Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Pelayan Mulia Berasal dari Kerendahan Hati (Mat 1:1-16. 18-23)

Bacaan injil pada hari ini mengingatkan kita akan budaya Batak Toba yang patrilineal. Patrilineal maksudnya adalah garis keturunan dihitung dari pihak laki-laki atau ayah. Tradisi ini sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian garis keturunan sampai generasi terakhir dapat dihitung. Tradisi Yahudi juga demikian, garis keturunan dihitung dari pihak laki-laki (patrilineal). Tujuannya adalah supaya keturunan dari satu nenek moyang terkumpul, tidak tercerai berai, dapat dihitung dari generasi ke generasi, tidak ada yang hilang. Demikianlah bacaan injil pada hari ini garis keturunan dihitung mulai dari Abraham sampai kepada Yusuf suami Maria. Dari garis keturunan ini diketahui bahwa Yesus  adalah anak Abraham dan anak Daud.
 Saudari-saudara pada hari ini Gereja Kudus memestakan kelahiran Santa Perawan Maria. Pesta ini untuk menghormati santa Perawan Maria, merenungkan sikap yang ditunjukkan bunda Maria atas panggilan Allah. Maria merupakan teladan bagi umat beriman/gereja. Maria adalah anak Yoakim dan Hana. Maria ibu Yesus, berasal dari Nazaret sanak Elisabet. Ketika anak dara ini dilahirkandunia menjadi terang. Kelahirannya membawa kegembiraan bagi dunia, darinya lahir Mesias, Sang juruslamat. Maria adalah manusia beriman, iman dan ketaatannya kepada Allah sungguh sempurna. Ia adalah perawan suci yang rendah hati, ia dipilih, disucikan, dibenarkan oleh Allah yang Kudus. 
Dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, Paulus dengan lantang mengatakan bahwa Allah mendatangkan kebaikan dan jaminan keselamatan kepada semua bangsa. Allah yang memanggil, menetukan, Allah berinisiatif untuk karya keselamatan itu. Dalam karya keselamatan itu Maria dibenarkan, Maria berkenan di hati Allah. Maria yang penuh rahmat dipilih oleh Allah menjadi bunda Yesus. Allah membenarkan Maria, menguduskan, menyucikannya dari dosa asal. Sehingga ia layak menjadi bunda putra-Nya. Maria adalah pembantu, penolong, perantara kita kepada Kristus, menjadi mediatrik untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah. Demi kelengkapan sebuah keluargaAllah memilih Yusuf mendampingi Maria untuk mendidik dan melawat Tuhan.
Dalam bacaan injil dikatakan bahwa sebelum beranjak kepelaminan, Maria sudah mengandung, peristiwa ini sungguh mengusik hati Yusuf dan ia berniat menceraikan Maria. Tetapi Yusuf dalam injil dilukiskan sebagai orang yang rendah hati, tulus, tidak mau mencemarkan nama baik calon permaisurinya. Ia bermaksud menceraikan istrinya dengan cara diam-diam. Tatkala ia menimbang-imbang maksud itu, Yusuf mendapat penglihatan dari malaikat Tuhan dalam mimpi. Peristiwa itu mengubah cara berpikir Yusuf dengan tanpa ragu ia mengurung niat itu dan menerima Maria menjadi istrinya. Yang menarik dari sikap Yusuf adalah ia mau mendengar dengungan suara Tuhan dan melaksanakannya. Ia tidak menimbang-nimbang akibat dari tindakannya, ia langsung bertindak dan menyerahkan segalanya kepada penyelenggaraan Allah.  Kehadiran Yusuf melengkapi keluarga kecil dari Nazaret. Ia membantu Maria mengurus, mengajari, mendidik Yesus.
Sikap Yusuf dan Maria sesungguhnya sikap Kristen sejati. Sikap seorang Kristen menjadi pelayan, mengandalkan Tuhan dalam hidup harian, ikut ambil bagian dalam karya keselamatan. Orang Kristen itu seyogianya harus bersikap rendah hati. Menjadi pelayan bagi masyarakat, pelayan bagi keluarga, pelayan bagi anak, suami, dan juga orang lain. Suami menjadi pelayan bagi istri, anak dan orang lain. Sikap pelayan itu adalah rendah hati, sabar, memberi diri, tidak pemarah, sebagaimana Maria menjadi pelayan bagi Tuhan.  Tentu dasar dari segalanya itu adalah harus berpegang teguh pada kehendak Tuhan. (Fr. Kasimirus Sitompul OFM Cap)


Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting