Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Tuhan, Ikutkah Saya Diselamatkan? (Yes 66:19-21; Ibr 12:5-7.11-13; Luk 13:22-30)

            
Saudara-saudari terkasih, Yesus dalam karya pelayanan-Nya kerap disuguhi pertanyaan oleh para murid, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, orang banyak dan bahkan orang yang tidak dikenal atau orang yang tidak disebutkan namanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Yesus kerap juga tidak dijawab-Nya secara langsung. Yesus sering menampilkan perumpamaan-perumpamaan, metafora bahkan mengajukan pertanyaan balasan. Dalam bacaan Injil hari ini, seseorang yang tidak disebut namanya bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak menjawab secara langsung, tetapi menampilkan empat metafora: “pintu yang sesak” (ay. 24), “pintu yang ditutup” (ay. 25-27) , “perjamuan Kerajaan Allah” (ay. 28-29) dan “yang terakhir menjadi yang terdahulu” (ay. 30).
            Saudara-saudari terkasih, untuk dapat memperoleh keselamatan atau hidup kekal seseorang harus berjuang melalui “pintu yang sesak”. Kiasan “pintu yang sesak” menggambarkan jalan masuk yang tidak gampang dilalui tetapi sulit, butuh perjuangan dan pengorbanan. Keselamatan atau hidup kekal akan diperoleh oleh seseorang kalau dia mempunyai daya juang dan mau berkorban. Inilah jalan yang ditawarkan oleh Yesus. Selain berjuang, seseorang juga sangat membutuhkan rahmat Allah, sebab keselamatan tidak hanya diperoleh dari perjuangan pribadi tetapi juga rahmat dan belas kasih Allah sendiri. Kiasan “pintu yang ditutup” menggambarkan peran Allah dalam menentukan siapa yang akan diselamatkan atau dimasukkan ke dalam kehidupan kekal. Banyak orang berjuang masuk melalui pintu yang sempit, tetapi mereka tidak akan dapat, sebab Allah sendiri yang membukakan dan menutup pintu Kerajaan Allah. Ia akan membukakan pintu bagi orang yang berkenan kepada-Nya dan menutup pintu bagi mereka yang melakukan kejahatan. Barang siapa yang mengenal dan melaksanakan perintah Allah akan memperoleh keselamatan, tetapi barang siapa yang hanya mengenal dan mendengarkan perintah Allah tetapi tidak melakukannya akan dicampakkan ke dalam nereka.
            Suasana Kerajaan Allah dilukiskan dengan “perjamuan kerajaan”. Di sana orang-orang yang telah diizinkan masuk akan bersuka cita. Sementar suasana neraka dilukiskan dengan ratapan dan kertak gigi. Di sana, orang-orang yang tidak dizinkan masuk ke dalam Kerajaan Surga menerima hukuman kekal. Ratapan melukiskan kesedihan dan kertak gigi menggambarkan kemarahan dan kebencian. Dalam perjamuan surgawi, setiap orang akan duduk dan makan bersama. Mereka yang duduk dan makan bersama berasal dari seluruh dunia. Hal ini juga sudah dinubuatkan oleh Yesaya dalam bacaan pertama (Yes 66:19-21). Sifat universalitas perjamuan surgawi dilukiskan oleh mereka yang datang dari empat penjuru bumi (Timur, Barat, Utara dan Selatan). Perjamuan surgawi terbuka bagi setiap orang bukan hanya kepada orang Yahudi dan orang yang menganggap diri paling suci, unggul, utama dari orang-orang lain, melainkan juga bagi orang yang dianggap hina, dinomor duakan dan najis.Barang siapa meninggikan dan menyombongkan diri akan direndahkan, tetapi siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Itulah yang dimaksud dengan “yang terakhir menjadii yang terdahulu”.

            Saudara-saudari terkasih, pertanyaan, “Tuhan, sedikit sajakah orang diselamatkan?” dapat kita ganti dengan pertanyaan, “Tuhan, ikutkah saya diselamatkan?” Keselamatan kekal adalah urusan personal bukan komunal, tidak tergantung kepada orang tua, keluarga, suku atau budaya tertentu bahkan agama tertentu.Supaya saya selamat, saya harus berjuang, bekerja keras, berkorban bahkan sampai terluka dan menderita. Allah akan memperingatkan, menghajar dan menguji orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:6). Ujian, peringatan atau penderitaan pada waktu diberikan akan mendatangkan dukacita, tetapi kemudian ia akan menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibr 12:11). Oleh karena itu, saya harus kuat dan gigih supaya tidak putus asa dan jatuh (bdk. Ibr 12:12-13). Selain berjuang, saya juga harus menyadari diri sebagai makhluk yang lemah di hadapan Tuhan, yang senantiasa membutuhkan rahmat dan belas kasih. Usaha manusia saja pasti tidak cukup, sebab keselamatan itu tergantung pada rahmat dan belas kasih Allah (Fr. JD)
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting