Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Dunia Merupakan Sarana Pemurnian Manusia dalam Menyambut Tuhan (Luk 17: 26-37)

Di zaman modern ini banyak orang sibuk dengan berbagai kebutuhan badani, yang membuat orang lupa kepada penciptanya. Manusia sibuk dengan diri sendiri, hanyut dengan kenikmatan duniawi dan selalu tidak puas dengan apa yang sudah diperoleh.
 Dalam injil dilukiskan kisah Nuh (ay. 26). Di zaman Nuh banyak orang sibuk akan hal-hal dunia, hidup glamor dan tidak peduli akan hari dan saatnya Tuhan datang (Kej. 6), begitu juga dengan di zaman Lot orang lupa kepada Tuhan (Kej 19). Kisah Nuh dan Lot itu merupakan gambaran cara hidup manusia zaman sekarang yang bersikap acuh tak acuh menghadapi bahaya dan hukuman pada akhir zaman. Sikap acuh tak acuh timbul karena pikiran manusia sudah terformat kepada hal-hal duniawi.
Dalam perikop ini manusia diingatkan supaya jangan melekat dengan harta duniawi. Soal keselamatan jiwa tidak ada sangkut pautnya dengan harta duniawi. Harta duniawi dari dirinya tidak dapat menyelamatkan manusia. Orang yang melekat pada harta miliknya akan berusaha untuk menyelamatkannya dan demi harta ia akan rela kehilangan dirinya. Salah satu contoh adalah istri Lot, terlalu melekat pada harta kekayaannya di Sodom. Sehingga pada saat murka Tuhan menimpa Sodom, ia tidak diselamatkan.
 Yesus memberi contoh berikutnya bahwa bila ada dua orang di tempat tidur yang satu akan dibawa yang lain akan ditinggalkan. Bila ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang yang seorang akan dibawa yang lain akan ditinggalkan. Itu berarti bahwa keselamatan tidak juga ditentukan oleh bagaimana manusia berelasi dengan orang-orang di sekitarnya, bukan juga ditentukan oleh ciri-ciri lahiriah. Keselamatan ditentukan berdasarkan pengetahuan Allah tentang hati manusia.

Dalam keadaan seperti itu Yesus menganjurkan supaya jangan lengah, melainkan hiduplah dalam keadaan siap sedia dan berjaga-jaga. Siap sedia dan berjaga-jaga berarti hidup bijaksana dan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Sikap berjaga-jaga juga berarti selalu menjalin relasi yang baik dengan Tuhan dalam berdoa yang tak jemu-jemu. Orang yang menjalin relasi dengan Tuhan berarti ia hidup dalam Tuhan dan memperoleh keselamatan, ketika Anak Manusia datang. Orang yang hanyut dengan kenikmatan duniawi ini akan dibinasakan pada akhir zaman. 

Fr. Kasimirus Sitompul, OFM Cap
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting