Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Yesus adalah Mesias dari Allah (Hari Minggu Biasa XII) (Za 12:10-11;13:1; Gal 3:26-29; Luk 9:18-24)

Saudara-saudari terkasih, siapakah Yesus?
Dalam Injil Lukas, orang banyak kerap mempertanyakan identitas Yesus misalnya, orang Farisi mempertanyakan identitas Yesus ketika Dia mengampuni seorang perempuan berdosa (Luk 7:49). Para murid mempertanyakan identitas Yesus ketika Dia meredakan angin topan dan menenangkan amukan ombak di danau (Luk 8:25). Yohanes pembaptis juga mengutus dua muridnya untuk mempertanyakan identitas Yesus apakah Dia yang dinanti-nantikan oleh orang banyak (Luk 7:18-23). Herodes juga bertanya tentang identitas Yesus ketika ia mendengar ada seorang yang begitu berpengaruh di wilayahnya (Luk 9:7-). Dan Yesus sendiri juga bertanya kepada murid-murid-Nya tentang identitas diri-Nya menurut anggapan orang dan menurut mereka sendiri (Luk 9:18-20). Dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada banyak jawaban mengenai identitas yang dikenakan kepada Yesus. Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit. Ada pula yang mengira bahwa Yesus adalah nabi Elia dan ada pula yang menganggap diri-Nya sebagai nabi yang lain. Ketika Yesus menanyakan siapa diri-Nya kepada murid-murid-Nya Petrus tampil sebagai juru bicara dan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah. Dengan jawaban ini, Petrus menolak pemahaman dan pengakuan bahwa Yesus hanyalah seorang nabi meski dianggap sebagai nabi yang paling besar di antara para nabi. Sebaliknya Petrus percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama.

            Mesias yang dari Allah itu dihubungkan dengan Anak Manusia yang harus banyak menanggung pnderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahlii Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Dan inilah yang dinubuatkan dalam bacaan I sebagaimana dilukiskan dalam kitab Zakharia. Kematian Yesus membawa pembasuhan dosa dan menjadikan kita anak-anak Allah. Dengan demikian tidak ada lagi pembedaan di antara kita sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia yang kita dengar dalam bacaan II. Kalau kita sudah menjadi satu dengan Kristus kita dituntut supaya menyangkal diri, memikul salib dan mengikutinya. Menyangkal diri berarti melupakan kepentingan diri sendiri, tidak mau mengikuti keinginan sendiri dan tidak boleh menjadikan diri sendiri sebagai pusat hidup. Siapa pun yang ingin menjadi murid Yesus harus rela melepaskan kepentingannya sendiri, gengsinya dan jaminan hidup lainnya. Memikul salib setiap hari dapat diartikan bahwa setiap orang yang mau menjadi pengikut Yesus harus rela mengalami penderitaan bahkan sampai mati karena menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Yesus. Kata setiap hari mengisyaratkan bahwa penyerahan diri kepada kehendak Yesus harus diperbaharui setiap hari, bukan hanya dalam situasi tertentu saja.  Mengikuti Yesus berarti kita berjalan di belakang Yesus untuk melihat apa yang dibuat, mendengar pengajaran-Nya, memahami pemikiran dan keprihatinan-Nya serta meniru tindakan-Nya tanpa malu, sebab kepada kita telah dijanjikan hidup yang kekal. (Fr. JD)
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting