Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Pergilah ke Tempat ke Mana Roh Allah Menuntunmu

Fr. Michael Aritonang
1.    Perjalanan Menuju Flores
Awal keberangkatan menuju Flores, sungguh suatu pengalaman yang sangat menakutkan karena ini merupakan perjalanan pertama bagiku menuju tanah rantau. Hal yang lebih menakutkan lagi adalah karena saya akan berangkat sendiri dengan bermodalkan tiket pesawat yang sudah ada di tangan. Seandainya saya berangkat bersama seorang teman, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Ditambah lagi gambaran tentang Flores yang saya dapatkan selama ini, yang merupakan tanah yang tandus dan gersang membuat batinku semakin bergejolak, apakah saya mampu hidup di tengah situasi yang demikian atau tidak. Tetapi satu hal yang selalu saya ingat adalah bahwa saya pergi ke Flores bukan karena permintaan saya sendiri, melainkan karena tugas perutusan. Maka tugas perutusan itu harus saya laksanakan sebaik mungkin.
Sebelumnya, saya diberangkatkan oleh keluarga asal sebagaimana biasanya dilaksanakan oleh orang Batak ketika memberangkatkan seseorang ke tempat rantau. Minggu malam setelah acara
pemberangkatan dari rumah keluarga dan dari Yohaneum, saya beranjak menuju kamar tidur. Di
tempat tidur saya mulai berpikir yang aneh-aneh tentang perjalanan saya menuju Flores mengingat banyaknya peristiwa yang terjadi dengan pesawat baru-baru ini. Tetapi kemudian saya menyerahkan diri kepada Tuhan dan berdoa, bila saya memang harus menghadap Sang Khalik dengan cara demikian, saya sudah siap. Terjadilah padaku menurut kehendak-Nya. Keesokan harinya, sebelum berangkat, P. Kristof Jansen OFMCap memimpin Misa perutusan untuk memberangkatkan saya. Dengan singkat beliau mengatakan bahwa pergi ke tanah orang dengan meninggalkan adat-istiadat dan kebiasaan di tempat sendiri, demi Kerajaan Allah, adalah menjadi tugas kita sebagai orang yang dipanggil sebagai Kapusin. Maka, jangan takut akan segala sesuatu. Kata-kata ini meneguhkan langkah saya untuk semakin mantap menuju Flores.
Hari Senin tanggal 07 September 2015, pukul 12.30 WIB adalah jadwal keberangkatan yang telah ditentukan. Setibanya di bandara F. L. Tobing, Pinang sori, saya bersama Br. Yustinus Waruwu OFMCap langsung menuju ruang check-in. Setelah itu saya langsung menuju ruang tunggu di dalam bandara. Setelah menunggu kira-kira 45 menit, kami, para penumpang, sudah mulai gelisah karena waktu yang telah ditentukan telah lewat, tetapi pesawat belum juga mendarat. Akhirnya pukul 13.30 WIB terdengar suara dari speaker yang mengatakan bahwa seluruh penerbangan pada hari itu dibatalkan karena kabut asap. Setelah segala sesuatu yang berkaitan dengan pembatalan penerbangan selesai diurus, saya pun kembali lagi ke Yohaneum.
Akhirnya tanggal 08 September 2015 pesawat bisa mendarat meskipun cuaca masih belum baik. Tepat pukul 17.00 WIB pesawat kami terbang dari bandara Pinangsori dan mendarat di Kualanamu-Medan pada pukul 18.55 WIB. Dari Kualanamu kami berangkat pukul 21.00 WIB menuju bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, dan tiba di sana pukul 23.30 WIB. Di bandara Soekarno-Hatta, saya beristirahat di ruang tunggu bandara sambil menunggu waktu yang tinggal beberapa jam lagi untuk check-in. Tanggal 09 September 2015 pukul 04.30 saya check-in lalu sarapan. Pukul 06.30 WIB kami berangkat dan tiba di bandara I. Ngurah Ray Bali pukul 09.30 WITA. Pukul 11.55 WITA kami berangkat menuju bandara Labuhan Bajo-Flores dan tiba di sana pukul 13.15 WITA. Pukul 13.30 WITA kami berangkat dan tiba di bandara Ende-Flores pukul 15.20 WITA.
Setibanya di Ende, saya dijemput oleh sekretaris paroki Were, Yoman Molo dan kami tiba di paroki Were pukul 20.15 WITA. Keesokan harinya saya berangkat menuju Seminari St. Yohanes Brekhmans-Mataloko-Flores dan disambut oleh anak-anak seminari dan frater pendamping. Malam harinya saya langsung bertemu dengan wakil praeses (wakil pimpinan seminari), Rm. Kristoforus Betu Pr untuk membicarakan beberapa hal yang perlu menyangkut seminari dan gambaran singkat tentang tugas-tugas saya selama di seminari.
Beberapa hari setelah tiba di Flores, saya merasakan kebosanan yang sungguh tak terkatakan dan juga tugas-tugas yang rasa sungguh sangat berat. Saya mulai bosan dengan segala aktivitas yang ada, terutama bila berhadapan dengan tugas untuk mendampingi para seminaris dari bangun pagi hingga doa malam, mulai dari hari Senin sampai dengan hari Minggu. Ditambah lagi karena cuaca yang cukup dingin membuat segala sesuatu menjadi sangat berat dan membosankan.

2.    Refleksi
Perjalanan yang saya tempuh sejak dari Sibolga sampai ke Flores memakan waktu kurang lebih satu hari satu malam. Dalam rangka perjalanan itu, saya menemukan beberapa hal yang patut saya refleksikan dalam kehidupan ini. Pertama, bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Keberangkatan awal memang dijadwalkan pada tanggal 08 September 2015. Entah karena alasan apa, maka dimajukan menjadi tanggal 07 September 2015. Tetapi rancangan manusia tidak sama dengan rancangan Allah. Pada akhirnya keberangkatan terjadi pada hari Selasa, 08 September 2015 pukul 17.00 WIB.
Kedua, dalam setiap perjalanan hidupku, Allah mendampingi, menemani dan memberikan yang terbaik bagiku.Perjalanan seorang diri menuju tempat yang jauh dengan pesawat merupakan sesuatu yang baru bagiku. Maka, setiap kali saya mengalami kebingungan, saya pertama-tama berdoa baru bertindak. Syukurlah Tuhan selalu mengutus orang-orang yang siap sedia menjadi tempatku untuk bertanya. Baik dalam pesawat maupun pada saat beristirahat di bandara saya selalu menemukan orang-orang yang bisa diajak untuk bercerita bersama sehingga sedetik pun saya tidak mengalami kesepian. Bagiku, Tuhan itu tak pernah jauh dariku. Dia hanya sejauh doa dan doa dapat mengubah segala sesuatu.
Ketiga, Bunda Maria selalu berdoa bagi siapa saja yang datang memohon pertolongannya. Pada hari di mana saya memulai perjalanan, Gereja Katolik memperingati hari kelahiran Santa Perawan Maria. Maka, selama perjalanan, saya mendoakan doa Salam Maria dan dalam pesawat saya selalu berdoa Rosario. Untaian manik-manik Rosario tidak pernah lepas dari tanganku. Saya merasa bahwa pendampingan dan doa-doa Bunda Maria sungguh-sungguh nyata dalam hidupku. Dia selalu siap sedia membantuku dalam berbagai macam persoalan hidup.
Satu hal yang selalu saya ingat berkaitan dengan tugas perutusan ini adalah bahwa saya harus selalu siap sedia diutus kemana pun Roh Allah mengutus saya. Dengan ini saya berkeyakinan bahwa Allah yang mengutus aku, akan selalu menyertai dan memeliharaku. Dia pasti akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Dengan keyakinan ini, saya mulai mencoba untuk tetap bergembira meskipun situasi terkadang membuat saya merasa bosan dan terbebani. Dan sekali lagi saya yakin, segala sesuatu akan indah pada waktunya; sebab barangsiapa setia dalam perkara kecil, akan setia juga dalam perkara yang besar. (Fr. Michel Aritonang).
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting