Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Apakah Bayi Yesus Telah Digantikan Oleh Sinterklas?

NATAL ADALAH PERISTIWA PENYELAMATAN
(Yoh 1:11)
Fr. Damainus F. Tilman, OFMCap
Pengantar      
            Natal adalah momen ketika kita memperingati dan merayakan kedatangan Tuhan. Ada banyak cara yang kita buat untuk merayakan peristiwa penHoly Night yang agung kadang telah di-discoremix-kan. Berangkat dari sini, saya menawarkan sebuah refleksi atas makna Natal.
Fr. Damianus F. Tilman, OFM Cap
yelamatan ini. Segala bentuk perayaan Natal ini adalah ungkapan iman kita. Di atas segala ketulusan dan kebaikan kita kerap ada saja sindiran yang menggelitik yang rasanya benar juga. Apakah memang bayi Yesus telah digantikan oleh Sinterklas? Atau cahaya lilin Natal telah digantikan oleh lampu tip top? Bahkan lagu

Dosa Membawa Kita kepada Kematian
            Natal adalah peristiwa penyelamatan. Dalam Injil diketengahkan kepada kita bagaimana Allah datang ke dunia dan menjadi seperti kita. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan dunia yang terkungkung oleh belenggu dosa; untuk mengembalikan dunia kepada kodratnya; untuk mengembalikan Firdaus yang hilang. Allah datang untuk menerangi kehidupan kita yang gelap dan membawa kita keluar dari kematian akibat dosa kepada kehidupan bersama-Nya.
            Mengapa kita harus diselamatkan? Karena kita telah rusak oleh dosa! Kita yang sejak semula baik adanya diciptakan Allah kini telah rusak. Dosa merusak kodrat kita. Dosa akan membawa kita kepada kematian. Dosa di sini bukan sekedar konsep teoritis belaka yang tidak mempunyai efek kepada kehidupan kita. Dosa ini nyata dalam kehidupan kita. Sejenak kita bisa merunut sejarah. Sejarah telah menunjukkan bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar bebas dari perang. Tidak usah jauh-jauh kita merunut ke masa purba. Kiranya masih segar dalam ingatan kita peristiwa genocida di Rwanda, pembantaian di Kamboja, Sudan, Irak dan di tempat-tempat lainnya. Perang selama abad XX merupakan perang yang menelan korban paling banyak dalam sejarah. Palang Merah Internasional memperkirakan lebih dari 100 juta orang telah terbunuh dalam perang-perang selama abad XX. Abad XXI pun dimulai dengan “Perang atas Teror” yang diikuti oleh perang Irak dan konflik-konflik lain yang lebih kecil yang terus menerus terjadi di seluruh penjuru bumi. Perang jelas dan pasti membawa kita kepada kematian. Perang itu adalah muara dosa.
            Dalam zaman teknologi yang super canggih dewasa ini, rupanya ketidakadilan pangan justru semakin besar. Bank Dunia melaporkan terdapat lebih dari 800 juta orang yang kelaparan tiap harinya, dan lebih dari 500 juta anak-anak tidak mendapat cukup nutrisi untuk tumbuh dengan normal, secara fisik ataupun mental. Terdapat 1 milyar orang miskin di negara berkembang yang hidup dengan atau kurang dari USD.1.00 per hari. Peningkatan harga bahan bakar dan makanan semakin cepat dan akan terus meningkat sehingga memperbanyak kelaparan dan kemiskinan. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, kenaikan harga makanan dan inflasi membuat orang miskin makin miskin; menempatkan banyak orang dalam resiko menjadi miskin, dan memperburuk kondisi keuangan dari kaum ekonomi menengah ke bawah. Jurang antara orang kaya dan orang miskin justru semakin lebar.
            Di negara kita, hampir setiap hari kita dengar berita ketidakadilan. Jeritan kaum lemah pun semakin nyaring, sementara “orang-orang besar” hidup “di atas angin”. Kalangan pejabat sepertinya beramai-ramai menghabiskan uang rakyat. Korupsi merajalela. Segelintir orang dapat menikmati segalanya tanpa batas. Kebutuhan terus-menerus dicipta untuk menghabiskan harta yang bertumpuk. Banyak uang berhamburan di tempat-tempat santai, tempat-tempat hiburan. Banyak atau hanya segelintir saja orang hidup di atas penderitaan orang lain, atau sekurang-kurangnya berdampingan dengan orang yang menderita.
            Kemerosotan moral mencapai puncak tertinggi dalam sejarah dalam dua dekade terakhir ini. Masyarakat modern lebih menampakkan egoisme yang akibatnya mengilangkan segala ikatan-ikatan sosial. Individualisme semakin tinggi, sebaliknya bela rasa semakin memudar. “Revolusi seksual” pun mengalami puncak tertinggi pada abad ini. Sex bukan lagi sesuatu yang sakral, tetapi justru hampir-hampir menjadi gaya hidup manusia modern. Seks bukan lagi didasari cinta tetapi didasari oleh nafsu dan pemuasan diri. Meledaknya angka aborsi di seluruh dunia adalah bukti paling nyata dari kasih yang telah menjadi dingin yang merupakan akibat dari revolusi seksual. Setiap hari ribuan bayi dalam kandungan dibunuh oleh ibunya sendiri dan tampaknya dengan persetujuan publik! Hal ini semakin diperkeruh oleh penggunaan narkoba dan obat-obat terlarang.
            Masyarakat barangkali semakin mengorupsi dengan hancurnya dasar fundamentalnya, yaitu keluarga. Keluarga yang semestinya menjadi tempat yang tidak bisa digantikan untuk menanamkan cinta kini semakin tidak bisa lagi diandalkan. Semakin hari keluarga semakin digerogoti oleh kesibukan. Orang tua semakin sulit memberikan waktunya bagi anak-anaknya. Akibatnya segala media: TV, internet, Game Online, play station lebih banyak menemani dan “membimbing” anak-anak. Banyak orang tua merasa tidak bisa bekerja sama dengan anak-anaknya dan kepercayaan mereka terhadap anak-anaknya semakin berkurang. Grafik perceraian disinyalisasi juga semakin meningkat. Denominasi media atas masyarakat semakin menjadi-jadi yang akhirnya cenderung menggiring masyarakat untuk melegalkan segala bentuk immoralitas. Akhirnya kita pun takut ketika membayangkan suatu masyarakat tanpa ikatan-ikatan moral dan kontrol sosial; membayangkan masa depan yang suram, suatu dunia dengan generasi yang khaos.
            Di mana-mana orang semakin menjunjung tinggi “kebebasan”. Dan kebebasan yang dipahami adalah bebas “sebebas-bebasnya dari” bukan “bebas untuk”. Hal ini berujung pada individualisme yang fanatik tetapi gampang merelatifkan segala sesuatu. Yang menjadi patokan moral bukan lagi sesuatu yang mutlak tetapi “selera” diri sendiri. Setiap orang bebas menentukan kaidah baik buruk. Patokan dan penentu hidup bukan lagi Tuhan. Nurani pun semakin tumpul. Sebagai “barometer”, dalam kenyataan cukup banyak orang yang tidak merasa berdosa ketika tidak ke Gereja pada hari Minggu, tetapi akan merasa berdosa ketika melewatkan episode sinetron kesayangannya. Ada orang yang merasa rugi ketika meluangkan waktunya untuk hal-hal sosial, tetapi akan merasa rugi karena melewatkan kesempatan menggelapkan sisa anggaran proyek. Otoritas-otoritas dari pihak luar semakin sulit memasuki seseorang, tetapi di sisi lain banyak orang gampang diombang-ambingkan oleh tawaran-tawaran rendah. Dunia kita semakin luas, tetapi kita terasing di dalamnya. Hiruk-pikuk sekitar kita semakin nyaring, tetapi kita menjerit dalam kesepian kita. Pengetahuan kita semakin luas, tetapi kita semakin kering dalam kebijaksanaan dan kearifan. Orientasi hidup kita pun semakin kabur.
            Sebagai suatu bentuk kompensasi, perjuangan hidup kita pun banyak terfokus untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya demi suatu prestise yang semu. Akibatnya segala egoisme, kenekatan dan harga diri yang palsu pun menggantikan nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, integritas, kesederhanaan dan keutamaan-keutamaan lain. Hidup kita pun banyak berujung pada kekeringan dan kedangkalan. Hidup terasa tidak bermakna karena tidak mempunyai pijakan.
            Uraian di atas barangkali merupakan suatu kesimpulan yang tergesa-gesa. Akan tetapi hal itu sedikit banyak telah kita alami dan saksikan sendiri dalam kehidupan kita. Kita harus jujur mengakui bahwa hidup kita sungguh dirusak oleh dosa. Kita menderita karena dosa dan kita harus percaya bahwa dosa itu membawa kematian. Dosa membawa kematian, sebab upah dosa ialah maut (Rm 6:23). Ketika bekas kamp-kamp konsentrasi Auschwitz akan dibongkar orang-orang Yahudi mengungkapkan keberatannya: “Biarlah tempat itu tetap menjadi tugu sebagai bukti supaya setiap orang tahu bahwa dosa manusia itu memang berujung pada kematian.” Kita akan lenyap karena dosa-dosa kita. Dosa itu membawa kita kepada kematian.

Allah Datang Menyelamatkan Kita
            Rupanya Allah tidak membiarkan kita binasa oleh dosa-dosa kita. Inilah Kabar Baik bagi kita. Ia datang ke dunia kita yang gelap supaya kita mendapat terang. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:16-17).
            Allah menanggapi kehausan kita. Ia menyelamatkan kita dan menjadikan semuanya baik seperti sediakala. Ia ada di tengah-tengah kita untuk membuat kita dapat kembali memancarkan kemuliaan-Nya. Tuhan telah datang untuk menyelamatkan kita. Ia hendak memulihkan hakikat kita kembali sebagai anak-anak-Nya.

Kita Merasa Tidak Membutuhkan Penyelamat?
            Adalah hal yang amat ironis ketika kita tidak mengetahui dan mengenal Penyelamat kita. Kita merasa tidak membutuhkan penyelamat. Di tengah jeritan kita akan suatu keluhuran makna hidup, kita tetap merasa mampu menyelamatkan hidup kita. Kita tidak mampu mengakui ketidaksanggupan manusiawi kita. Kita malu untuk mengakui segala keberdosaan dan kerapuhan kita. Sebaliknya, kita merasa mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita merasa mampu hidup tanpa Tuhan. Dan satu hal yang lebih parah adalah kita tidak mau dikatakan sebagai orang berdosa. Kita tidak merasa diri berdosa. Atau kita tidak merasa bahwa dosa itu akan membawa kita kepada kematian.
            Ketika kita merasa tidak berdosa atau tidak melihat dosa sebagai hal yang mematikan maka kita pun tidak akan pernah mengerti apa itu penebusan. Tidak ada dosa berarti tidak ada penebusan. Dalam situasi seperti ini, Natal memang tidak bermakna bagi kita. Kelahiran Kristus tidak menggaungkan apa-apa di hati kita. Natal tidak bergema karena kita merasa tidak perlu diselamatkan. Sungguh malanglah kita yang tidak mengetahui apa yang paling penting untuk kebahagiaan kita. Sungguh malanglah kita yang merasa tidak membutuhkan penyelamat (bdk. Mat 23:36-38).

Kita Harus sunguh Harus Ditebus dari Dosa-dosa Kita
            Kebutuhan kita akan Penyelamat ditutupi oleh gunung kesombongan kita. Sungguh ironis akhirnya kita tidak tahu apa yang perlu untuk kebaikan dan keselamatan kita.  “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:10-11). Tuhan datang kepada milik-Nya tetapi milik-Nya menolak Dia. Kita tidak sudi menerima-Nya. Sang Penyelamat datang, tetapi tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20) sehingga lahir pun ia mesti di kandang domba (Luk 2:7). Alangkah malangnya kita ketika kita menolak apa yang paling kita butuhkan. Nubuat nabi Yesaya telah mengawaskan hal ini sejak dahulu, ketika Allah bersabda melaluinya: "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya" (Yes 1:2-3). Sepertinya kita lebih ­in dengan diri kita sendiri dengan segala keberdosaannya. Kita hanya bersandar pada diri kita sendiri daripada kepada Allah. Oleh karenanya kita tinggal dalam kegelapan (bdk. Bil 11:4-6).

Mari Menyambut Penyelamat         
            Mari menyambut Tuhan, Sang Penyelamat. Kedatangan-Nya telah kita tunggu-tunggu sekian lama dengan kehausan yang luar biasa. Ia kini telah datang. Ia membarui diri kita dan mengembalikan kita ke kodrat kita sebagai anak-anak-Nya. Ia menebus kita dari keberdosaan kita, mengangkat kita dari ketidakberdayaan kita. Kita pun diberi kekuatan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Ia ada di antara kita dan menjadi seperti kita. Karena Ia telah ada bersama kita, maka kita pun menjadi tubuh mistik-Nya. Allah kini telah bersabda langsung melalui Putera-Nya, Sang Sabda yang menjelma. Sabda itu telah menjelma dalam Gereja yang adalah tubuh mistik-Nya. Di dalam diri kita masing-masing, Sang Sabda telah menjelma. Kita telah ditebus dari dosa-dosa kita. Mari kita mengungkapkan keterpesosanaan kita dengan ikut serta mengumandangkan nyanyian para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Luk 2:14). Tuhan, karya keselamatan-Mu sungguh mengagumkan.”

Penutup
            Dikisahkan bahwa seorang kaya mengundang sanak saudara dan kenalannya untuk merayakan kelahiran puteranya. Makanan dan minuman telah disiapkan sedemikian dengan segala variasi dan kelezatannya. Rumah dihias seindah mungkin. Para pemain musik pun telah bersiap-siap untuk mengisi pesta itu. Para pelayan pun tidak ketinggalan dalam kesiagaannya untuk melayani para tamu. Pendek kata, pesta itu adalah benar-benar pesta yang disiapkan. Pada waktunya para tamu pun berdatangan. Minuman pembuka disuguhkan menemani percakapan ringan. Makin lama pesta itu makin ramai dan penuh senda gurau dan tawa ria. Hidangan makan malam pun dibuka. Semua tamu sungguh menikmati pesta itu. Lezatnya makanan sepertinya membuat udara rasanya panas. Beberapa tamu membuka jasnya dan meletakkannya di atas sofa atau di mana saja rasanya layak. Usai bersantap malam, minuman-minuman “berkualitas” pun disuguhkan untuk menemani silaturahmi dan tawa ria para tamu. Menjelang dini hari para tamu mulai pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Beberapa orang bahkan sampai mabuk dan kebanyakan tamu pulang dengan perut kekenyangan yang akan disambut dengan “tidur meriah”. Seorang tamu yang pulang belakangan bertanya: “Di manakah gerangan sang bayi yang baru lahir?” Sang tuan rumah bagai disentak petir langsung bergegas ke keranjang bayinya yang ada di sudut ruangan di belakang sofa. Mereka menemukan sang bayi tertutupi sepotong jas tamu yang berkunjung tadi. Tubuh si bayi telah dingin tak bernyawa karena tertutupi jas tersebut. Pesta itu pun berakhir fatal. Suatu pesta yang ironis. Mungkinkah perayaan-perayaan Natal kita dengan segala kesemarakannya seperti kisah ini?

            Natal bukanlah seremoni belaka tetapi suatu momen dan peristiwa keselamatan. Tuhan datang untuk menyelamatkan kita; menebus segala dosa yang kita. Kita tidak akan mengalami kematian akibat dosa, tetapi justru mengalami kehidupan karena kita telah diselamatkan oleh penebusan Kristus yang lahir di kandang Betlehem. Karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm 6:23). Janganlah Dia ditutupi oleh segala pernak-pernik kesombongan kita. Yesus kiranya jangan digantikan oleh sinterklas. Malam Kudus yang agung kiranya jangan digantikan oleh hiruk-pikuk yang tidak bermakna. Selamat Natal!
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting