Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

BUTAKAH AKU TERHADAP KEBAIKAN DAN ANUGERAH YANG DIBERIKAN TUHAN KEPADAKU?? (1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Rm 5:8-14;Yoh 9:1-41)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap

Dalam pengertian biasa, buta berarti tidak dapat melihat segala hal yang tampak, yang kelihatan di dunia sekitarnya. Semua menjadi gelap dan bahkan cahaya yang paling terang sekalipun tidak dapat dilihat. Si buta pasti tidak tahu membedakan siang atau malam; tangan kanan atau kiri dan sebagainya. Karena itu, tanpa bantuan orang lain, si buta tak akan pernah bisa berbuat sesuatu dari dirinya sendiri.
Injil hari ini berbicara tentang Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahirnya. Para murid bertanya kepada Yesus: “Mengapa orang itu buta? Siapakah yang salah; orangtuanya atau si buta sendiri?” Pertanyaan ini lahir sesuai dengan konsep atau pola pikir bangsa Yahudi yang berlaku pada saat itu, yakni apabila seseorang sakit, miskin, menderita, itu disebabkan oleh dosa. Karena itu, mereka dihukum oleh Allah setimpal dengan perbuatannya. Sebaliknya apabila seseorang kaya, sehat dan sukses, itu artinya dia melakukan hal-hal yang berkenan di mata Tuhan dan mendapat berkat dari-Nya. Konsep Yahudi ini ditepis oleh Yesus dengan berkata: “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia.” Di sini Yesus mau menegaskan bahwa suatu keadaan fisik yang terjadi pada diri seseorang belum tentu diakibatkan oleh dosa. Bisa saja itu karena pekerjaan Allah supaya manusia percaya bahwa Allah dapat melakukan segala sesuatu. Yesus juga ingin menunjukkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk menjadi terang dan pembawa keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Hal yang menarik dari kisah injil ini adalah sikap atau tanggapan dari si buta, orang banyak, orangtua si buta, dan orang-orang Farisi. Dalam proses penyembuhannya, si buta sebenarnya sudah mengenal siapa yang menyembuhkannya. Tapi yang menjadi persoalan adalah dia masih belum percaya sepenuhnya kepada Yesus sebagai penyelamat. Dia masih tetap ragu meskipun dia sudah sembuh. Baru nanti pada akhir kisah, Yesus kembali menyapa si buta dan akhirnya dia pun percaya kepada-Nya.
Kedua, dari pihak orang banyak. Ketika melihat kesembuhan si buta, orang banyak bingung dan bimbang; apakah dia ini benar-benar si buta yang pernah mereka kenal atau tidak? Di antara mereka, ada yang memilih percaya bahwa si buta yang mereka lihat sekarang ini adalah si buta yang sama, yang selalu duduk mengemis. Yang lain mengatakan tidak. Sampai si buta pun menjelaskan yang sebenarnya bahwa dialah si buta yang mereka kenal sebagai pengemis, mereka tetap masih belum percaya. Ketiga, dari pihak orangtua si buta. Ketika melihat anak mereka sembuh dan bisa melihat, orangtua si buta pasti yakin bahwa orang yang menyembuhkan anak mereka adalah Allah. Tetapi karena tekanan sosial, terutama dari para pemimpin agama, mereka pun lebih memilih untuk berkata: “Yang kami tahu adalah bahwa dia ini adalah anak kami dan dia lahir buta. Tanyakanlah kepadanya tentang bagaimana ia sembuh.” Pernyataan ini sangat jelas menunjukkan kekurangmampuan menghadapi risiko dari mengungkapkan kebenaran.
Keempat, dari pihak orang-orang Farisi. Mereka ini adalah para pemimpin agama Yahudi yang bertugas untuk membuktikan keotentikan atau keabsahan kesembuhan seseorang dari penyakitnya. Karena itu, ketika si buta dihadapkan kepada mereka, muncullah hal-hal yang membuat mereka resah, terusik dan bahkan terancam. Mengapa? Karena Yesus dapat menyembuhkan orang dari kebutaannya. Posisi mereka sebagai yang seharusnya diikuti oleh orang banyak sekarang terancam karena mukjizat yang telah dilakukan Yesus kepada si buta. Karena itulah, mereka menghalang-halangi orang banyak supaya tidak percaya kepada Yesus. Hal ini dibuktikan dengan perkataan mereka: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Atau “Bagaimana seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?”
Dalam kisah tadi diceritakan tentang kebutaan fisik dari si buta dan orang banyak yang menyaksikan kesembuhannya. Mereka buta dan hati mereka tertutup pada terang dan keselamatan yang diwartakan oleh kedatangan Yesus ke dunia ini. Saat ini, kebutaan mereka juga kita alami, tetapi lebih pada kebutaan secara batiniah. Artinya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sering kita tertutup pada bisikan suara Allah dan kurang percaya kepada penyelenggaraan-Nya. Hati kita lebih sering ditutupi oleh keinginan dan nafsu sesaat dan kurang membuka diri pada tawaran keselamatan Allah itu.
Kebutaan dan ketertutupan kita kepada Allah akhirnya mempengaruhi hidup kita setiap hari, baik melalui perkataan maupun melalui perbuatan. Kita sering tinggal pada hal-hal fisik, yang dapat dilihat mata saja. Lebih ngerinya lagi, kita berpikir bahwa apa yang kita lihat, mungkin sama dengan yang dilihat atau dikehendaki Allah. Dan ini ditunjukkan oleh Samuel, sebagai nabi pilihan Allah yang diminta untuk mengurapi Daud menjadi raja Israel. Sebelumnya, tubuh fisik yang kuat, kekar, dan gagah perkasa menjadi kriteria utama bagi Samuel bahwa orang yang seperti itulah yang dikehendaki Allah menjadi raja. Tetapi Allah menegurnya dan berkata: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Samuel pun akhirnya menyadari kekeliruannya dan kemudian mengurapi Daud sebagai raja Israel, raja pilihan Allah.
Sebelum menerima pembaptisan, kita semua termasuk orang-orang yang buta, manusia yang tertutup pada tawaran keselamatan Allah, yang dalam bahasa rasul Paulus dikatakan sebagai yang masih tinggal dalam kegelapan dunia ini. Tapi setelah kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kita menjadi terang di dalam Tuhan. Maka, dari pihak kita dituntut supaya hidup sebagai anak-anak terang yang menghasilkan kebenaran, kebaikan dan keadilan. Kita diminta untuk menjauhi perbuatan-perbuatan kegelapan seperti mencuri, menghina orang lain, korupsi, membunuh (baik fisik maupun psikis), tidak peduli dengan kebutuhan dan kekurangan sesama, dan sebagainya. Sebab semuanya itu tidak menghasilkan apa-apa selain kerugian dan akhirnya kita akan kehilangan upah sebagai anak-anak Terang.
Sebagai orang yang dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, kita mesti mempertanggungjawabkan baptisan yang kita terima dengan cara kita masing-masing dan sesuai dengan kehendak Allah. Misalnya tidak malu membuat tanda salib di hadapan orang-orang yang tidak seiman dengan kita ketika berdoa; menolong orang yang sedang kesusahan; menerima kritikan dari orang lain, dan sebagainya. Kita harus mencoba mempraktekkan cara hidup sebagai anak-anak Terang yang telah menerima karunia pembaptisan.
Sering kali kita mencoba lari atau menghindar dari apa yang dituntut dari kita sebagai anak-anak Terang. Maka, sekaranglah saatnya kita bangkit dari tidur dan dari “antara orang-orang mati” supaya Kristus bercahaya atas kita masing-masing. Mari kita bertobat dan kembali kepada Allah yang menawarkan keselamatan kepada orang-orang yang mau percaya kepada-Nya. Mari merubah diri dalam masa berahmat ini, masa pertobatan ini dengan mengakui Yesus sebagai satu-satunya penyelamat yang akan menyembuhkan kebutaan batin dan hati kita masing-masing. Mari mencoba mengalahkan godaan dan tawaran duniawi yang menjerumuskan kita ke dalam dosa dan membuat kita buta terhadap penderitaan sesama di sekitar kita. Mari mohon bantuan Bunda Maria dan para kudus Allah untuk selalu mendoakan kita agar mampu keluar dari kebutaan duniawi yang membuat kita jauh dari Allah dan sesama. Semoga. Amin.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting