Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Hal Berdoa (Luk 11: 1-4)

Dalam Gereja, ada bermacam-macam cara berdoa yang berhubungan erat dengan perbedaan konteks historis, sosial dan cultural. Bagi kita orang Katolik, doa menjadi sarana menjalin relasi yang intim dengan Tuhan.
Injil hari ini mengetengahkan kepada kita bagaimana Yesus mengajari murid-murid-Nya cara berdoa yang baik dan benar. Yesus tidak hanya mengajar kita berdoa dengan Bapa Kami, tetapi juga ketika Ia berdoa. Dengan cara ini, Dia tidak hanya mengajarkan isi doa, tetapi sikap batin yang perlu untuk doa yang baik dan benar.
Santa Perawan Maria Ratu Rosario yang kita peringati hari ini mengingatkan kita akan ragam doa atau devosi kepada Bunda Maria, salah satunya doa Rosario. Doa Maria dicirikan dengan iman dan persembahan total seluruh keberadaannya kepada Allah. Dia berdoa kepada Yesus untuk kepentingan semua orang. Hal inilah yang menjadikan kita percaya bahwa, doa yang kita mohonkan melalui Bunda Maria akan didengar oleh Puteranya.
Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan “hidup kita harus menjadi doa” dan Santo Gregorius dari Nazianze “kita harus mengingat Allah lebih sering daripada tarikan napas  kita”. Dua ungkapan ini hendak mengatakan kepada kita bahwa, doa tidak dapat dipisahkan dari setiap langkah hidup kita. Lewat doa, kita mensyukuri rahmat dan kasih-Nya yang kita terima setiap hari. Doa kita berdaya guna karena dipesatukan dalam iman dengan doa Yesus. Dalam Dia, doa Kristen menjadi kesatuan cinta dengan Bapa. Buah dari doa adalah tindakan nyata. Maka hendaklah buah-buah dari doa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas doa tidak ditentukan oleh panjang atau pendeknya kata-kata yang kita ucapkan, melainkan sikap rendah hati sebagai pemohon kepada  Tuhan. Marilah menjadikan doa sebagai napas kehidupan kita. Amin.


Fr. Ambrosius Sibagariang OFM Cap

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting