Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

“KEBANGKITAN DAN KEMULIAAN SETELAH KEMATIAN.”(Kej 1:1-2:2; Kej 22:1-18; Kel 14:15-15:1; Yes 54:5-14; Yes 55:1-11; Bar 3:9-15.31-4:4; Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Mat 28:1-10)


Fr. Michael A. Aritonang OFMCap

Keseluruhan perayaan malam paskah dalam Liturgi Gereja Katolik menceritakan misteri penebusan dan penyelamatan Allah yang terlaksana secara nyata dalam diri Yesus Kritus. Hal itu tampak dalam Liturgi Sabda dan seluruh ritus yang dirayakan pada malam ini. Misteri penebusan itu diawali dengan pemberkatan api dan penyalaan lilin paskah, pujian paskah, Liturgi Sabda dan berpuncak pada Liturgi Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh perayan liturgi dalam Gereja Katolik.
Puncak misteri karya penyelamatan Allah bagi manusia tampak dalam peristiwa kebangkitan Kristus dari antara orang-orang mati. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh Allah yang menjelma menjadi manusia, menderita dan wafat di salib. Penderitaan sebagai manusia dan wafat-Nya di salib menunjukkan bahwa Dia sebagai Allah memang harus menderita dan wafat supaya manusia mengerti apa tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Yesus Kristus ingin mengajak manusia untuk menunjukkan cinta kasih yang sejati, yang sempurna dan total kepada semua orang. Cinta kasih sejati itu sendiri merupakan bukti ketaatan-Nya kepada Allah Bapa yang mengutus-Nya. Jadi, di sini Yesus ingin menunjukkan dua hal ini, yakni ketaatan dan cinta yang sempurna. Karena cinta Bapa kepada manusia, maka Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia. Dan Kristus adalah isi cinta Allah itu. Dia hadir dan tinggal di tengah-tengah dunia untuk membagikan cinta Allah, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Satu hal yang menarik dalam injil yang menceritakan peristiwa kebangkitan Kristus ini adalah tentang penampakan-Nya kepada para murid. Sebelum penampakan-Nya diceritakan bagaimana Yesus bangkit, yakni dengan tanda-tanda: gempa bumi, malaikat menggulingkan batu dan ketakutan dari para penjaga kubur yang menyaksikan langsung peristiwa itu. Semuanya itu menunjukkan bahwa alam maut tidak berkuasa menahan Yesus lebih dari tiga hari. Dia turun ke dunia orang mati untuk mewartakan kepada orang-orang mati, bahwa orang benar akan dibangkitkan dan akan memperoleh kehidupan kekal. Sedangkan yang tidak benar akan dihakimi dan diadili.
Mengapa Yesus menampakkan diri hanya kepada para murid-Nya? Mengapa tidak langsung kepada para pemimpin agama dan seluruh bangsa Yahudi supaya mereka bisa percaya bahwa Yesus adalah Allah? Sebenarnya, Yesus bisa melakukannya, tetapi bila dengan cara demikian, Yesus memaksa mereka untuk percaya. Itu artinya, tidak ada lagi usaha atau perjuangan untuk memperoleh kepercayaan dan iman akan Kristus yang bangkit. Iman mereka tidak lagi didasarkan pada fondasi atau pijakan yang kuat, melainkan pada iman yang semu, atau terpaksa untuk percaya. Yesus ingin iman dan kepercayaan itu terjadi dalam proses bukan secara paksaan atau intimidasi. Karena itulah Dia menampakkan diri kepada para murid dan mengutus mereka ke tengah-tengah dunia untuk mewartakan kebangkitan-Nya. Para murid menjadi saksi utama atas peristiwa kebangkitan Kristus dan melalui cara hidup dan pewartaan mereka yang didasarkan pada Kristus yang bangkit itulah kiranya orang-orang Yahudi (dan orang lain) akan menyadari bahwa iman yang sungguh-sungguh benar adalah iman akan Kristus yang bangkit.
 Sekarang, kita sebagai murid Kristus yang bangkit mempunyai tugas sebagai pewarta kebangkitan Kristus agar kita meneladani segala tindakan yang dibuat Yesus sebelum dan sesudah kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan, Yesus ingin mengajari kita untuk bertahan dalam penderitaan tetapi pada akhirnya akan memperoleh kemuliaan pada saat kebangkitan. Kristus juga ingin kita menerima tugas berat itu sebagai konsekuensi iman dan kepercayaan kepada Dia yang adalah Tuhan dan Guru kita. Dan Dia berkata: “Janganlah takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Karena itu, beranikah kita menjadi saksi iman atas kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari? Sanggupkah kita menderita dalam pewartaan akan kebangkitan Kristus dari kematian untuk memperoleh kemuliaan dan kebangkitan kita kelak? Sudahkah kita menghidupi iman kita akan Kristus yang bangkit mulia dan menyerahkan tugas pewartaan kebangkitan-Nya kepada kita? Mampukah kita hidup sebagai pengikut Kristus yang bangkit mulia dari antara orang mati? Semoga. Amin.
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting