Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

MENGALAHKAN KEKHAWATIRAN AKAN HAL-HAL DUNIAWI (Yes 49:14-15; 1Kor 4:1-5; Mat 6:24-34)

Fr. Michael A. Aritonang OFMCap

Setiap manusia pasti pernah merasa khawatir atau cemas. Tak seorang pun dari kita pernah luput dari kecemasan. Ada yang cemas tidak lulus ujian, lamaran kerja tidak diterima, tidak punya keturunan setelah menikah, tidak dapat hidup bahagia, tidak menghasilkan panenan yang diharapkan, dan sebagainya. Kekhawatiran itu membuat banyak hal menjadi terbengkalai, tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan dan bahkan ada yang sampai putus asa karenanya. Yang bisa melewatinya dengan baik, akan menerima kebahagiaan. Tetapi yang tak mampu, akan kehilangan kebahagiaan dan pengharapan.
Hari ini Yesus bersabda: “Janganlah kamu khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum dan akan apa yang hendak kamu pakai. Lihatlah burung-burung-burung di langit, tidak menabur dan tidak menuai dan t
idak mengumpulkan bekal dalam lumbung, tetapi diberi makan oleh Bapamu di surga. Atau siapakah yang pernah memakai pakaian seindah bunga bakung di padang? Salomo pun tidak”. Perbandingan ini jelas mau mengatakan bahwa kita tak perlu merasa khawatir atau cemas dengan segala persoalan dalam hidup kita di dunia ini. sebab, burung saja mendapat pemeliharaan dari Allah. Dan lagi, bunga-bunga bakung di padang pun dipelihara dan dijadikan Allah menjadi indah melebihi keindahan yang ada.
Melihat kenyataan dunia saat ini, sabda Yesus ini menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Banyak manusia saat ini karena kecemasannya, misalnya takut hartanya dicuri; kebaikan orang yang mengancam posisi atau kedudukannya; masalah keluarga atau pacar; masalah sekolah dan lingkungan masyarakat; membuat hidupnya semakin hancur dan bahkan semakin jauh dari Allah. Ketakutan atau kecemasan tersebut bahkan membawa “kematian” bagi dirinya sendiri, sebab yang dipikirkan adalah hal-hal yang ada di dunia ini saja. Dalam artian tertentu, kekhawatiran memang perlu supaya kita tetap waspada atau berjaga-jaga. Tetapi bila perhatian hanya terfokus pada hal-hal duniawi ini, maka yang akan muncul adalah permasalahan baru. Sebab Yesus pun bersabda: “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasa saja pada jalan hidupnya?” (Ingat dalam injil, seorang kaya raya yang mengumpulkan harta kekayaannya. Dia khawatir, orang lain akan mengambil hartanya, atau ada yang datang memintanya. Maka, dia pun mulai menyimpannya di lumbung pribadi tanpa mau membaginya dengan orang lain. Akhirnya dia mati juga dan hartanya pun ditinggalkan juga.) Tak seorang pun dapat menambahnya, kecuali Allah berkenan menambahkannya.
Pesan yang dapat ditarik dari teks ini adalah bahwa Allah senantiasa memperhatikan setiap orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Dia tak akan pernah memberikan pencobaan dan penderitaan yang lebih berat daripada yang dapat kita tanggung. Sekalipun kita menderita, Dia tetap hadir untuk menemani dan menghibur kita. Bahkan, seperti dikatakan oleh nabi Yesaya, sekalipun seorang ibu yang melahirkan anak akan meninggalkan atau melupakan anak yang dilahirkannya itu, Allah tidak akan pernah melupakan anak itu. Mengapa? Karena kita begitu berharga di mata-Nya melebih segala sesuatu. Kita manusia adalah makhluk yang paling sempurna, paling indah dan mempunyai derajat yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya karena kita diciptakan seturut Gambar dan Rupa Allah. Maka, janganlah pernah khawatir atau cemas akan hidupmu, akan apa yang akan kamu makan atau minum atau kamu pakai. Allah sendiri akan memberikan yang terbaik bagi kita ketika kita mau menyerahkan segala pergumulan dan persoalan hidup kita kepada-Nya. (Hidupmu berharga bagi Allah, tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya, Dia ciptakan kau s'turut gambar-Nya, sungguh terlalu indah kau bagi Dia. Dia berikan kasih-Nya bagi kita, Dia t'lah relakan segala-galanya, Dia disalib 'tuk tebus dosa kita, kar'na hidupmu sangatlah berharga. buluh yang terkulai tak 'kan dipatahkan-Nya, Dia 'kan jadikan indah sungguh lebih berharga, sumbu yang t'lah pudar tak 'kan dipadamkan-Nya, Dia 'kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya.)
Memang terkadang ada banyak persoalan yang datang menimpa kita, mencobai kita sampai kita merasa tidak sanggup menjalani hidup ini lagi. Bahkan mungkin pernah juga kita sampai pada keputusan untuk berpaling dan meninggalkan Allah karena merasa ditinggalkan dan dilupakan-Nya. Tetapi rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan itu adalah hakim yang adil. Ia tahu mana yang terbaik bagi setiap orang. Ia akan menerangi apa yang tersembunyi dalam kegelapan dan akan memperlihatkan atau menyingkapkan apa yang direncanakan di dalam hati.
Persoalannya adalah bagaimana kita mampu keluar dan mengalahkan kekhawatiran tanpa harus kehilangan segala kebahagiaan dan tetap mendapatkan apa yang kita cita-citakan? Terkadang memang dan tak dapat kita pungkiri bahwa ketiadaan harta duniawi, karena kemiskinan dan ketidakmampuan ekonomi, atau karena persoalan-persoalan lainnya membuat kita khawatir akan masa depan kita, akan masa depan keluarga dan juga karir kita. Dan tentu saja ini menjadi fokus utama perhatian kita. Tetapi patut juga dipertanyakan, apakah karena kekhawatiran kita, yang kadang menjadi berlebihan dan seolah-olah tak punya pengharapan lagi, bisa membuat kita keluar dari masalah yang ada? Karena itulah Yesus berkata: “carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu, janganlah kamu khawatir akan hari esok, sebab hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari”.
Di sini, Yesus pertama-tama ingin mengajak kita untuk menemukan harta yang paling berharga dan paling utama, yakni mencari dan menemukan Kerajaan Allah. Kekhawatiran akan hidup dengan segala macam persoalannya terkadang membuat kita lupa akan hal yang sebenarnya yang sungguh-sungguh sangat penting. Kita lupa, apa sebenarnya tujuan hidup kita, apa maksud Allah menciptakan kita di dunia ini. Kecemasan dan kekhawatiran akan hal-hal di dunia ini membuat kita tampil sebagai orang-orang yang kurang percaya dan kurang berharap kepada Allah yang mampu membantu kita keluar dari segala bentuk persoalan hidup kita. Kita lupa bahwa di balik semua misteri kehidupan dunia ini, Allah tetap hadir dan berkarya untuk kebahagiaan dan keselamatan kita. Hanya saja, kita kurang menyadari kehadiran Allah itu karena kita terlalu sibuk dengan banyak hal.
Yesus ingin supaya kita melaksanakan perintah-perintah-Nya. Pencarian akan Kerajaan Allah haruslah diutamakan daripada hal-hal duniawi ini. Karena kebahagiaan di dunia ini sifatnya sesaat saja, fana, tetapi kebahagiaan dalam Kerajaan Allah adalah kekal abadi. Kerajaan Allah itu menyangkut kehidupan dan relasi kita dengan Allah dan sesama manusia. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mencintai Allah, tetapi melupakan sesama di sekitar kita, mereka yang miskin dan menderita, yang tak punya apa-apa. Kita mengatakan bahwa hubungan kita dengan Allah terjalin dengan baik. Kita berdoa, berharap dan memuji Dia setiap saat, membaktikan diri sepenuh-Nya kepada-Nya. Tetapi orang-orang yang datang minta pertolongan kepada kita, diabaikan. Mereka yang sakit, yang lemah dan hina dina tak sedikit pun menyentuh kedalaman hati kita. Artinya iman, doa dan pembaktian diri kita bersifat semu, hanya omong kosong saja.
Apalah artinya kita mempunyai iman, tetapi orang lain kita tinggalkan. St. Yakobus berkata: “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Artinya, iman itu harus dinyatakan dalam tindakan nyata setiap hari. Pelayanan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, orang-orang sakit, para pengemis dan sebagainya, itulah yang terutama harus dilakukan. Dan jangan lupa pula, bahwa kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja, hanya berfokus pada pelayanan sosial sehingga melupakan Allah. Yang terbaik adalah, sebelum dan setelah melakukan perbuatan baik, kita tetap menyerahkan segalanya kepada Allah. Dengan demikian, segala sesuatu akan ditambahkan kepada kita, sebab daripada-Nyalah segala sesuatu berasal dan kepada-Nya jugalah akan kembali semuanya itu.
Sekarang kita mau memilih yang mana: kebahagaiaan dunia fana ini, atau kebahagiaan kekal di surga? Masihkah kita khawatir dengan apa yang akan kita pakai, yang akan dimakan atau diminum? Beranikah kita menyerahkan segala bentuk pergulatan hidup kita kepada Allah dan mulai mencari Kerajaan-Nya? Tidakkah lebih baik memilih mencari dan menemukan Kerajaan Allah supaya segala sesuatu ditambahkan kepada kita? Ataukah kita lebih memilih mencari kerajaan dunia ini tetapi kehilangan segala-galanya? Mari kita bermenung dalam diri kita masing-masing untuk menemukan apa sebenarnya yang paling utama yang harus kita lakukan di dunia ini. Mari mohon bantuan Allah, Roh Kudus, Bunda Maria dan para kudus untuk menuntun dan mendoakan kita selalu supaya dapat sampai pada pencarian dan menemukan Kerajaan Allah. Semoga. Amin.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting