Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENJADI GARAM DAN TERANG DUNIA (Yes 58:7-10; 1Kor 2:1-5; Mat 5:13-16)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap

Setiap orang pasti tahu apa fungsi dari garam dan terang. Keduanya memberi warna terhadap sesuatu. Garam sifatnya asin dan fungsinya untuk mengasinkan makanan sehingga makanan itu menjadi terasa lezat dan nikmat. Kalau makanan kurang garam, apalagi tanpa garam, akan terasa hambar dan pastinya akan dibuang. Dan juga, kalau makanan itu terlalu asin pasti akan dibuang juga. Jadi porsi garam terhadap makanan harus seimbang sehingga menjadi enak. Demikian juga dengan terang. Terang berfungsi untuk menerangi kegelapan. Malam hari yang gelap adalah menakutkan dan menyeramkan. Dan dalam kegelapan tidak ada kehidupan. Tetapi ketika ada terang atau cahaya, maka kegelapan itu tidak lagi menakutkan dan terang akan membawa kehidupan kepada kegelapan itu.
Hari ini injil berbicara tentang garam dan terang dunia. Yesus berkata: “kamu adalah garam dan terang dunia.” Siapakah yang dimaksud dengan “kamu” dalam teks ini? Ungkapan kamu di sini menunjuk pada semua orang yang percaya dan mendengar sabda Yesus. Dan kata-kata ini mengandung suatu perintah atau tugas yang harus dilaksanakan di tengah-tengah dunia. Tugas tersebut menjadi bagian dari tugas perutusan yang diberikan oleh Yesus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Menjadi garam dan terang dunia sama artinya dengan memberi warna yang baru kepada dunia. Sebagai garam dan terang dunia, kita bertugas untuk mengasinkan dan menerangi dunia dengan cara Kristiani, cara yang baru seperti dikehendaki oleh Allah. Misalnya, ketika terjadi perselisihan, kita hadir sebagai pembawa kedamaian; di mana ada kesedihan, kita datang membawa sukacita dan kegembiraan; di mana ada orang membutuhkan pertolongan, kita datang membantu, dan sebagainya. Kita mulai dari hal-hal yang sangat kecil seperti mengunjungi orang sakit, mendengarkan curhat orang yang sedang bersedih, memberi sedekah, menawarkan makanan dan minuman kepada orang lain ketika mereka lapar dan haus, membantu orangtua dalam bekerja, memberi pakaian kepada yang telanjang, tidak menekan atau menindas orang, tetapi memuaskan hati orang yang tertindas. Di sini dituntut suatu sikap untuk menampakkan diri sebagai orang yang berbelaskasih kepada sesama manusia. Kita hadir di tengah-tengah dunia sebagai pembawa warta cinta kasih Allah dengan menunjukkan diri sebagai pengikut Kristus.
Di dunia sekarang ini, peran sebagai garam dan terang sangat dibutuhkan. Karena keegoisan pribadi, banyak orang yang akhirnya jatuh ke dalam jurang dosa dan kejahatan, bahkan sampai mengorbankan orang lain. Dan saat ini banyak juga manusia yang membutuhkan pendampingan khusus seperti, orang cacat mental, korban penganiayaan dan seksualitas, korban perdagangan manusia (human trafficking), korban narkoba dan para narapidana. Terhadap mereka semua ini, kita harus hadir sebagai garam dan terang dunia, sebagai pemberi semangat, pembawa kebahagiaan dan penghiburan kepada mereka. Kehadiran kita harus memberi arti bagi mereka, bukannya malah membuat mereka semakin terpuruk. Ketika kita mampu mewujudkan hal itu, pada saat itu pulalah terang kita akan bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan hati kita akan berubah menjadi terang yang akan menyinari kegelapan dunia sekitar kita.
Mengapa kita harus menjadi garam dan terang dunia? Nabi Yesaya mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita memang melaksanakan tindakan kasih kepada orang lain, tetapi sebenarnya itu untuk diri kita sendiri. Apa yang kita buat kepada orang lain, itu jugalah yang akan kembali kepada kita. Dan ketika kita melaksanakan semua itu, Allah akan menjawab dan mendengarkan doa permohonan kita. Dia akan segera hadir untuk membantu kita tanpa mengulur-ulur waktu lagi. Allah akan memberkati dan menuntun kita pada jalan yang aman sentosa serta akan melindungi kita terhadap segala marabahaya.
Namun, perlu juga ditegaskan bahwa dengan menjadi garam dan terang dunia, kita tidak boleh terlalu menonjolkan diri kita sendiri. Menjadi garam dan terang dunia berarti menampilkan Kristus sebagai Garam dan Terang dunia yang sesungguhnya, yang hadir di tengah-tengah dunia yang sedang membutuhkan pertolongan. Kehadiran kita bukannya untuk menampilkan hikmat pribadi tetapi supaya hikmat Allah tampak dalam tindakan kita dan dengan itu, Allah akan semakin dimuliakan dan diluhurkan. Tidak perlu kita memegahkan diri sendiri sebab semuanya itu tidak akan berarti sama sekali. Kekuatan, kemuliaan dan kebenaran Allah-lah yang pertama-tama harus dinyatakan dalam setiap tindakan belaskasihan yang kita perbuat. Dengan demikian, terang kita akan benar-benar bersinar laksana fajar di pagi hari, dan embun pagi yang memberi kesejukan dan kehidupan bagi dunia sekitar kita.
Mari hidup sebagai garam dan terang dunia supaya kekuatan dan kemuliaan Allah semakin dirasakan oleh dunia sekrang ini. Mari selalu mengandalkan Tuhan dalam usaha kita mewujudkan diri sebagai garam dan terang dunia. Semoga Bunda Maria dan para kudus Allah senantiasa mendampingi dan mendoakan kita dalam peziarahan di dunia ini. Semoga. Amin.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting