Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Realisasi Penghayatan Persaudaraan Fransiskan Pada Zaman Ini

                                                                     Persaudaraan Menurut KV II

Tampaknya untuk mengerti makna hidup persaudaraan, kita harus mengingat kembali kutipan dari Konsili Vatikan II yang berbunyi: “menurut teladan Gereja Perdana, ketika kelompok kaum beriman hidup sehati dan sejiwa, hendaknya kehidupan bersama bertekun dalam ajaran injil, dalam liturgy dan terutama dalam perayaan Ekaristi, dalam doa serta persekutuan semangat yang sama. Bahkan persekutuan para saudara menunjukan kedatangan Kristus yang padaNya terdapat sumber daya kekuatan merasul yang besar.
            “Perfecte Caritatis” menampilkan persekutuan dimana orang beriman sehati dan sejiwa; persekutuan dimana orang “berada sebagai satu keluarga yang berkumpul dalam nama  Tuhan”, merupakan rahmat dan pemberian Allah.

Persaudaraan Fransiskus
            “Santo Fransiskus karena ilham Allah memulai satu cara hidup seturut injil, yang disebutnya sendiri sebagai persaudaraan dan yang mencontoh cara hidup Kristus bersama rombongan para murid”. Fransiskus menetapkan bahwa anggaran dasar dan cara hidup saudara-saudara dina ialah menaati injil suci Tuhan kita Yesus Kristus, dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam  kemurnian.[1]



Para Saudara di Dunia
Dalam konstitusi, kita diingatkan: “Penuh kegembiraan karena dinia yang diciptakan, santo Fransiskus merasa dipersatukan oleh ikatan persaudaraan dengan seluruh ciptaan, sebagaimana telaha ditampakannya dengan pujian yang mengagumkan dalam kidung saudara matahari. Denagn demikian kita hendaknya hadir dan bekerja untuk perdamaian dunia dan Gereja, dalam cinta kasih, kerendahan hati, kegembiraan, dan semangat persaudaraan Fransiskan.[2]

Persaudaraan Menurut Zaman Ini
           
Dalam konstitusi dikatakan: “ Menurut semangat santo Fransiskus hendaknya  kita jangan hanya mengucapkan damai dan keselamatan dengan mulut saja, melainkan juga meluaskan dengan perbuatan yang dijiwai oleh cinta persaudaraan. Terdorong oleh semangat ini, hendaknya kita berusaha saling mendekatkan orang yang terpisah oleh kebencian dan iri hati, atau karena perbedaan pandangan, golongan, suku atau bangsa, serta mendorong mereka agar tetap hidup rukun dan damai dalam semangat injil.[3]
Seiring perkembangan zaman, makna hidup para saudara-saudara fransiskanpun memiliki pola hidup tersendiri, yang mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, tidak jarang ditemukan suatu gaya persaudaraan yang tidak lagi sesuai dengan semangat fransiskan. Tidak jarang terjadi pengelompokan dan pemisahan-pemisahan yang dapat memecah belah-kan persaudaraan.
            Memang persaudaraan harus terbuka terhadap perkembangan zaman, namun, kita  harus kritis mengenai keterbukaan ini. Keterbukaan yang dimasud disini ialah keterbukaan yang sehat, artinya keterbukaan kita terhadap zaman hendaknya menyadarkan kita bahwa di zaman sekarangan ini persaudaraan sangatlah rapuh, oleh karena itu perlulah kiranya kita saling membenahi diri agar persaudaraan kita, persaudaraan fransiskan, terutama persaudaraan kapusin, dapat dipertahankan, sehingga makna persaudaraan tidak hanya menjadi  bunga-bunga konstitusi saja, melainkan nyata dalam hidup kita, sehingga kita dapat memberikan kesaksian Iman kita kepada orang lain dengan teladan hidup kita.
            Memang secara manusiawi sangatlah sulit untuk melakukan hal-hal di atas. Namun haruslah kita sadari bahwa lasan-alasan yang sangat manusiawi sekalipun, tidaklah boleh menjadi suatu alasan bagi kita untuk mengabaikan apa yang telah dipesankan oleh bapa  kita St. Fransiskus Assisi.
Realitas Persaudaraan Fransiskan dalam Komunitas pada Zaman Ini
            Jika kita mau berbicara jujur mengenai realitas persaudaraan kita sekarang ini, maka saya rasa kita harus mengakui bahwa hidup persaudaraan kita sangat jauh dari apa yang dicita-citakan oleh Bapa kita St. Fransisus. Tidak jarang dalam suatu freternitas, terdapat suatu masalah yang membuat persaudaraan dalam fraternitas tersebut menjadi renggang. Sangat disayangkan pula bahwa, tidak jarang penyebab renggangnya persaudaraan tersebut, disebabkan oleh masalah yang berawal dari hal-hal yang “sepele” yang seharusnya tidak perlu untuk di permasalahkan. Pada umumnya besarnya masalah ini, disebabkan adanya perasaan curiga dan iri hati, sehingga orang lain yang mungkin juga anggota persaudaraan, dengan mudah dapat mempropokasi atau mengadu domba para saudara, dengan cara menambah-nambah cerita, dan sebagainya. Hal ini tentu sangat berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh St. Fransiskus, yakni persaudaraan universal.
            Pada umumnya alasan terjadinya konflik dalam suatu komonitas atau persaudaraan ialah perbedaan; baik perbedaan suku, bahasa, pendapat, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Kita harus sadar bahwa perbedaan yang terdapat dalam suatu persaudaraan haruslah kita syukuri dan kita pandang sebagai perbedaan yang saling melengkapi. Sebab setiap orang pastimemiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri, dan untuk itu kita dipersatukan sebagai saudara di dalam persaudaraan ini untuk bersatu dan saling melengkapi, sehingga kita dapat merasakan kehadiran saudara dalam persaudaraan kita, sebagai rahmat persaudaraan.
Prinsip Hidup Sebagai Saudara Fransiskan
            Sebagai seorang fransiskan, kita harus memiliki prinsip bahwa; setiap saudara yang diberikan Allah kepada kitamerupakan suatu anugerah. Kenyataan ini, menuntut para saudara, dengan tanggung jawab membara dan sabar, agar setiap hari membaharui diri dengan bebas untuk menerima dan melekatkan diri pada anugrah Allah itu: “setiap saudara, yang diberikan Allah bagi persaudaraan, menggembirakan dan juga mendorong kita untuk memperbaharui diri dalam semangat panggilan kita”.

Penutup
            Melihat cara hidup kita sekarang ini, maka kita sebagai anggota fransiskan, perlu untuk berefleksi diri dan menyadari kekurangan kita serta berusaha untuk memperbaikinya dengan iman, seturut teladan Bapa kita St.  Fransiskus Assisi.
            Sebagai saudara fransiskan hendaknya kita mampu bersaudara dengan semua orang serta menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri orang lain, juga bersaudara dengan seluruh makhluk ciptaan, sebagaimana yang diharapkan oleh St. Fransiskus Assisi. Dengan itu kata, “persaudaraan” tidak lagi tinggal sebagai  bumbu-bumbu dalam konstitusi, melainkan nyata dalam hidup kita sebagai anggota fransiskan, sehingga kita sungguh-sungguh dapat menjadi rahmat bagi semua orang dan dunia. (Fr. Pedro Ramses Lumban Gaol OFM Cap)



                                                                                                                                                                                                               


________________________________________
[1].Peraturan Hidup Saudara Dina kapusin, Roma, 1982 , no.83
[2].Peraturan Hidup …, no.97
[3].Peraturan Hidup …, no. 79.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting