang tidak menolak sengsara dan derita, melainkan menerimanya. Dia yang adalah Allah tidak menganggap bahwa Keallahan-Nya sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia serta merendahkan diri sampai mati di salib. Sifat Keallahan yang ada pada diri-Nya tidak serta merta membuat Dia menolak penderitaan yang ada tetapi merelakan diri sebagai kurban di salib demi keselamatan manusia.
Sengsara dan derita yang dialami oleh Yesus tidak pernah dapat dibandingkan dengan penderitaan yang pernah dialami oleh manusia manapun. Keteguhan hati Yesus untuk menerima dan menanggung penderitaan pada akhirnya mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri dan bagi kemuliaan Allah Bapa. Rasul Paulus berkata: “Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit, yang ada di atas dan di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa semua lidah mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan.” Kemuliaan akhirnya menjadi upah dari keteguhan hati dalam menanggung sengsara.
Perayaan Minggu Palma merupakan suatu persiapan bagi umat beriman dalam menyambut Paskah Kebangkitan Kristus. Sebelum menderita sengsara, Yesus menerima penghormatan dan kemuliaan dari dunia ini, tetapi sifatnya tetap duniawi, fana. Kemuliaan yang sesungguhnya diterima-Nya ketika Ia bangkit dari antara orang mati dan kembali memerintah bersama Bapa-Nya dalam kerajaan surgawi. Perayaan Minggu Palma mengajarkan kita untuk hidup dalam penantian dan pencarian akan kemuliaan kekal. Pertanyaannya adalah, sanggupkah kita bertahan seperti Yesus dalam menanggung pencobaan dan penderitaan? Mampukah kita mengalahkan ego pribadi, popularitas, harga diri dan kekayaan serta kemuliaan duniawi untuk memperoleh harta kekayaan dan kemuliaan surgawi? Mari meneladan Yesus dalam menghadapi cobaan dan derita supaya kelak kita pun dapat menerima mahkota kemuliaan surgawi ketika kita telah beralih dari dunia fana ini. Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting