Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MAMPUKAH AKU MELAWAN SETAN YANG MENGGODAKU? (Kej 2:7-9;3:1-7; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11)

Godaan merupakan salah satu bentuk ujian untuk menentukan sejauh mana ketahanan seseorang dalam menghadapi banyak permasalahan, apakah dia berhak lulus dan memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Setiap saat godaan itu datang menggoda dan sangat aktual, up to date. Seperti seorang bendahara yang menyimpan banyak uang kas, mungkin saja digoda untuk menggunakan sebagian uang ini untuk keperluan pribadinya. Nanti kalau diminta laporan, akan dibuat laporan yang palsu. Ini merupakan salah satu contoh godaan yang membuat seseorang dapat terjerumus ke dalam dosa. Tetapi bila mampu melewatinya, maka dia pun memperoleh predikat lulus. Dan lebih lagi, hidup dan kepribadiannya akan semakin matang.
Hari ini Injil bercerita tentang pencobaan Yesus di padang gurun. Padang gurun bukan hanya soal padang pasir yang kering kerontang, tetapi sebagai simbol untuk berbagai macam penderitaan dan kesulitan hidup. Misalnya sulit mendapat air, banyak bahaya (puting beliung, binatang buas), cuaca yang ekstrim (malam sangat dingin dan siang sangat panas). Padang gurun juga merupakan simbol di mana orang bisa semakin dekat dengan Allah. Yesus dibawa ke padang gurun artinya, Yesus harus menghadapi kesulitan hidup dan diajak untuk berserah kepada sang pemberi hidup, yakni Allah Bapa-Nya.
Di padang gurun, Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam, tidak makan dan tidak minum. Dan setelah selesai, Dia diuji oleh iblis sebanyak tiga kali. Pencobaan pertama adalah Yesus diminta untuk mengubah batu menjadi roti. Pada saat Yesus menyelesaikan puasa-Nya, Dia merasa lapar (dan haus) dan pasti ingin makan (dan minum). Maka iblis berkata: “jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu ini menjadi roti.” Dikaitkan dengan tugas perutusan-Nya untuk menyelamatkan manusia, Yesus digoda untuk menggunakan kuasa Allah yang ada pada diri-Nya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Kalau Dia menggunakan kuasa Allah itu untuk untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri, maka Yesus egois karena keselamatan itu hanya terarah pada diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, Yesus menjawab: “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Di sini Yesus mau mengatakan bahwa manusia yang diciptakan Allah tidak hanya tergantung pada apa yang ada di dunia ini, tetapi dengan mengandalkan Allah dalam hidupnya, maka manusia juga pasti akan selamat.
Dalam pencobaan kedua iblis berkata: “jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Teks ini diambil dari Mzm 91:11-12 tentang hari penghakiman, di mana Anak Manusia akan datang dibantu oleh malaikat-malaikat-Nya menghakimi semua orang. Konteks pembicaraan dalam pencobaan kedua ini adalah tentang hari kiamat atau akhir zaman. Di sini, iblis mencobai Yesus supaya memaklumkan akhir zaman dan mengatakan bahwa sekaranglah saatnya kegenapan Kerajaan Allah. Tetapi Yesus dengan tegas menjawab: “janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu.’ Yesus diuji kedua-kalinya untuk memaklumkan Kerajaan Allah, padahal hanya Allah Bapa saja yang tahu kapan akhir zaman itu akan terjadi; Anak pun tidak tahu. Itu adalah hak atau privilege Allah sendiri. Yesus tidak mau merebut hak Allah untuk memaklumkannya.
Pada pencobaan ketiga, iblis membawa Yesus ke puncak gunung yang tertinggi di mana seluruh kemegahan dunia ini tampak. Dan dia berkata kepada Yesus: “semuanya itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembahku.” Iblis mengklaim bahwa dirinya berhak memberikan dunia ini beserta seluruh kemegahannya kepada Yesus, sementara Allah adalah pemilik segala ciptaan yang ada di dunia ini. Maka, jelaslah bahwa yang berhak memberikan seluruh dunia ini kepada Yesus adalah Allah sendiri bukan iblis. Lebih lanjut, iblis meminta Yesus untuk menyembahnya. Predikat menyembah selalu ditujukan kepada Allah dan hanya Allahlah yang layak disembah. Kalau iblis meminta Yesus untuk menyembahnya, artinya iblis menjadikan dirinya Allah. Karena itu Yesus berkata: “enyahlah iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Dan lihatlah setelah iblis pergi, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Dalam kehidupan ini, ketika iblis datang memberikan cobaan, godaan, tawaran dan sebagainya, kalau itu ditanggapi makan akan menjadi-jadi. Seperti yang terjadi pada manusia pertama dalam bacaan pertama, Adam dan Hawa, akhirnya mereka jatuh kepada dosa karena mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh ular penggoda. Maka kalau datang godaan dari iblis, jangan pernah menanggapinya. Untuk mengalahkan iblis, gunakanlah kekuatan Allah untuk mengusirnya. Seperti dikatakan oleh rasul Paulus: “sebab jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa atas satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Artinya, bila mengandalkan Kristus, kita akan mampu mengalahkan segala godaan iblis yang datang mencobai kita.
Kita semua tanpa terkecuali diberikan satu atau banyak tanggungjawab sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Oleh karena itu, patut kita bertanya pada diri kita sendiri, apakah kuasa atau kemampuan yang kita miliki, kita gunakan hanya untuk keuntungan diri kita sendiri atau untuk keselamatan semua orang? Bagaimana kita dalam kehidupan ini yang memegang hak atau kekuasaan tertentu, apakah kita masih mengambil hak orang untuk kita atau memberikan apa yang menjadi hak orang lain? Yang mau kita sembah siapa? Allah atau iblis? Allah atau harta kekayaan kita? Allah atau hal-hal dunia ini yang sifatnya sementara saja?
Yesus dalam menghadapi cobaan dari iblis tidak sedikit pun tawar menawar dengannya. Dia dengan tegas menolak tawaran iblis yang sungguh sangat menawan dan menjanjikan. Dan bagi Yesus, hanya Allah sajalah yang patut disembah. Dialah yang memiliki segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan pada Dia sajalah hak untuk memberikan kuasa untuk memaklumkan akhir zaman.
Di sekitar kita, cukup banyak penggoda-penggoda yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa dan maut. Maka, kembali kepada diri kita sendiri, bagaimana kita menyikapi godaan-godaan yang datang kepada kita? Apakah kita mengikuti hawa nafsu dan bujukan iblis? Mampukah kita bertindak seperti Yesus untuk: “MENOLAK IBLIS dan SEGALA PERBUATANNYA?” Bila mengandalkan Allah dalam kehidupan kita, iblis pasti akan kalah. Tetapi tidak bisa hanya sampai di situ saja. Kalau sudah mengandalkan Allah, maka kita juga harus bersedia menderita, berkorban untuk mendapatkan kemurahan dari Allah.
Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengalahkan godaan-godaan yang ada. Masa Prapaskah adalah masa di mana kita beralih dari kehidupan yang dipenuhi dengan kenyamanan dan ketidakpedulian terhadap sesama kepada pertobatan dengan memperhatikan mereka yang menderita dan miskin. Kita harus rela berkorban demi memperjuangkan kehidupan mereka yang tidak dianggap oleh dunia ini. Mari kita berjuang untuk selalu kembali kepada Allah dan mengandalkan-Nya dalam setiap bentuk kehidupan kita supaya iblis tidak datang mencobai dan akhirnya mengalahkan kita. Mari mohon bantuan Bunda Maria dan para kudus supaya mereka mendoakan kita setiap saat. Semoga kita mampu. Amin.

 Fr. Michael A.Aritonang OFMCap
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting