Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Dipanggil untuk Membangkitkan Orang, baik Fisik Maupun Rohani (1Raj 17:17-24; Gal 1:11-19; Luk 7:11-17/ Hari Minggu Biasa X)

         
Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan hari ini kita akan mendengar kisah pembangkitan orang mati. Adalah menarik memperhatikan bacaan hari ini. Bacaan I mengisahkan bagaimana nabi Elia membangkitkan anak seorang janda dari Sarfat dekat Sidon (1Raj 17:20-24). Kisah ini mempunyai kemiripan dengan kisah nabi Elisa yang menghidupkan kembali anak seorang perempuan di kota Sunem yang terletak di bagian selatan Galilea (2Raj 4:8-37). Bacaan II mengisahkan bagaimana Paulus bangkit dari penganiaya menjadi pewarta iman akan Yesus Kristus. Sementara Injil menceritakan bagaimana Yesus membangkitkan anak seorang janda di kota Nain.

           Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan di atas berkisah tentang kebangkitan. Dua kisah mengenai kebangkitan fisik (bacaan I dan Injil) dan satu lagi berbicara mengenai kebangkitan rohani (bacaan II). Mukzijat pembangkitan dari orang mati dalam bacaan I dan Injil kedengarannya sama tetapi kalau kita lihat secara seksama khususnya dari tokoh pembuat mukzijat nampak perbedaan. Tokoh dalam bacaan I adalah nabi Elia. Ia membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang terbaring dalam sebuah ruangan dan tidak sedang dibawa dalam kubur. Elia sendirian di ruangan itu, lalu ia berdoa kepada Allah kemudian membaringkan badannya tiga kali di atas tubuh anak yang mati itu. Anak itu hidup kembali. Tokoh dalam Injil adalah Yesus. Motivasi Yesus dalam membangkitkan anak janda di Nain ini bukan karena iman si janda sebagaimana kisah pembangkitan hamba dari seorang perwira Romawi melainkan karena belas kasih. Yesus menaruh belas kasihan kepada si janda yang tidak mempunyai apa-apa lagi dalam hidupnya. Yesus mendekati usungan dari anak yang meninggal itu dan menyentuhnya. Dalam arti tertentu Yesus sudah melanggar peraturan dan adat Yahudi (bdk. Bil 19:11,16). Hal ini dilakukan-Nya karena rasa belas kasihan sebab Dia adalah Tuhan atas peraturan-peraturan. Penyelamatan Yesus terbuka bagi semua orang karena rasa belas kasihan-Nya. Kemudian Yesus memerintahkan anak itu untuk bangkit: “Hai, anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! Kemudian anak itu bangun dan duduk serta mulai berkata-kata untuk menunjukkan kepada orang bahwa ia benar-benar hidup. Yesus membangkitkan dengan sabda-Nya, Ia tidak berdoa dan memohon kepada Tuhan sebagaimana dilakukan oleh nabi Elia. Hal ini mau menunjukkan bahwa Yesus jauh lebih berkuasa dari nabi Elia. Bacaan II mengisahkan Paulus yang bangkit dari seorang penganiaya jemaat Kristen menjadi pewarta Yesus. Dalam hal ini Paulus mengalami kebangkitan rohani, bangkit dari yang jahat kepada hidup yang lebih baik. Kisah pembangkitan ini membawa sukacita, damai bagi mereka yang mengalaminya.
        Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan di atas  mau menunjukkan kuasa Allah yang menyelamatkan. Allah menyelamatkan melalui nabi Elia. Allah menyelamatkan melalui Yesus. Allah menyelamatkan umat-Nya melalui pewartaan rasul-Nya Paulus. Kita juga dipanggil oleh Allah untuk menyelamatkan sesama manusia melalui perkataan dan tindakan. Kita juga dipanggil untuk membangkitan orang secara fisik (bukan harus membangkitakn orang mati tetapi membantu orang yang kesusahan dari segi materi, memberi makan orang lapar, memberi tumpangan kepada gelandangan dan lain-lain) dan rohani (membangkitkan pengharapan orang yang putus asa, menghibur orang yang berada dalam kesedihan, mengunjungi orang sakit dan lain-lain). Semoga kita menjadi alat Tuhan dalam menyelamtakan umat-Nya. Amin. (Fr. JD).
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting