Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

IMAN


Hasil gambar untuk paus fransiskus membasuh kaki murid

IMAN
Hab 1:2-3.2; 2-4; Tim 1:6-8.13-14; Luk 17:5-10


Dalam kehidupan ini kita sering menghadapi dan bergumul dengan persoalan, tantangan berat yang seakan tak kunjung putus dan tak ada jawaban yang pasti. Misalnya kesulitan dalam keluarga, menghadapi anak-anak, pekerjaan, keuangan, hidup bersama dengan orang lain, penyakit, penderitaan, dan masalah pribadi kita. Dalam situasi seperti ini, kita tidak tahu kepada siapa harus mengadu, untuk menceritakan apa yang kita rasakan. Hidup seakan hanya timbunan pertanyaan yang tak pernah terjawab, bagaikan jurang yang menganga lebar. Kita tidak tahu ke mana kita harus mengadu atas segala kesulitan yang kita hadapi. Bila pengalaman ini berlanjut, tidak mustahil bahwa kita akhirnya menjadi orang yang gampang ragu, cemas, kurang percaya dan menjadi putus asa. Kita berupaya mencari pegangan hidup, yang kita rasa akan mampu membuat kita aman, terjamin dan tenteram sekurang-kurangnya untuk beberapa saat, tetapi tidak pernah untuk selamanya. Kita membutuhkan pegangan hidup yang memberikan kita kedamaian, ketenteraman kendati mesti menghadapi seribu satu macam persoalan hidup. Inilah yang dinamai iman yang senantiasa memberi kita pengharapan dalam perjuangan hidup.
Dalam bacaan pertama, kita mendengar nabi Habakuk yang berseru kepada Allah, karena bangsanya ditindas oleh raja yang lalim, yaitu raja Yoyakim. Sebelumnya, raja Yosia sudah membangun negara bukan saja sebatas bidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang religius-keagamaan. Yosia merupakan raja yang jujur dan teguh. Tetapi kematiannya dalam pertempuran cukup mengejutkan umat dan menimbulkan pertanyaan: di manakah keadilan Yahwe. Teriakan Habakuk seakan tak dihiraukan Tuhan. Mengapa ada penganiayaan, kelaliman dan pertikaian? Seruan itu bukan ungkapan putus asa, melainkan suatu pertanyaan apakah Allah tidak berkarya dalam kejadian semacam itu? Tuhan menjawab Habakuk, “Orang jujur akan hidup berkat imannya!” Seruan orang beriman kepada Allah dalam peristiwa-peristiwa kehidupan merupakan doa. Doa itu adalah jawaban atas tawaran Allah yang mencintai manusia. Hanya doa yang melibatkan pergulatan hidup merupakan doa yang jujur. Sebaliknya, hidup yang tidak dibawa dalam doa adalah kosong. Juga dalam situasi yang sulit sekali pun akhirnya seorang beriman masih mendapatkan nilai dalam doa, yakni bertemu dengan tawaran kasih karunia Allah.
Bacaan ini mau meyakinkan kita bahwa hanya Allahlah yang dapat memecahkan persoalan hidup. Orang baik yang menderita memang merupakan pertanyaan. Namun bagi orang beriman ada jawaban di tangan Allah. Jawaban itu akan membahagiakan manusia, asal manusia mau menyerahkan diri pada rencana Allah. Inilah yang dinamai iman, penyerahan diri kepada penyelenggaraan Allah. Kendati itu tidak berarti bahwa manusia cukup berpangku tangan saja dan mengharapkan bahwa Tuhan sendiri akan menuntaskan setiap persoalan. Tuhan berkarya lewat tangan kita. Tuhan memberi kita kekuatan untuk mencari jalan dan memberi pengharapan agar kita tidak putus asa.
Dalam Injil kita mendengar permohonan para murid kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami”. Permintaan para murid mau memperlihatkan segi ketergantungan. Orang yang meminta adalah orang yang dalam hidupnya membutuhkan sesuatu. Permintaan para murid bukanlah perkara duniawi, tetapi iman. Iman merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki setiap orang yang mau mengikuti Yesus, bukan hanya pada tahap awal, tetapi dalam seluruh perjalanan hidupnya. Perjalanan dan program hidup Yesus kiranya hanya dapat dipahami dan diikuti dalam kaca mata iman. Logika, cara pandang dan cara pikir manusia tidak sanggup memahami rencana Allah. Jalan pikir yang ditempuh Yesus bukanlah seperti perkiraan manusia. Seperti kita tahu, para murid juga kerap salah mengerti tentang misi Yesus, mereka malah bertengkar mengenai siapa yang paling besar di antara mereka. Para murid bermimpi bahwa kelak dalam kerajaan baru yang diwartakan Yesus, mereka akan menjadi orang-orang penting.
Tetapi Yesus mendidik mereka dengan cara pandang lain, para murid harus menjadi pelayan semua orang, yang siap memanggul salib, kehilangan nyawa dan menjadi yang terkecil. Tuntutan Yesus ini lain dari mimpi para murid. Ambil bagian dalam tugas Yesus berarti mengikuti jejak-Nya dengan setia dengan kesiapan mempertaruhkan segala sesuatu, termasuk mimpi dan kenyamanan. Hal ini ditandaskan Yesus dengan menyatakan bahwa para murid mesti menjadi pelayan. Dan setelah melakukan seluruh tugasnya, dia memandang diri sebagai hamba yang tidak berguna. Tidak ada alasan bagi murid Tuhan untuk sombong karena melakukan tugas, termasuk pelayanannya.
Untuk sampai kepada keputusan semacam itu, para murid harus membenahi diri. Hal itu nyata dari permintaan mereka, “Tambahkanlah iman kami”. Menanggapi kehausan dan kerinduan para murid-Nya, Yesus menandaskan bahwa cukup iman yang kecil saja, tetapi bekerja dengan optimal dalam diri manusia. Iman bukan perkara besar atau kecil, melainkan perkara keseriusan menghidupi iman itu. Persoalan hidup hanya dapat ditanggapi dan dilihat dalam kacamata iman. Iman yang sederhana sudah dapat melakukan karya yang luar biasa yang diumpamakan Yesus dengan mencabut pohon ara dan menanamkan di dalam laut. Suatu pekerjaan yang mustahil. Pohon ara adalah pohon besar dan sanggup hidup sampai enam ratus tahun dengan akar yang sangat dalam dan luas. Kiranya perkataan Yesus ini tidak bisa ditafsirkan begitu saja. Yesus mau menekankan bahwa dengan beriman, orang dapat melakukan hal-hal yang di mata manusia tidak mungkin terjadi. Mirip dengan perkataan Yesus mengenai unta yang masuk lewat lobang jarum. Tetapi iman yang kecil itu pun sudah dapat mengerjakan karya luar biasa.
Persoalannya ialah bahwa kita cenderung mencari rasa aman dan jaminan hidup pada kekuatan kita. Kita cenderung bersandar pada kemampuan, harta, kuasa dan kedudukan. Kita kerap kurang memiliki semangat untuk berpasrah dan mencari kehendak Tuhan. Kita mau supaya kehendak kitalah yang berlaku. Karena itulah kita kerap kecewa dan akhirnya tidak mau tahu dan perduli lagi dengan kehidupan rohani. Kita semakin enggan untuk mengupayakan supaya iman kita tetap hidup dan teguh. Tuntutan iman kita kerap kita hindarkan, dan kita cenderung mengikuti selera kita saja. Iman belum kita anggap sebagai sesuatu yang serius dan penting, dan hanya kalau terdesak kita baru menyerukan nama Tuhan. Para murid yang hidup di sekeliling Yesus minta supaya iman mereka ditambahkan. Hal yang sama kiranya juga menjadi seruan dan permintaan kita. Semoga!!!



Fr. Silvinus Tinambunan OFMCap
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting